Bab 46

1020 Kata

Pagi datang dengan cahaya pucat yang menembus tirai kamar. Farah terbangun dengan perasaan waspada namun terkendali. Hujan semalam menyisakan aroma tanah basah yang samar masuk melalui jendela. Ia bangun lebih awal, bukan karena gelisah, melainkan karena pikirannya telah menetapkan urutan langkah untuk hari ini. Tidak ada lagi ruang bagi keraguan. Ia bersiap seperti biasa, sederhana dan rapi. Di lantai bawah, rumah masih lengang. Farah menyeduh teh sendiri, lalu duduk di meja makan tanpa tergesa. Beberapa menit kemudian, Lina muncul membawa roti panggang. “Nyonya, Tuan Sebastian meninggalkan pesan. Beliau akan pulang lebih malam,” kata Lina. Farah mengangguk. “Terima kasih.” Setelah sarapan, Farah menuju perpustakaan. Ia tidak berniat mencari apa pun, hanya ingin mengamati. Ia duduk di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN