Malam berlalu dengan gelisah. Farah tidak langsung tertidur meski tubuhnya terasa lelah. Pikirannya terus bekerja, menyusun ulang setiap percakapan, setiap tatapan, setiap perubahan kecil yang ia rasakan sejak kembali ke rumah itu. Ia menatap langit-langit kamar yang remang, mendengarkan suara langkah pelayan yang sesekali melintas di lorong. Rumah ini tak pernah benar-benar tidur. Selalu ada mata, selalu ada telinga. Saat pagi menjelang, Farah akhirnya terlelap sebentar sebelum terbangun oleh cahaya matahari yang menyusup lewat celah tirai. Ia bangun perlahan, membiarkan dirinya duduk beberapa menit di tepi ranjang. Hari ini ia harus lebih waspada. Ia sudah mulai menarik perhatian, dan itu berarti kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Ia bersiap tanpa tergesa, memilih pakaian

