Luna melepaskan bekapan tangannya, lalu dengan kesal berjalan menuju mobil yang terparkir di depan. Melihat itu, Ardan hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Sementara itu, Kinanti yang penasaran langsung bertanya, "Apa, sih? Tadi kamu mau ngomong apa?" Ardan hanya menggeleng dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya. Ia lalu meraih tangan ibunya dan berpamitan, "Kita berangkat dulu, Ma. Besok aku baru balik lagi ke Jakarta." Kinanti mengangguk. "Hati-hati di jalan," ucapnya lembut. Ia tetap berdiri di depan rumah, menatap mobil anaknya yang perlahan melaju pergi. Senyum hangat terukir di wajahnya saat ia bergumam, "Kalian pasangan yang serasi. Semoga Tuhan kasih kalian kesempatan buat memperbaiki hubungan lagi." "Nyonya, ayo masuk! Teh herbalnya sudah jadi," seru