Bab 49

1022 Kata

Pagi berikutnya datang tanpa hujan, tetapi udara masih terasa berat. Matahari muncul malu-malu di balik awan tipis, cahayanya menyelinap ke dalam kamar Farah melalui celah tirai. Ia terbangun lebih awal dari biasanya, bukan karena suara atau gangguan, melainkan karena pikirannya yang tak berhenti bekerja. Pesan anonim semalam masih terngiang jelas di kepalanya. Kalimat singkat itu seperti jarum kecil yang terus menusuk, mengingatkannya bahwa permainan ini belum selesai. Farah bangkit dari ranjang dan duduk sejenak, mengatur napas. Ia tidak boleh terlihat gelisah. Tidak sekarang. Tidak di rumah ini. Ia melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu berdiri cukup lama di depan cermin. Bayangan wajahnya terlihat tenang, tapi matanya menyimpan kewaspadaan yang semakin tajam. Ia menyadari s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN