Bab 2 | Jadi Bumerang

1569 Words
“Kafyn …. Bagaimana … kamu tega? Kamu tidak mempercayai ucapanku? Aku korban dan sedang dihancurkan oleh saudaraku … Seharusnya kamu membelaku … Menenangkanku dan menyingkirkan dia yang menghancurkan hubungan kita … Kenapa, Kafyn? Kenapa kamu tidak bisa percaya sepenuhnya padaku?” Dara meracau semakin pilu, namun Kafyn tidak sedikit pun menatap ke arah calon istrinya itu. Pria itu justru menatap nyalang ke satu titik, ke arah Kinayang, seolah tengah melakukan pemindaian menyeluruh melalui tatapan lasernya yang membuat Kinayang membatu di tempat. Oh, kini Kinayang bisa merasakan tatapan laser Kafyn Alastair yang seolah siap mengoyak jantungnya karena Kinayang telah lancang mengusik pria itu. “Kafyn! Tega kamu meragukanku? Kita akan menikah sebentar lagi, Kafyn! Kenapa kamu tidak bisa mempercayaiku?! Aku wanita yang kamu cintai, Kafyn! Apa kamu masih butuh bukti?! Wanita jahat ini hanya ingin menghancurkan hidupku! Selama ini dia selalu menyakitiku…” Dara masih terus meracau sambil menunjukkan raut paling terlukanya. Kinayang memilih diam, menikmati pertunjukkan drama queen di depannya yang menggelitik hati namun tersenyum senang, setidaknya pria itu tetap waras karena masih menggunakan logika alih-alih buta karena cinta. Belum sempat Kafyn membalas rengekan Dara, suara mama pria itu langsung mengalun dengan penuh ketegasan. “Tenangkan diri kamu, Dara … Ini bukan masalah tega dan tidak .. Jika memang semua ini fitnah, maka kamu tidak perlu khawatir, kami akan menuntut Kinayang!” Ultimatum dari calon mama mertuanya itu membuat bibir Dara langsung terkatup dengan wajah yang semakin pias, sedangkan Kinayang justru merasa melayang di atas awan. Setidaknya pelajaran malam ini cukup untuk membuat kiamat kecil dalam hidup Elina dan Dara, persis seperti gambarannya. “Duduklah dengan tenang dan tunggu! Tidak perlu khawatir jika ada manipulasi informasi … Orang-orang kami paling kompeten dan akan memastikan semua informasi yang kita butuhkan adalah fakta!” Dan kini, ultimatum dari Elan Alastair pun terdengar, yang membuat semua orang berakhir menunggu dengan gelisah. Kinayang kembali memperhatikan tatapan Kafyn yang begitu nyalang pada Dara yang terlihat terus menunduk dengan bahu gemetar lengkap dengan rintihan tangis yang menyayat hati. Rasanya tidak sabar untuk melihat tangisan darah Dara dan Elina, mereka pasti tidak pernah menyangka Kinayang menghancurkan mereka dengan cara ini. Apa Dara pikir dia bisa mengelabui kehamilannya yang masih enam minggu dengan tetap menikahi Kafyn Alastair? Bodoh sekali wanita itu! Nyatanya, kurang dari dua puluh menit, ponsel pria itu kembali berdering, informasi yang mereka butuhkan seolah bisa mereka dapatkan dalam sekejap mata dengan petunjuk bukti yang Kinayang berikan. Hati Kinayang terasa lebih ringan sekarang, setidaknya dia bisa tidur nyenyak setelah melihat tangis darah dua wanita sundall itu malam ini. “Bagaimana, Kafyn?” Kafyn yang mendapat tanya itu langsung menarik napas dalam, namun tatapan pria itu bukan ke arah calon istrinya, melainkan menghunus tajam bagai tombak ke arah Kinayang, yang membuat tubuh Kinayang rasanya panas dingin. Dia seperti baru saja ditatap oleh singa lapar yang siap menerkamnya. Ada apa? Apakah ada kesalahan sehingga fakta yang dia tunjukkan menjadi kebohongan di mata pria itu? Tidak! Tidak! Tidak mungkin! Kinayang sudah mengantisipasi semuanya, dan semuanya adalah kenyataan 100%! “Kafyn!” Kini saudara perempuan Kafyn yang sejak tadi diam pun ikut mendesak. Dan tatapan Kafyn langsung beralih ke arah Dara yang menatapnya dengan ketakutan, jantung wanita itu rasanya seperti diremas