Kematian Enggan Menjemput

1033 Words
Untuk beberapa saat Hera menatap patung bunda Maria, tidak ada yang dia katakan baik secara lisan ataupun hati. Gadis berambut indah itu menganggap dirinya tidak memiliki tempat mengadu. Tidak lama kemudian, Hera bangkit dari bersimpuhnya, memutuskan untuk pergi ketempat seharusnya dia berada. Hera pergi tanpa mengatakan apapun pada pendeta yang sejak tadi menatapnya iba. Tatapan yang belum pernah Hera dapatkan. "Nak." Pendeta itu menghentikan langkah Hera yang baru saja keluar dari gereja. Dia berbalik dan menatap pendeta yang berkajalan kearahnya. Pendeta tersebut menyerahkan payung, "hari sudah mau hujan. Kediaman tuan Edmund sangat jauh. Kau memerlukan ini." Hera menatap benda yang pendeta itu sodorkan, tahu kalau Hera tidak akan menerimanya, pendeta itu kembali berujar, "tugasku melayani Tuhan. Dan Tuhan menyayangi semua hambanya, termasuk kau. Kalau aku mengabaikanmu, sama dengan aku mengabaikan perintah Tuhan." Tanpa mengatakan apapun, Hera mengambil payung tersebut kemudian berbalik pergi. "Apa kau tahu dimana kastil tuan Edmun?" Pendeta itu kembali menghentikan langkah Hera. Hera mengangguk tanpa berbalik, kali ini langkahnya sama sekali tidak dihentikan lagi oleh pendeta yang mungkin sedang iba padanya. Dan dia tidak mengharapkan itu. Seperti yang pendeta itu katakan, hari muali gelap karena akan turun hujan. Cuaca di Inggris tidak pernah setia, selalu berubah tanpa menunjukkan tanda-tanda. Setiap orang harus siaga dan membawa pakaian atau benda tambahan untuk melindungi diri jika cuaca mendadak herubah. Seperti saat ini. Hera bohong saat pendeta menanyakan apa dia tahu kastil pria itu. Pada kenyataannya tidak tahu sama sekali dan dia tidak berniat pergi kesana, kastil itu bukan tempatnya. Hera menyusuri setapak yang berbukit dengan kabut yang mulai memgaburkan pandangan. Suara petir dan hembusan angin yang kencang seketika membuat tubuh Hera yang hanya di baluti gaun pernikahan sederhana menggigil kedinginan. Hera menyilangkan tangannya kedada untuk menghantarkan rasa hangat. Kakinya hanya beralaskan flat shoes yang sudah usang, pemberian bibinya tahun lalu saat dirinya ulang tahun yang ke dua puluh dua tahun. Sepatu ini langsung di jahit agar tahan lebih lama. Sebab bibinya tidak bisa selalu membelikan karena pria yang berstatus ayahnya melarang keras hal itu. Hera melangkah dengan tatapan kosong, hatinya hampa, tidak ada satupun emosi kecuali rasa kehilangan terhadap orang yang begiti di cintainya. Andai saat itu dia yang mati maka jauh lebih baik. Karena kekosongan itu, Hera tidak menyadari tubuhnya mulai basah dan langkahnya mulai gontai. Gadis cantik itu belum sempat sarapan, lebih tepatnya tidak ada yang menawarinya. Selain bibinya, tidak ada yang berani membantah tuan besar sang kepala rumah tangga. Ditengah jalan Hera berpapasan dengan beberapa petani yang bekerja untuk Edmund. Semua petani itu menatapnya jijik sambil menjaga jarak, supaya tidak mendapat kesialan. Sudah terbiasa di perlakukan seperti itu, Hera tidak lagi sakit hati. Hatinya sudah sedingin es, seluruh perasaan ikut beku. Tiba-tiba langkah Hera goya, dengan payung yang diberikan pendeta tadi, dia menopang tubuhnya. Berhenti sesaat untuk mengatur napas. Hujan deras mulai mengguyur desa Wishbury, estas milik Edmund. Estat yang paling luas diantara estat yang ada disekitarnya, termasuk estas pria yang berstatus ayahnya itu. Wishbury terkenal akan perbukitan indah, tanah yang subur serta sungai yang memiliki banyak ikan segar yang lezat. Estat ini bergerak di bidang gandum, sayur, kapas, dan juga hewan ternak yang terkenal sehat dan