Pagi berikutnya terasa lebih berat, seolah rumah itu sendiri menyimpan napas panjang yang belum dilepaskan. Farah bangun dengan kepala jernih namun d**a yang sedikit sesak. Malam tadi ia hampir tidak tidur, bukan karena takut, melainkan karena pikirannya terus bekerja, menyusun kemungkinan, menimbang langkah. Ia tidak lagi bereaksi. Ia merencanakan. Ia bersiap dengan sederhana. Gaun berwarna abu muda, rambut diikat rapi. Tidak ada riasan berlebih. Ia tidak ingin terlihat mencolok, tapi juga tidak ingin tampak rapuh. Saat turun ke bawah, aroma kopi sudah tercium. Sebastian berdiri di dekat jendela ruang makan, memeriksa ponselnya. “Kau bangun lebih awal,” katanya saat melihat Farah. “Aku terbiasa,” jawab Farah. Sebastian menatapnya sejenak. “Aku akan ke kantor agak siang hari ini.” Far