kuat oleh tangan Kafyn yang siap melumatnya hidup-hidup. “Dara hamil … usia kandungannya enam minggu.” Suara yang terlalu dingin itu langsung menjadi pemecah kehangatan dari dua keluarga yang hampir menjadi besan. “Wanita murahann lo!!” Teriakan saudara perempuan Kafyn -Alethya- langsung membahana, sudah hampir beranjak untuk menjambak rambut Dara, namun saudara Kafyn yang lain -Ayash- langsung mencegahnya. Dara langsung berlutut dengan tangis menyayat hati sambil menangkupkan tangannya di depan dadaa. Kinayang sendiri melihat papanya hampir limbung, pun Elina yang berlinang air mata dengan ekspresi tidak percaya, namun saat tatapannya bertemu dengan Kinayang, wanita tua itu menatapnya penuh kebencian. Kinayang justru sengaja menyungging senyum sinis dengan ujung bibir yang menyeringai lalu mengedip genit seolah menertawakan kehancuran mereka. Tentu saja Kinayang akan menikmati drama keluarga ini, akan Kinayang nobatkan menjadi drama paling epic sepanjang hidupnya! “Berani-beraninya kalian mempermainkan niat baik keluarga kami!” Itu suara sang kepala keluarga -Elan Alastair- yang menatap penuh tuntutan. Kinayang tau sehancur apa keluarga konglomerat itu, apalagi persiapan wedding itu mungkin sudah lebih dari 50%, yang Kinayang tau beberapa hal sudah fix dan dalam proses pengerjaan, termasuk gaun pengantin. Jika Kinayang tidak salah mengingat, mereka akan menikah bulan depan, dan memang malam ini keluarga mereka datang untuk menunjukkan hasil undangan yang akan disebarkan mulai besok, sekaligus menjawab tanya publik tentang siapa putri Baswara yang dipersunting oleh Kafyn Alastair. Ah, sepertinya undangan itu tidak akan jadi disebarluaskan, pernikahannya jelas batal! “Pak Elan … Tolong tenang dulu … Kita bisa mencari solusinya bersama … Bagaimana pun … Kita bekerja keras dalam wedding ini …” Haris Baswara mencoba bernegosiasi, meski dia sangat marah atas kelakuan putrinya yang memalukan juga menjijikkan itu. Kinayang hanya tersenyum, memilih beranjak dari sana sebab apa yang terjadi pada mereka setelahnya bukan lagi menjadi urusannya. Namun, demi menjaga kesopanan, wanita itu tetap berpamitan untuk undur diri. “Saya minta maaf jika sudah membuat kekacauan, tapi saya yakin semua yang ada di sini paham dengan tujuan saya … Saya tidak ingin ada tuduhan jika keluarga saya menipu keluarga Alastair, padahal hanya satu orang bodoh yang melakukannya … Karena saya sudah selesai menyampaikan apa yang harusnya disampaikan … Saya permisi …” ucap Kinayang dengan senyum manis dan penuh permintaan maaf kepada keluarga Alastair. “Kamu tidak akan kemana-mana, Nala Kinayang!” Suara itu menggema berat yang membuat langkah Kinayang terhenti. Kinayang kembali membalikkan badan, lagi-lagi mendapati tatapan Kafyn Alastair setajam mata pisau yang seolah siap menghunusnya tepat ke dadaa. Lalu, pria itu menatap pada para orang tua, tidak terlihat sedikit pun kehancuran akibat patah hati karena pengkhianatan calon istrinya. ‘Aneh!’ Kinayang langsung membatin dengan nada menggerutu. Masih memindai dan mencoba membaca pikiran Kafyn Alastair yang kali ini menatap dingin pada papanya. “Atas kekacauan yang disebabkan oleh putri murahann Anda... saya meminta ganti rugi, bagaimana pun desas-desus pernikahan saya dengan putri keluarga Baswara juga tersebar oleh keluarga Baswara sendiri.” Suara Kafyn mengalun rendah, dengan tatapan yang mengintimidasi seolah tidak mengijinkan siapa pun membantahnya. Kinayang langsung mendesis mendengar pernyataan pria itu juga kembali menahan nyeri saat luka tusuknya berdenyut dan mengirimkan rasa panas yang menjalar ke bahunya. Rasa-rasanya dia ingin segera beranjak ke kamarnya. Kenapa