bc

Pesona Sang Personal Trainer

book_age18+
50
FOLLOW
1K
READ
family
HE
friends to lovers
kickass heroine
drama
bxg
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Diet itu susah. Tapi jauh lebih susah kalau Personal Trainer-mu adalah sahabat kakakmu sendiri yang gantengnya tidak manusiawi, bermulut pedas, tapi diam-diam perhatian!Setelah insiden penolakan dari pria yang dia sukai selama setahun terakhir dan penghinaan dari wanita yang menjadi idaman semua pria, Teresia memutuskan untuk mengubah kebiasaan buruknya.Sementara Jacob yang merasa khawati dengan kesehatan Teresia, akhirnya memutuskan untuk menjadi Personal Trainer bagi gadis itu.Di antara keringat yang bercucuran, timbangan yang mulai turun, dan kesehatan yang mulai pulih, benih-benih cinta justru tumbuh di antara keduanya.Namun di saat keduanya mulai dekat, timbul sebuah masalah yang pada akhirnya membuat Teresia salah paham.Akankah pada akhirnya Jacob dapat membuktikan kepada Teresia jika dia sudah menyukai gadis itu sejak lama?

chap-preview
Free preview
1. Penolakan di Gym
"Jadi, selama ini kamu berpikir aku menyukaimu, Re?" Pertanyaan dengan nada sedingin es itu memotong suara denting beban dan musik upbeat yang menggema di dalam gym. Detik itu juga, jantung Teresia rasanya seperti diremas kuat-kuat hingga dia kesulitan bernapas. "Teresia, seharusnya kamu sadar diri, dong! Kamu itu udah gemuk, jerawatan, kok berani-beraninya suka sama Kevin yang tampannya level dewa?!" Suara cempreng itu melengking, membuat beberapa orang yang sedang berada di atas treadmill menoleh. Seorang wanita berjalan mendekat Teresia dengan langkah percaya diri. Wanita bernama lengkap Candy Jefferson itu mengenakan pakaian olahraga ketat yang berupa sport bra, dan legging yang mengekspos perut rata serta lekuk tubuhnya yang seksi. Teresia menunduk, menatap pantulan dirinya pada dinding kaca besar di depan mereka. Di antara wanita-wanita dengan tubuh body goals yang sedang berolahraga, dia berdiri dengan kaos kebesaran yang basah oleh keringat, menonjolkan lipatan lemak di sana-sini. Rasa rendah diri yang pekat langsung mengubur Teresia hidup-hidup. Benar kata Candy jika dia tidak tahu diri. Perempuan berbobot lebih dengan wajah kusam seperti dirinya, tidak seharusnya bermimpi bisa bersanding dengan Kevin. Seorang pria bertubuh atletis, berwajah rupawan dan selalu jadi pusat perhatian baik di kantor maupun di gym. "Aku benar-benar tidak mengira kamu akan menyalahartikan kebaikanku selama ini, Re," tambah Kevin dengan wajah datar. Pria itu menghela napas panjang, lalu memalingkan wajah ke arah lain seolah-olah memandang Teresia adalah sebuah beban berat. Di sekitar mereka, bisik-bisik dari member gym lain mulai terdengar, lengkap dengan tatapan menghakimi yang tertuju pada tubuh tambun Teresia. Rasanya dia ingin lari sekencang-kencangnya dan menghilang dari sana saat ini juga. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai mendesak keluar, mengaburkan pandangan gadis berusia 24 tahun itu. "Lagian ya, Vin, kamu itu terlalu ramah, sih, sama dia. Jadinya dia kegeeran." Candy kembali mencibir, dan kali ini dia sengaja mengeraskan suara agar didengar member lain. Kevin hanya diam, dan tak lama senyum tipis meremehkan terukir di sudut bibirnya. Teresia sudah berbalik, siap membiarkan harga dirinya diinjak-injak asal bisa kabur dari ruangan terkutuk itu. Namun baru dua langkah kakinya berderap, sebuah bayangan tubuh yang diluar biasa besar dan tegap menghadang jalannya. "Mau ke mana, Re?" Suara bariton yang berat dan sangat familier itu membuat Teresia mendongak pelan. Di hadapannya, berdiri seorang pria dengan tinggi seratus delapan puluh delapan sentimeter. Kaos ketat tanpa lengan yang dikenakan pria itu mengekspos otot lengan yang kokoh dan terlatih sempurna. Wajahnya tegas dengan rahang kokoh, mengenakan lanyard hitam bertuliskan 'MASTER PERSONAL TRAINER'. Pria itu adalah Jacob, teman akrab kakak laki-laki pertamanya, sekaligus personal trainer senior di gym ini. Jacob tidak menatap Teresia dengan tatapan kasihan. Sepasang mata elangnya malah langsung menghujam tajam ke arah Kevin dan Candy yang mendadak bungkam. Atmosfer di sekitar mereka seketika berubah mencekam. Jacob melipat kedua tangannya di depan d**a, membuat otot-otot lengannya makin menegang. Detik berikutnya, pandangan dinginnya beralih, menghujam langsung ke arah Teresia yang matanya sudah berkaca-kaca. "Nangis? Buat apa?" tanya Jacob datar, tanpa intonasi kasihan sedikit pun. "Kamu mau lari ke loker, terus pulang ke rumah sambil meratapi nasib? Itu rencana kamu setelah mempermalukan dirimu sendiri di sini?" Teresia tertegun. Lidahnya mendadak kelu, tidak menyangka kalau Jacob melontarkan kalimat sedingin itu. "Mereka nggak salah, Re. Kalimat mereka emang kurang ajar, tapi ucapan mereka ada benarnya," ucap Jacob tanpa tedeng aling-aling. Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa filter, membuat Kevin dan Candy di belakang mereka kompak membelalakan mata, terkejut karena sang Master PT justru tidak membela Teresia. Jantung Teresia rasanya seperti dihantam godam untuk kedua kalinya. Air matanya luruh, bukan lagi hanya karena malu oleh Kevin, melainkan karena ucapan Jacob yang dengan terang-terangan menghujat realitanya. Jacob melangkah maju, memangkas jarak di antara keduanya, lalu menunjuk pantulan diri Teresia di cermin besar dengan dagunya. "Lihat ke cermin. Kamu datang ke gym pakai kaos kebesaran yang sudah kusam. Kamu nggak pernah serius tiap sesi latihan, selalu nawar kalau disuruh cardio, dan pola makanmu berantakan. Kamu membiarkan dirimu ada di titik terendah fisik kamu, tapi kamu mengharapkan berharap cowok kayak dia jadi pacarmu." Jacob melirik Kevin sekilas dengan tatapan meremehkan. "Apa kamu pikir cowok yang tiap hari investasi waktu, tenaga, dan keringat buat bentuk badannya, bakal melirik kamu yang seperti ini? Jangan bermimpi, Teresia. Ini bukan drama yang sering kamu tonton dengan ditemani makanan dan minuman tinggi kalori." Suara Jacob terdengar begitu kejam, dan bergaung penuh penekanan di telinga Teresia. Sementara Kevin yang disinggung hanya mendengus karena tak luput dari sindiran pria berotot itu. "Tiga abangmu di rumah selalu memperlakukan kamu kayak putri raja sampai kamu lupa kalau di luar sana, kamu cuma dianggap remahan rengginang kalau kamu sendiri nggak punya nilai yang bisa dihargai orang lain," lanjut Jacob sembari menatap lurus ke dalam manik mata Teresia yang basah. Gadis itu mencengkeram kaus kebesaran di bagian dadanya. Rasa sesak yang luar biasa mendadak menghimpit paru-parunya. Kata-kata Jacob bukan sekadar menusuk, melainkan menelanjangi seluruh realita pahit yang