“Regan masih nyariin Letta,” ucap Tuan Pras, dengan nada mengejek. “Baru ditinggal bentar sudah mimpi. Itu yang kamu bilang nggak cinta?” Jantung Laura berdegup kencang, membangunkannya dari tidur yang penuh bunga. Mimpi tentang Regan masih terasa nyata, sentuhan lembutnya seolah masih membekas di kulitnya. Ia tersentak bangun, duduk dengan wajah yang terasa membara. Pipinya merona, bukan karena malu, tapi karena gejolak aneh yang tiba-tiba menyeruak dalam dirinya. “Apaan sih, Pi,” jawabnya, berusaha menyembunyikan kegugupan di balik nada bicara yang dibuat kesal. Tuan Pras justru semakin menjadi-jadi. Senyum mengejeknya semakin kentara, matanya menyelidik setiap inci wajah Laura. “Kamu mimpiin Regan kan? Sampai geli.” Laura tak sanggup lagi menahan rona merah yang semakin menjalar