dia harus mendengar apa yang diminta pria itu sebagai tanggung jawab? Itu bukan urusannya! “Mulai detik ini, pernikahan dengan Dara saya batalkan. Sebagai gantinya, Kinayang yang akan menjadi pengantin saya sebagai bentuk tanggung jawab keluarga Baswara.” Detik itu, Kinayang seperti tersedak ludahnya sendiri, jantungnya langsung berdegup keras dengan mata yang membulat seketika. Pria sialann itu pasti sudah gila!! Kenapa dia yang sekarang dijadikan tumbal?! Sialannn! Pun dunia seolah berhenti berputar bagi keluarga Baswara. Elina ternganga, sementara Haris langsung kehilangan kata-kata. Kafyn berdiri, merapikan kancing bespoke suit-nya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah baru saja memutuskan merger perusahaan kecil, bukan menghadapi kehancuran atas pengkhianatan calon istrinya tercinta yang kini sudah berbadan dua. Tatapannya langsung mengunci sosok Kinayang yang pucat pasi dalam diamnya, namun bibir Kafyn menyungging senyum sinis seolah berhasil memenjarakan mangsa kecilnya. “Saya tidak menerima negosiasi,” ujar Kafyn kembali menekankan. “Satu penolakan saja keluar dari bibir putri Anda, maka besok pagi, seluruh Baswara Manufacturing hanya tinggal nama. Anda tahu saya tidak pernah menjatuhkan vonis dua kali, Pak Haris.” Elan dan Ayuna bahkan kehilangan kata-katanya, di saat mereka masih mencerna dan ingin menanyakan keadaan Kafyn, pria itu bahkan sudah bangkit dari patah hatinya dan langsung memutuskan sesuatu yang tidak masuk akal seperti ini. Kafyn melangkah mendekat ke arah Kinayang, mengabaikan kericuhan batin yang melanda benak orang tua juga saudara-saudaranya. Kafyn semakin mendekat, dengan tatapan yang membuat Kinayang linglung seolah lupa caranya bernapas. Bukan seperti ini rencananya! Kenapa pria itu justru mengincar sosok yang telah menyelamatkan hidupnya? Seharusnya pria itu berterima kasih padanya! Bukan menjadikannya tersangka yang harus dieksekusi! “Siapa yang tidak mengenal jaksa muda berprestasi ini?” Tangannya terulur untuk menepuk-nepuk bahu Kinayang dengan aura dominan yang kental, dan tepukan itu membuat Kinayang mengerang sakit sambil menahan nyeri. “Lulusan terbaik, peraih penghargaan tahunan, dan memiliki rekam jejak tanpa cela. Kinayang bukan sekadar pilihan cadangan, Pak Haris, dia keputusan yang sempurna untuk menyelamatkan martabat keluarga Alastair yang hancur karena putri anda yang lain. Setidaknya dia tidak akan mempermalukan saya di depan para kolega.” Pria dengan predikat menantu ideal itu kini bahkan dengan lancang membelai pipi Kinayang, menyeringai tipis saat bisa melihat wajah wanita itu lebih dekat. “Nala Kinayang …” Pria itu membisik lirih namun tajam. Kinayang sudah mencengkeram lengan pria itu dengan kuat bahkan meninggalkan jejak cakarannya di sana. Tidak gentar menatap pria itu yang sudah bertingkah kurang ajar. Namun, pria itu tidak terlihat kesakitan saat kuku Kinayang menancap kuat di pergelangan tangannya, yang ada tatapan pria itu seolah memiliki bara api yang siap merengkuh Kinayang agar terbakar bersama kehancuran yang pria itu alami malam ini. “Bersiaplah, Calon Nyonya Alastair,” bisiknya, begitu dekat hingga napasnya terasa di telinga Kinayang. “Kamu yang menyalakan api ini dengan bukti-bukti cantikmu, jadi kamu lah yang harus menanggung panasnya bersamaku.” Kinayang menahan napas, dengan gemuruh di dadaa yang kian menggila. Melihat tatapan pria itu yang seolah mencengkramnya sebagai mangsa. Tidak! Bukan seperti ini maksud Kinayang! Dia hanya ingin memberikan kiamat kecil dalam hidup dua wanita sundall itu! Bukan menjadi tumbal pria itu! Sialann!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD