Caliana sampai di rumahnya pada pukul sepuluh malam. Sebelumnya dia mengantarkan Gita ke kontrakan gadis itu. awalnya Caliana meminta gadis itu untuk menginap di rumahnya. Namun setelah berpikir cukup lama, Gita akhirnya menolak karena dia tidak mau repot bolak-balik ke kontrakannya besok sebelum pergi ke kantor. Dan kini Caliana merasa bersyukur sahabatnya itu tidak ikut menginap di rumahnya, karena saat Caliana membuka pintu gerbang, mobil Gilang sudah ada di sana.
Kembarannya itu memang memiliki pintu cadangan kediaman Caliana, jadi Caliana tidak terkejut melihat keberadaannya disana.
Caliana membuka pintu depan setelah selesai kembali mengunci gerbang rumahnya. Kakak kembarnya itu sedang menonton televisi dengan semangkuk mie instan di tangan. “Darimana?” tanyanya tanpa repot-repot menoleh.
“Kondangan temen di kota sebelah.” Jawabnya. Ia memilih duduk di samping kakaknya dan meminta mie yang ada di tangan kakaknya. Gilang tidak menolak, dia menyodorkan mangkuk itu begitu saja.
Sebagai lajang yang tersisa di keluarganya, baik dirinya dan Gilang sebenarnya sangat enggan pulang ke kediaman kakak tertua mereka. Dimana ibu mereka kini tinggal disana. Bukan karena apa-apa. Ia hanya merasa bosan ketika pertanyaan “Pacar kamu sekarang siapa?” terus terlontar dari mulut wanita yang telah melahirkan mereka. Terkadang Caliana kesal sendiri pada ibunya. dulu, saat ia masih remaja dan merasakan masa-masanya cinta monyet, ibunya seringkali melarangnya. Dekat dengan pria merupakan hal yang paling ditentang oleh ibunya karena dia dan Gilang diharuskan fokus pada pendidikannya. Dan sebagai anak penurut, mereka melakukan apa yang diperintahkan ibuny. Dan itulah kenapa dirinya dan Gilang bisa sampai melalui tahap akselerasi. Karena mereka tidak benar-benar menikmati masa remajanya seperti remaja lain pada umumnya.
Dan kini, setelah mereka dewasa. Caliana sendiri merasa enggan untuk menjalani hubungan yang mereka sebut ‘pacaran’. Rasanya bosan saja, memperhatikan hubungan teman-temannya yang selalunya memuja saat sedang cinta-cintanya, dan menangis meraung setelah putus. Lalu kemudian menyumpahi mantan mereka setelah mantan mereka menggandeng kekasih baru. Dan setelah mendengar semua kisah mereka, Caliana jadi enggan sendiri.
Sementara kini, ibunya mendesak mereka untuk menikah. Bukan mereka sebenarnya, hanya Caliana. Karena dia anak perempuan satu-satunya. Dan dia sudah berusia dewasa. Ibunya selalu mengatakan kalau “Dulu saat Mama seusia kamu” yang dilanjutkan dengan blah-blah-blah kalimat lainnya yang membosankan sebagai tuntutannya supaya Caliana cepat menikah. Sementara dia sendiri, jangankan memikirkan pernikahan, membayangkannya saja tidak pernah, karena memang dia belum menginginkannya.
Dan untuk Gilang. Mamanya bukan mendesaknya untuk segera menikah, tapi mendesaknya untuk berhenti bermain-main dengan perempuan. Tentu saja. Gilang seorang dokter, meskipun belum punya izin buka praktek sendiri. Dan dia memiliki wajah yang tampan, tubuh yang bagus. Tentu saja banyak gadis diluaran sana yang menyukainya. Entah apa status mereka. Dan Gilang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. meskipun dia tidak menjadikan mereka pacar, tapi dia tidak pernah menolak ketika mereka mengajaknya jalan atau mentraktirnya makan. Dan ocehan ibu mereka pula yang membuat Gilang lebih memilih pulang ke kediaman Caliana daripada ke tempat ibunya.
