Malam itu berakhir tanpa tidur nyenyak bagi Farah. Pagi datang terlalu cepat, membawa cahaya pucat yang menyelinap ke balik tirai. Ia bangun dengan kepala berat, bukan karena lelah fisik, melainkan karena pikirannya yang dipenuhi potongan informasi yang belum menyatu. Buku catatan Sarah masih tergeletak di meja samping ranjang. Farah menatapnya lama sebelum akhirnya memasukkannya kembali ke laci, mengunci, lalu menyimpan kuncinya di saku gaun rumah yang ia kenakan. Ia turun ke lantai bawah lebih awal. Rumah terasa lebih lengang tanpa kehadiran Sebastian. Para pelayan bergerak seperlunya. Sabrina sudah berada di ruang duduk belakang, menatap taman dengan wajah datar. Farah menghampiri dengan langkah pelan. “Nek,” sapa Farah. Sabrina menoleh. “Kau tampak kurang tidur.” “Sedikit,” jawab F

