Pagi berikutnya datang dengan suasana yang tidak jauh berbeda, hanya lebih sunyi. Farah terbangun sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia duduk di tepi ranjang, memandang kamar yang masih terasa asing meski sudah beberapa hari ia tempati. Setiap sudut rumah ini menyimpan tekanan yang tak kasat mata. Dan hari ini, ia merasa sesuatu akan terjadi. Ia bersiap perlahan, memilih gaun berwarna lembut, tidak mencolok, tidak menantang. Penampilannya harus tetap aman. Saat turun ke lantai bawah, ruang makan sudah terisi. Sabrina duduk di kursi rodanya di posisi utama. Amanda duduk tak jauh darinya. Beberapa pelayan bergerak cepat menyajikan sarapan. “Selamat pagi, Nek,” sapa Farah sopan. Sabrina menoleh singkat. “Pagi.” Amanda hanya melirik sekilas lalu kembali menyesap kopinya, seolah Farah tidak