“Bang, semisal Ana pacaran sama duda, menurut Abang gimana?” tanya Caliana dengan nada datar. Meskipun sebenarnya dadanya berdebar begitu kencang. Baginya, Gilang lebih dari sekedar kakak kembar. Dia bahkan lebih takut pada kemarahan Gilang daripada kakak tertuanya Rafka.
“Loe pacaran sama bapaknya si Qilla?”
Uhuk. Caliana terbatuk dan tersedak mie yang sedang dikunyahnya. Apa pertanyaannya memang sejelas itu?
“Maksud Abang?” tanyanya pura-pura polos.
Gilang menarik sudut bibirnya. “Loe pikir gue gak tahu tuh duda ngebet pengen sama loe? Sejak pertemuan pertama juga udah kelihatan kali.” Jawabnya datar. Caliana hanya terdiam. Dia memilih melanjutkan memakan mie milik kakaknya. “Kalo gue sih, oke-oke aja. Selama dia bukan laki orang dan dia cowok normal. Sama siapapun loe mau, selama loe berhubungan dengan baik dan tahu batasan. It’s okay.” Jawabnya sederhana.
Caliana tersenyum simpul, tapi kemudian dahinya mengernyit. “Menurut Abang, Mama bakal gimana?”
Gilang mengedikkan bahu. “Menurut loe?” Caliana menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Emang loe beneran serius sama tuh duda?” Caliana melirik kakaknya.
“Gue gak ada hubungan apa-apa sama dia.” Jawabnya jujur.
“Dia nembak loe?” tanyanya lagi. Caliana mengangguk. “Loe suka sama dia?” tanyanya lagi. Caliana mengedikkan bahu.
“Sampai sejauh ini, sebenarnya gue belum dapet apa-apa yang bikin gue tertarik sama dia.” Jawab Caliana jujur.
“Loe gak deg-degan itu kalo deket sama dia?” Caliana menggelengkan kepala. “Kalo malem loe gak penasaran dia lagi apa? Sama siapa?” Caliana lagi-lagi menggeleng. “Kalo dia sama cewek? Loe gak penasaran mereka kemana trus ngapain aja?”
Caliana tiba-tiba membayangkan Anastasia. Tapi ia sama sekali tidak pernah penasaran dengan apa yang mereka lakukan dan kemana mereka pergi. Sejauh ini, yang menjadi kekesalannya pada Adskhan adalah dari cara pria itu menomorduakan Syaquilla dan menjadikan Carina sebagai alat untuk mendekatinya.
“Kalo kayak begitu, kenapa juga loe mesti pikirin? Kecuali kalo loe ada hati sama dia. Deg-degan kalo deket, kangen kalo dia gak ada, penasaran sama apa-apa yang dia lakuin plus sama siapa. Baru loe mesti waspada.” Jawab Gilang dengan santainya. Caliana hanya bisa mengerutkan dahi berpikir. Pada akhirnya dia hanya mengedikkan bahu saja.
Caliana bangkit dari duduknya dan menyerahkan mie yang masih bersisa itu pada Gilang. Gilang hanya menerimanya saja tanpa banyak bicara. Ia melanjutkan makan mie nya sementara Caliana masuk ke kamarnya dan bersiap melakukan ritual sebelum tidur.
Pagi hari Caliana masuk ke kantor seperti biasa. Ia mengikuti saja apa yang dikatakan Gilang untuk tidak memikirkan apapun tentang Adskhan. Toh memang dia tidak merasakan apapun pada pria itu. dia memang menyukai Syaquilla. Dan apa yang dirasakannya pada gadis itu hampir sama dengan apa yang dirasakannya pada Carina. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Bahkan kekesalan yang dia rasakan pada Adskhan pun ia anggap sebagai kekesalan yang wajar. Toh jika pun kasusnya menimpa orang lain, mereka juga akan merasakan kekesalan yang sama seperti yang dia rasakan.
Caliana duduk di mejanya. Gita sudah ada disana. Meskipun belum sepenuhnya siap bekerja. “Morning.” Sapa sahabatnya itu.