selama ini dia sembunyikan. Pandangan mata Teresia mulai mengabur, bukan lagi karena air mata, melainkan karena sekelilingnya mendadak berputar hebat. Suara musik upbeat gym terdengar menjauh, berganti dengan dengingan panjang di telinganya. Kakinya mendadak lemas seperti kehilangan tulang penopang. Sebelum Jacob sempat meraih tubuhnya, kesadaran Teresia runtuh sepenuhnya. Tubuh tambunnya ambruk ke lantai sementaranya dunianya berubah menjadi hitam pekat. *** Langit-langit putih menjadi pemandangan pertama yang dilihat Teresia saat membuka matanya. Tak lama dia merasa tangan kirinya susah untuk digerakkan. "Kepalaku sakit ...," rintih Teresia sembari memijit tengkuknya dengan tangan kanan. "Sudah bangun?" Suara dingin itu membuat Teresia menoleh lemah ke samping. Dia melihat Jacob duduk di kursi besi dengan kedua tangan terlipat di depan d**a, wajahnya tampak jauh lebih tegang dari biasanya. "Bang ... aku di mana?" tanya Teresia dengan suara serak. "Rumah sakit. Kamu pingsan hampir dua jam karena syok dan kelelahan," jawab Jacob yang membuat Teresia menoleh ke arah tangan kirinya yang ternyata sedang diinfus. Belum sempat Teresia memproses apa yang terjadi, Jacob memperlihatkan layar tablet yang sejak tadi dia pegang ke arah ranjang gadis itu, lalu mengetuk jarinya di atas meja. "Dan selamat, hasil pemeriksaan medismu yang baru keluar sangat buruk. Lihat grafik merah ini! Kolesterol, asam urat, prediabetes, dan fungsi jantungmu mulai kelelahan menopang berat badanmu. Dokter bilang, kalau kamu tidak mengubah pola hidup dan mulai olahraga teratur dari sekarang, kamu sedang menabung tiket menuju stroke di usia muda." Teresia terpaku, menatap deretan angka dan grafik berwarna merah menyala di layar tablet itu dengan perasaan campur aduk. Ketakutan nyata mulai merayap di dadanya. Menderita berbagai jenis penyakit di usia muda jelas tak pernah terbayang dalam benaknya. "Pilihan sekarang ada di tanganmu, Re," potong Jacob, memecah keheningan yang mencekam itu. Jacob bangkit berdiri, mematikan layar tabletnya, lalu berjalan mendekati ranjang Teresia. Dia menatapnya lurus-lurus tanpa ada sisa kelembutan. "Begitu cairan infus itu habis dan dokter menyatakan kamu boleh pulang, apa yang mau kamu lakukan? Kembali ke kamar, menangis meratapi Kevin sambil memesan makanan cepat saji, atau kamu mau mulai merombak hidupmu?" Teresia meremas seprei kasur rumah sakit dengan tangan kanannya yang bebas. Rasa sakit hati akibat hinaan Kevin dan Candy mendadak mengerdil, digantikan oleh kengerian luar biasa akan masa depannya sendiri yang terpampang jelas di layar tablet tadi. Tatapan mata elang Jacob seolah mengunci sisa-sisa keberanian yang dia miliki. Teresia menelan ludah dengan susah payah, lalu menatap manik mata pria di hadapannya. "Bang ... bantu aku." Jacob tidak tersenyum, tapi ada kilat kepuasan yang samar di matanya. Dia kembali melipat tangan di depan d**a. "Bagus. Bersiaplah karena mulai besok kamu akan menjalani sesi latihan privat denganku," ucap Jacob dengan nada yang membuat Teresia bergetar. 'Sesi latihan dengan Bang Jacob? Ini sama saja neraka!' keluh Teresia di dalam hati.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
760.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.3K
bc

Not just, the Beta

read
351.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook