Yasmin duduk di beranda kecil rumah sewanya, menatap ombak yang berkejaran di bibir pantai utara. Di pangkuannya terdapat draf tesis yang sudah hampir selesai, namun pikirannya mengembara jauh ke balik jeruji sel tempat Sarah berada. Ia tidak puas. Setiap kali ia teringat wajah Sarah yang memohon di lantai apartemen malam itu, Yasmin merasa ada lubang hitam di hatinya yang tidak kunjung tertutup. Yasmin teringat bagaimana ia merancang skenario perselingkuhan itu dengan sangat teliti, lalu meninggalkan jejak GPS, mengatur pencahayaan di apartemen agar terlihat paling intim, bahkan memilih kemeja Kaizan yang paling provokatif untuk ia kenakan. "Aku menjadi dia untuk menghancurkannya," gumam Yasmin pada angin laut. Yasmin merasa muak karena untuk membalaskan dendamnya, ia harus menggunak

