Pagi berikutnya dibuka dengan hujan tipis yang turun sejak subuh. Langit abu-abu menggantung rendah, seolah ikut menekan suasana rumah besar itu. Farah berdiri di depan jendela kamarnya, menatap taman yang basah, dedaunan berkilau terkena air. Ada perasaan aneh di dadanya—bukan takut, bukan juga tenang. Lebih tepatnya, kesiapan. Seperti seseorang yang tahu hari ini akan membawa perubahan, entah ke arah mana. Ia bersiap dengan rapi, mengenakan gaun berwarna biru pucat, sederhana namun anggun. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan tatanan lembut. Ia menatap bayangannya di cermin cukup lama, memastikan ekspresi wajahnya terkendali. Tidak terlalu dingin, tidak terlalu lembut. Ia harus konsisten. Sarah yang baru. Bukan yang dulu diinjak-injak, bukan pula yang terlalu tajam hingga memancing seran

