Melisa bingung harus memilih pintu kanan atau kiri. Pintu pertama yang dipilih Melisa hanya berisi tumpukan buku tebal yang tidak menarik untuk dibaca. Pintu kedua ternyata hanya berisi perkakas rumah tangga. Pintu berikutnya malah lebih aneh. Ada yang berisi mainan, hewan pengerat yang hampir mengigit Melisa. Dia sudah lelah membuka pintu satu per satu tapi belum juga menemukan yang sesuai dengan perkiraan. Akhirnya Melisa memutuskan untuk duduk berselonjor di depan daun pintu terakhir yang dipilihnya. Melisa berpikir bahwa setidaknya sebagai teman seperjuangan, Rufus seharusnya memberikan detail mengenai senjata atau paling tidak informasi yang sedikitnya bisa menolong. Namun, apa yang dilakukannya pada Melisa sungguh manis sekali. Rufus hanya menuturkan kisah tragis dengan mimik serius

