Farah menata buket bunga dengan hati-hati, memastikan setiap kelopak tidak rusak. Cahaya matahari pagi menyinari ruang makan, menyoroti aroma bunga yang hangat dan segar. Ia menundukkan kepala sesaat, menenangkan pikirannya, lalu memandang sekeliling ruangan. Amanda duduk tidak jauh, matanya masih mengawasi Farah dengan tajam. Sabrina duduk di kursi rodanya, tangan di atas meja, wajahnya datar namun matanya menyoroti setiap gerakan Farah. Farah menyesap teh hangat, merasakan setiap tegukan menenangkan sarafnya yang tegang. Ia tahu, hari ini akan penuh dinamika. Kehadiran Amanda yang jelas masih menyimpan rasa cemburu membuatnya harus selalu waspada. Ia menatap buket bunga di pangkuannya, menarik napas dalam, lalu menoleh ke arah Sebastian yang baru saja masuk dari ruang kerja. Pria itu me