“Morning.” Jawab Caliana dengan santainya. Caliana memulai rutinitasnya seperti biasa. Menyalakan layar komputernya dan kemudian menyeduh kopi s**u nya. Setelahnya dia menyelesaikan semua laporan yang sudah menumpuk saja seperti khasnya hari senin. Sampai waktunya makan siang, barulah dia mengangkat kepala dan siap untuk pergi bersama Gita.
“Loe gak bawa mobil?” tanya Gita saat mereka sudah turun ke lobi. Caliana menggeleng.
“Dianterin Gilang.” Jawabnya singkat. Alhasil mereka pergi makan siang dengan motor matic milik Gita. Mereka makan di salah satu warung nasi langganan yang letaknya sebenarnya tak terlalu jauh dari kantor, namun tetap saja akan memakan waktu jika berjalan kaki. Yang mengejutkan mereka adalah, keberadaan Adskhan dan juga sekretarisnya disana. Silmi, sekretaris baru yang sengaja direkrut dari sebuah agen ternama dikatakan akan menjadi sekretaris Adskhan selama pria itu berada disini.
Semua pria tampak bersiul ketika dia diperkenalkan kepada para karyawan pada akhir pekan lalu. Gadis yang memiliki paras cantik dengan perawakan tinggi langsing, rambut coklat natural panjang yang entah asli atau hasil cat salon, dan tentu saja, penampilannya yang mahal, membuat para pria terpesona dan para wanita tergiur akan gaya nya.
“Bener ya, kalo bos besar sekretarisnya memang dipilih khusus.” Ujar Gita. Caliana memilih mengabaikan keberadaan pria itu, namun ia memperhatikan perkataan Gita. Ia hanya tersenyum saja seraya turut mengantre kala tempat makan penuh. “Tapi aneh aja. Bos kok makannya di warung nasi murahan kayak gini. Kenapa gak ke resto bintang lima, gitu?” tanya Gita lagi.
“Ya mana gue tahu. Mungkin duitnya abis dipake buat ngadoin si Chandra kemaren kali.” Jawab Caliana dengan datarnya.
Caliana sudah mengambil nasi dalam piringnya dan siap mengambil lauk pauknya. Menu ayam goreng dan tumis labu hijau menjadi pilihannya dan selalu membuatnya meneteskan air liur. Caliana mencari tempat kosong yang bisa ia dan Gita duduki. Tempat itu memang ramai, dan selalunya penuh saat makan siang seperti ini. Caliana sudah menargetkan satu tempat saat Gita sudah selesai mengambil makanannya, namun baru tiga langkah berjalan. Tempatnya sudah diisi oleh orang lain. Gita mendesah juga pada akhirnya.
“Tempat onoh, kosong.” Gita mengedikkan kepala ke arah dimana Adskhan dan Silmi tengah duduk. entah pria itu tahu ada Caliana disana atau tidak, tapi pria itu sama sekali tidak mendongakkan kepalanya sejak tadi.
“Cari yang lain aja.” Jawab Caliana.
Mereka melirik lagi area secara berkeliling. Dan satu-satunya yang ditemukan mereka ada dua meja di sisi kanan Adskhan. Gita yang tidak mau lagi mencari akhirnya menarik Caliana berjalan menuju ke sana. Ketika Caliana menduga Gita akan menariknya ke tempat itu, dia salah. Karena Gita malah menariknya ke meja Adskhan dan juga Silmi.
“Boleh duduk disini?” tanya Gita. Lebih kepada Silmi. Gadis itu mendongak, lalu kemudian mengangguk. Caliana sengaja duduk di samping Silmi sementara Gita mengambil tempat duduk di samping Adskhan setelah memberikan mereka ruang lebih dengan menggeser kursi ke sisi terjauh.