berkwalitas. Darimana Hera tahu? Bibinya. Bibinya mengatakan kalau kekasihnya sangat hebat mengurus estat yang sudah diturunkan secara turun temurun. Ditambah lagi, kekasihnya pintar mencari dan mengelola uang, sehingga usahanya di luar estat berkembang dengan pesat. Saat menceritakan itu, Hera dapat menatap binar bahagia dimata bibinya. Sebagai keponakkan yang begitu mencintai sang bibi, tentu Hera turut bahagia. Selain terkenal dengan apa yang disebutkan diatas tadi, Wishbury juga terkenal dengan lautnya yang indah. Estat itu memiliki tebing tinggi dengan ombak yang menggila. Luasnya laut ini sampai keestat yang lain, tapi tempat yang indah ada di Wishbury. Bukan cuma indah, tapi juga mengerikan, dan kesanalah tujuan Hera. *** Hari sudah malam saat Andrian Edmund menyadari kalau wanita itu belum tiba dikastilnya. Tidak ada perintah apapun darinya sampai makan malam selesai. Polo juga tidak mengingatkan apapun karena tahu pernikahan tuannya dengan gadis pembawa sial itu hanya semata menepati janji pada almarhum kekasih. Diluar hujan sangat deras, malam sangat gelap mencekam. Tidak ada satupun manusia yang mau berada diluar rumah jika cuacanya seperti ini. Polo berjalan keruang utama dimana seorang pelayan dalam keadaan basah kuyup datang dan melaporkan kalau ada seorang wanita berdiri di pinggir jurang dalam keadaan sangat memprihatinkan. Pelayan itu tidak sengaja melihatnya saat kembali dari pelabuhan, saat mencoba mendekatinya, dia tahu kalau wanita itu adalah wanita yang tuannya nikahi hari ini. Mendengar itu Polo langsung melaporkannya pada sangt tuan yang baru selesai makan. Mendengar itu mata Edmund menggelap, tanpa menunggu Polo selesai bicara, dia sudah bangkit dan pergi. Jarak dari kastil ketebing lumayan jauh tapi kalau menggunakan kereta kuda tidak akan memakan waktu lama apalagi kusir melewati jalan setapak yang hanya di lewati oleh sangt tuan. Dipinggir tebing, Hera menatap laut dengan tatapan kosong. Kakinya perlahan semakin mendekati tebing, lebih dari sejam dia berdiri disana. Sebelum lompat dia mengingat jalan hidupnya yang pahit. Mengingat ini membuatnya tidak berharap bertemu siapapun di surga nanti. Surga? Hera tidak yakin masuk surga, Tuhan tidak menyukainya. "Bibi, aku tebus dosaku padamu. Semoga dengan kematianku ..." Tiba-tiba tubuh Hera terdorong jauh dari tebing, gadis itu berguling hingga kepalanya terbentur batu. Yang melakukan itu adalah Andrian Edmund. Edmund menatap sekilas tebing dengan ombak besar yang tampak murka malam ini lalu menoleh pada Hera yang tidak teriak sama sekali setelah kepalanya terbentur batu. Edmund berjalan mendekati gadis itu lalu menariknya herdiri. Tangan kurus mungilnya bisa dipatahkan Edmund dengan mudah, sama sekali tidak bertenaga. Tanpa kata Edmund menyeret Hera menuju kereta. "Biarkan aku mati." Lirih gadis itu. Tubuhnya sudah tidak kuat berdiri begitupun tatapannya yang mulai mengabur. Langkah Edmund terhenti, menoleh dan menatap tajam Hera, dia berkata, "kematian enggan menjemputmu." Hati Hera semakin mendingin mendengar itu walau tubuhnya gemetar. Tanpa perasaan Edmund menyeret Hera masuk kedalam kereta kuda. Dia perlakukan seperti hewan peliharaan yang tidak berharga, sangat sakit tapi Hera mencoba menahan diri. Di Dalam kereta, Hera duduk di sudut, menempelkan tubuhnya pada dinding kereta. Hawa dingin menyeruak masuk ke dalam tulang Hera, di hadapannya Edmund duduk dengan tatapan dingin yang menyiratkan kebencian teramat dalam. "Pembawa sial, nama yang cocok untukmu," ucapnya tanpa perasaan. Hera menunduk dan mengkerut, ingin terisak tapi tidak kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD