Ryan menghela napas panjang. Kalau bukan demi Regantara, ia malas berurusan dengan Roby. Ada kelelahan yang mengendap di dadanya. Bukan fisik, melainkan rasa enggan yang sudah terlalu lama dipelihara. Setiap kali harus berurusan dengan pria itu, kesabarannya selalu diuji tanpa ampun. Dari dulu ia tak pernah suka dengan pria satu itu. Roby sejak kuliah memang selalu mendapat julukan monster perusak lubang pipis. Julukan yang tak pernah terdengar lucu di telinga Ryan, justru menambah daftar alasan kenapa ia memilih menjaga jarak sejauh mungkin. Roby berlari menuju kamar mandi di dekat dapur. “Awas kalau sampek lo ketularan tuh monster,” ucap Letta tiba-tiba. Kalimat itu meluncur spontan, lebih cepat dari kesadaran. Begitu terdengar di udara, Letta sendiri membeku sepersekian det