Baik Caliana maupun Gita tidak menyapa Adskhan. Mereka bersikap seolah-olah mereka tidak saling kenal. Dan memang itulah yang sebenarnya Caliana inginkan. Dia tidak mau memiliki hubungan lain diluar itu. ia tidak lagi berniat untuk mendekatkan Syaquilla dengan ayahnya. Jika memang Adskhan ingin lebih dekat dengan Syaquilla. Maka pria itu bisa berusaha sendiri atau meminta bantuan Carina. Tapi bukan dirinya.
Mereka makan dalam diam. Baik Gita maupun Caliana tidak banyak bicara. Mereka hanya mendengarkan saja ketika Silmi mengajak Adskhan bicara, namun pria itu hanya menanggapinya dengan kata-kata singkat. Irit sekali kosakatanya. Gita sesekali menendang kaki Caliana dengan kakinya yang telanjang. Caliana mengerutkan dahi memandangnya bingung. Tapi Gita hanya terkekeh saja.
Mereka beranjak dari tempat duduknya dan membayar makanan mereka di kasir. “Tuh dua sejoli lagi pedekate kali ya. Daritadi gak mau move on.” Komentar Gita saat mereka mengantri untuk membayar.
“Hidup loe, bisa gak sih gak usah kepo.” Kata Caliana datar.
“Loe gak cemburu?” tanyanya ingin tahu. Caliana mendecih.
“Apanya yang mesti dicemburuin sih?” jawabnya dengan nada mengejek. Caliana dan Gita sudah selesai membayar dan kembali menuju parkiran. Pada saat sedang mengenakan helm, mereka melihat Adskhan dan juga Silmi keluar dan berjalan menuju mobil. “Pasangan yang serasi. Gue rasa dia lebih cocok sama Silmi daripada si Anastasia.” Komentar Caliana. Gita yang mendengar ucapan itu hanya bisa menganga.
“Loe yakin gak cemburu?” tanyanya bingung.
Caliana tersenyum miring. “Gue gak cemburu, Gita.” Jawabnya datar. “Kenapa juga gue mesti cemburu kalo gue gak punya rasa apa-apa.
Sementara itu, di dalam mobil. Adskhan sama sekali tidak bisa melepas perhatiannya pada Caliana. Dia sudah menyadari keberadaan Caliana sejak saat gadis itu masuk ke dalam area rumah makan. Namun ia berpura-pura tidak menyadarinya. Bahkan Silmi sudah memberitahukan padanya saat ia melihat kedatangan Gita dan Caliana. Namun lagi-lagi Adskhan berpura-pura mengabaikannya.
Dan ketika gadis itu duduk di depannya, ia masih saja berpura-pura kalau gadis itu tak ada. Bukan karena Adskhan tak ingin menyapanya. Dia sebenarnya begitu gatal ingin menyapa gadis itu dan menanyakan kenapa gadis itu pulang tanpa memberitahunya. Dan bertanya jam berapa kemarin gadis itu sampai ke rumahnya, apa dia terjebak macet di jalan atau tidak. tapi ia menahan semuanya. Semua ini atas saran Erhan, si playboy padanya.
Erhan dengan jelas memberitahukan pada Adskhan supaya Adskhan tidak terlalu menunjukkan ketertarikannya pada Caliana. Bahwa Adskhan harus bersikap cool, dan bukannya mengejar, Adskhan seharusnya membuat Caliana penasaran akan dirinya dan membuat gadis itu akhirnya tertarik pada Adskhan dan balik mengejarnya. Dan setelah dipertimbangkan, Adskhan merasa ucapan Erhan benar. Itulah sebabnya pagi ini ia tidak menggoda Caliana ketika gadis itu berada di pantry dan membuat kopi. Dia juga tidak menegurnya saat gadis itu berjalan diantara lorong ketika Adskhan hendak meeting keluar kantor. Dan tadi, di rumah makan, dia juga tidak menyapa gadis itu demi image nya. Dan sialnya, gadis itu juga tidak menyapanya dan bahkan bersikap seolah mereka tak kenal.
Apa sebenarnya saran Erhan akan membuat keinginannya untuk mendekati Caliana berhasil? Kenapa Adskhan mendadak ragu sekarang?