“Kenapa kaget? Bukannya kamu yang ngebet nikah sama aku?”
Suara Aris memecah udara, rendah dan menyebalkan, seperti desis yang sengaja dipelankan.
Laura menelan ludah yang tiba-tiba terasa setajam serpihan kaca. Beberapa jam lalu, ucapan itu barangkali ada benarnya. Tapi kini… d**a Laura sesak oleh dorongan yang sama sekali berbeda—keinginan untuk lari sejauh-jauhnya dari lelaki di depannya.
“Malam ini juga aku minta Papi nyiapin semuanya,” lanjut Aris, wajahnya condong, napasnya menyapu pipi Laura. “Yang penting kita resmi. Kamu butuh aku buat nutup kebusukanmu itu, kan?”
Laura menggeleng cepat, hampir refleks. “Enggak, Bang. Lebih baik… kita batalin aja rencana pernikahan kita.”
Desis Aris terdengar tajam. Tangan besarnya kembali menangkap dagu Laura, tak memberi ruang untuk mundur.
Mata mereka bertaut, dingin melawan gentar.
“Kamu ngomong apa barusan?” suaranya menurun, tapi justru lebih mengancam. “Batalin? Seenaknya?”
Laura merasakan jantungnya memukul rusuk, mencoba keluar dari tubuhnya sendiri.
“Nggak akan, Laura.” Tatapan Aris membatu. “Aku nggak bakal biarin kamu hidup bahagia. Apalagi sama pecundang itu.”
Air mata menembus pertahanan Laura, jatuh tanpa bisa ia cegah. “Maaf, Bang. Aku nggak—”
“Diam!” bentaknya, mengiris udara. “Aku nggak butuh alasanmu.”
Suasana ruangan kedap suara itu mendadak seperti penjara. Dindingnya terlalu tebal, terlalu sunyi, seolah menyerap setiap helaan napas ketakutan.
Laura merinding—bukan karena dingin, tapi karena sadar betapa tak terdengarnya dirinya di tempat ini.
Untuk pertama kalinya, ia memimpikan rumah sederhana di desa: dinding tipis, jendela tua yang berderit, dan suara luar yang masuk tanpa permisi.
Di tempat seperti itu, jeritan tak akan ditelan diam.
Di tempat seperti itu, mungkin… seseorang akan datang menolongnya.
**
**
“Keluarga Aris sudah sepakat. Kalian menikah besok.”
Suara Tuan Pras terdengar dingin, seperti pintu baja yang ditutup tanpa celah.
Laura menegang. Ujung jarinya yang pucat meremas ujung blusnya. “Aku nggak mau nikah sama dia, Pi.”
Kata-kata itu jatuh lirih, tapi cukup untuk membuat kedua orang tuanya saling berpandangan. Keheningan menggantung; berat, penuh tanda tanya yang tak ada seorang pun mau pecahkan.
“Laura, kamu belum puas bikin kecewa Papi sama Mami?” suara Nyonya Wina akhirnya memecah udara, tenang namun menyayat. “Apa masih kurang bikin malu? Kamu sadar nggak kalau kamu lagi hamil? Untung Aris mau menikah cepat. Coba kalau enggak ... mau ditaruh di mana muka Papi sama Mami?”
Laura mengulas senyum getir. Rasanya pahit, seperti menelan sesuatu yang tak pernah ingin ia sentuh.
Mereka tidak menanyakan apa pun. Tidak menanyakan bagaimana semua terjadi. Tidak menanyakan apa yang ia rasakan.
Yang penting hanya nama baik. Bukan dirinya, bukan bayinya.
Tuan Pras menarik napas panjang, lalu berkata tanpa menoleh, “Papi nggak mau tahu. Besok kamu harus menikah dengan Aris.”
“Tapi, Pi…”
“Cukup, Laura!” bentak Nyonya Wina. Suaranya mencambuk udara, dan Laura seolah kehilangan pijakannya.
Laura terdiam.
Selama ini, dunia selalu membukakan pintu untuknya—lembut, nyaman, penuh kasih sayang. Tapi malam ini, pintu itu menutup rapat dan menghempaskannya keluar tanpa ampun.
“Sekarang kamu tidur.” Suara Tuan Pras tegas, tak memberi ruang untuk membantah.
Laura menunduk. Setetes air mata lolos, jatuh mengenai punggung tangannya yang gemetar.
Ia mengusapnya cepat, namun kehangatannya justru membuat dadanya semakin sesak.
Percuma.
Percuma berharap dipeluk.
Percuma mengadu.
Tidak ada yang mendengarnya hari ini.
Gue harus pergi malam ini juga… apa pun caranya, batinnya bergetar.
**
**
Laura mondar-mandir di dalam kamarnya, langkahnya pendek dan gelisah, seolah lantai kayu bisa memberi jawaban atas kekacauan di kepalanya.
