Pagi berikutnya datang dengan hujan tipis yang jatuh sejak subuh. Suara rintiknya membentuk irama pelan di jendela kamar, membuat suasana terasa lebih berat dari biasanya. Farah terbangun dengan perasaan waspada yang tidak sepenuhnya hilang sejak malam sebelumnya. Ada sesuatu yang mengendap di udara rumah itu—bukan kemarahan, bukan juga ketenangan—melainkan penantian. Ia bangkit dari ranjang dan berdiri sejenak di depan jendela, menatap taman yang basah. Daun-daun mengilap oleh air hujan, tanah tampak lebih gelap. Segalanya terlihat bersih di permukaan, padahal ia tahu, di bawahnya tetap ada akar-akar yang saling melilit, saling berebut ruang. Saat turun ke bawah, suasana rumah lebih sepi dari biasanya. Tidak ada suara televisi. Tidak ada percakapan ringan pelayan. Seolah semua orang mem