Setiap beberapa detik ia melirik layar ponselnya—nama Regantara tetap gelap, tak ada tanda kehidupan di sana.
“Letta…” bisiknya parau, jari gemetar mencari kontak sepupunya.
Panggilan tersambung.
Suara Letta terdengar setengah terlelap. [Halo, Ra… jam berapa ini? Lo belum tidur?]
“Let, tolong gue. Bisa jemput gue sekarang? Sekarang banget.” Suara Laura pecah, cepat, seperti seseorang yang berlari tanpa napas.
[Sekarang? Mau ke mana? Ini masih malam, Ra. Besok pagi aj—]
“Letta, bangun! Dengerin gue. Ini darurat. Gue… gue nggak mau nikah sama Aris.”
Hening sepersekian detik. Lalu—
[Lo ngomong apa barusan? Gue nggak salah denger kan?]
“Gue jelasin nanti. Tolong jemput gue sekarang. Kalau enggak… besok gue dipaksa nikah.”
Letta tersengal kecil, shock yang terselip dalam napasnya terdengar jelas. [Besok? Oke. Gue berangkat sekarang. Tunggu gue di gerbang belakang.]
“Ya. Cepetan.”
Sambungan terputus.
Laura mengedarkan pandang, memastikan keadaan aman. Lalu ia meraih dompet dan tas kecil di atas nakas—gerakan terburu, hampir menjatuhkan lampu tidur.
Ia tak memikirkan baju ganti atau jaket; yang ia butuh hanya keluar dari rumah ini. Dari tekanan yang membekap dadanya sejak tadi malam.
Jendela kamar menjadi satu-satunya jalan. Laura membuka kuncinya perlahan, dan udara malam menyapu kulitnya. Dingin, tapi membebaskan.
Ia merambat ke pagar balkon, lalu menggapai dahan Akasia besar yang tumbuh tepat di samping kamarnya. Dahan itu menahan tubuhnya ketika ia bergelantungan, lalu melompat turun dengan napas tercekat.
Ia hampir berhasil.
Hampir.
“Mau ke mana kamu, Laura?”
Suara itu menghantam punggungnya.
Laura membalikkan badan perlahan. Tuan Pras berdiri di sana, siluetnya tajam di bawah lampu teras. Mata lelaki itu menatapnya tanpa ampun—bukan ayah yang ia kenal, tapi seseorang yang menjaga gengsi lebih kuat daripada anaknya sendiri.
“Kamu pikir Papi bodoh?” suaranya rendah, menggetarkan udara. “Papi sudah tahu akal bulusmu. Masuk! Sekarang.”
Harapan Laura runtuh seketika.
Ia menelan ludah, pahit dan menusuk, lalu menunduk. Langkahnya berat saat mengikuti arahan sang ayah menuju halaman samping. Di sana, satpam sudah berjaga, seolah ia tahanan yang hendak melarikan diri.
Sebelum ia sempat memproses semua itu
Dan yang bisa Laura lakukan hanya patuh.
Tring!
Pesan masuk.
Dengan jantung berdebar tajam, Laura membuka tas dan menarik ponselnya. Harapannya sempat melambung… hanya untuk jatuh lagi.
[Sorry, Ra. Gue ketahuan Nyokap. Kayaknya Om Pras udah tahu rencana lo deh.] —Letta.
Jari Laura melemah.
Layar ponsel buram oleh air mata yang menahan diri untuk tidak jatuh, namun gagal.
Kini, ia merasa seperti seseorang yang berlari ke segala arah hanya untuk menemukan bahwa semua pintunya telah dikunci oleh orang yang seharusnya melindunginya.
**
**
Mentari pagi merayap perlahan ke balik tirai jendelanya, namun Laura belum memejamkan mata sedetik pun. Matanya perih, namun pikirannya tak berhenti berputar, seperti gelombang yang menabrak dinding di dalam kepalanya.
Ia kembali menekan nomor Regantara.
Berulang.
Dan terus saja begitu.
Nada sambung tidak pernah muncul.
“Regan… lo ke mana sih?” bisiknya parau, hampir retak. “Di saat gue butuh lo, kenapa lo nggak ada? Lo yang bikin gue ada di posisi ini… lo yang bikin gue h*mil, dasar breng…”
Kata-kata itu terhenti. Bukan karena amarahnya mereda, tapi karena suara tangisnya pecah lebih dulu.
Ia menatap layar ponselnya, menatap foto Regantara. Tawa laki-laki itu, sorot matanya yang biasanya penuh akal-akalan, dan sikap sembrononya yang sering membuat Laura ingin marah sekaligus bergantung.
Andai Regantara ada malam ini…
Andai ia bisa masuk lewat jendela seperti biasanya, dengan ide gila yang bisa memporak-porandakan rencana siapa pun…
Mungkin Laura tidak merasa seputus asa ini.
Tring!
Pesan masuk.
Laura mengusap pipinya dan membuka layar.