Pertemuan Tak Terduga

1309 Words
Aula besar Fakultas Kedokteran University of Global Science New York hari itu dipenuhi hiruk-pikuk suara percakapan ratusan mahasiswa yang duduk berjejer di bangku-bangku kayu yang tersusun melengkung. Ruangan yang biasanya hening dan dingin, kini berubah menjadi lebih hidup. Di barisan tengah, Jeannette duduk bersandar santai di kursinya, diapit oleh kedua sahabat karibnya, Eva dan John. Jeannette mengenakan kemeja putih sederhana dan jas lab tipis yang dikancing rapi, penampilan yang biasa dan apa adanya, sangat jauh berbeda dari sebagian teman-temannya yang berusaha tampil paling menari. “Bosan sekali rasanya, Jean. Sudah hampir empat puluh menit kita duduk di sini hanya untuk mendengar pidato pembukaan dan pujian-pujian berlebihan,” bisik Eva sambil menahan napas menguap, matanya melirik jam tangan dengan tatapan jenuh. John di sebelahnya ikut mengangguk setuju sambil memainkan pulpen di tangannya. “Katanya donatur terbesar sepanjang sejarah kampus ini. Orang yang membiayai hampir separuh fasilitas dan beasiswa di gedung ini. Harapannya orangnya sepadan dengan kekayaannya, kalau cuma tua, kaku, dan berbicara berjam-jam seperti Bapak Dekan, aku rasa aku akan tertidur di sini.” Jeannette hanya tersenyum tipis mendengar keluhan kedua sahabatnya. Dia sendiri sebenarnya penasaran. Namun, rasa penasaran itu belum cukup untuk membuatnya antusias berlebihan. Dia lebih memilih membiarkan pikirannya melayang pada tumpukan catatan anatomi yang harus dipelajari nanti sore. Di depan sana, di atas panggung yang megah dan dihiasi lambang universitas, Dekan Fakultas Kedokteran masih berdiri di belakang mimbar kayu besar. Pria paruh baya itu terus saja melontarkan kata-kata sambutan yang panjang lebar, penuh dengan kalimat sanjungan dan puji-pujian tak bertepi mengenai sosok dermawan yang akan hadir sebentar lagi. Suaranya menggema di seluruh ruangan, berisi tentang betapa murah hati, hebat, dan berpandangan jauh ke depan sosok misterius itu. Semua itu terdengar indah meskipun bagi para mahasiswa yang mendengarkan, isi pidato itu terasa membosankan dan berulang-ulang. “Beliaulah orang yang telah meletakkan pondasi masa depan bagi kita semua. Orang yang percaya bahwa ilmu kedokteran adalah senjata paling berharga bagi umat manusia. Tanpa dukungan beliau, banyak sekali kesempatan emas yang tidak akan pernah bisa kami tawarkan kepada para cendekiawan muda berbakat seperti kalian semua. Maka dari itu, mari kita berikan tepuk tangan yang paling meriah dan hangat. Kami undang ke atas mimbar, Tuan Jerome Drake. Mari sambut beliau!” Suara tepuk tangan seketika meledak memenuhi ruangan, memecah kebosanan yang semula menggantung. Jeannette ikut bertepuk tangan dengan gerakan tangan yang ringan, sama seperti Eva dan John di sampingnya. Namun, saat sosok yang dipanggil itu melangkah keluar dari balik tirai samping panggung dan menapaki anak tangga menuju mimbar, tangan Jeannette tiba-tiba berhenti bergerak di udara. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya tertahan, dan detak jantungnya seolah berhenti sejenak sebelum berpacu jauh lebih kencang dari sebelumnya. Di sana, berdiri seorang pria yang tampak luar biasa gagah dan berwibawa, mengenakan setelan jas hitam rancangan Tom Ford yang terlihat sangat mahal dan pas di badan, seolah-olah pakaian itu menyatu sempurna dengan sosoknya. Potongan jas yang rapi, kemeja putih bersih, dan dasi berwarna gelap yang elegan menegaskan kelas dan status sosialnya yang tinggi. Namun, bagi Jeannette, kemewahan pakaian itu sama sekali bukan hal yang menarik perhatiannya saat ini. Wajah itu, garis rahang yang tegas, mata biru yang tajam dan memiliki sorot yang dalam, serta rambut hitam yang ditata rapi. Itu adalah wajah yang sangat dia kenali. Seketika bisik-bisik dan decak kagum mulai terdengar menyebar cepat di antara barisan bangku mahasiswa, seperti api yang membakar jerami kering. “Astaga ... tampan sekali! Itukah dia?” seru seorang gadis di bangku depan dengan nada tak percaya. “Wah, berapa usianya sebenarnya? Dia nampak sangat awet muda, tidak terlihat seperti orang yang sudah punya kekayaan sebanyak itu,” sahut temannya yang lain, matanya tak berkedip menatap panggung. “Dia persis seperti model sampul majalah Men’s Health, keren banget dan berkarisma. Ini bukan lagi sekadar dermawan, tapi definisi pria sempurna,” gumam seorang pemudi di sebelah kanan dengan nada kagum. Namun, di tengah riuh kekaguman orang-orang di sekelilingnya, Jeannette hanya bisa terpaku dan terperangah. Otaknya berputar cepat menyambungkan titik-titik yang selama ini tersembunyi. Jerome Drake. Nama itu kini jelas tertulis di papan nama di atas mimbar. Pria itu adalah Jerome Drake. Pria yang beberapa malam lalu dia tolong di depan trotoar pintu masuk gedung apartemennya yang gelap, saat tubuhnya ambruk ke tanah dengan luka tusukan belati yang menganga di bagian perut kiri. Pria tersebut hampir mati kehabisan darah di trotoar kota ini, dan Jeannette, yang saat itu sedang pulang dari part-time job di bar bertekad menghentikan pendarahannya dan memastikan dia selamat. 'Jadi dia... dia adalah donatur terbesar kampus kami?' jerit batin Jeannette, diliputi keterkejutan yang bercampur dengan rasa lega yang luar biasa, 'dialah pemberi beasiswaku selama ini? Orang yang membiayai kuliahku, buku-bukuku, tempat tinggalku, semuanya ... adalah pria yang nyawanya sempat kuselamatkan malam itu?' Rasa syukur dan lega perlahan menyelinap masuk menggantikan keterkejutannya. 'Untunglah malam itu aku bertekad menyelamatkan nyawanya, tidak peduli seberapa berbahaya situasinya. Kalau tidak ... kalau aku membiarkannya begitu saja atau dia meninggal malam itu ... bisa-bisa aku kehilangan segalanya. Kehilangan beasiswa sekolah kedokteran, kesempatan belajar di sini, dan mimpiku menjadi dokter. Ternyata takdir berputar dengan cara yang sangat aneh dan menakjubkan!' batin Jeannette diam-diam. Sementara itu, di atas panggung, Jerome Drake berdiri tegak di belakang mikrofon. Matanya yang tajam menelusuri lautan wajah-wajah muda yang menatapnya kagum di bawah sana. Namun, seolah ada magnet tak kasat mata yang menarik perhatiannya, pandangannya tiba-tiba berhenti dan bersitatap tepat dengan sepasang mata cokelat indah yang sedang menatapnya tak percaya dari barisan tengah. Hanya sedetik, tapi bagi Jerome waktu seolah melambat. Dia takkan pernah lupa sepasang mata itu. Dia takkan pernah lupa wajah gadis yang dengan tenang, berani, dan penuh ketenangan menangani lukanya malam itu, saat orang lain mungkin akan berlari ketakutan atau membiarkannya mati. Di tengah kerumunan ratusan orang yang berusaha tampil sempurna dan mencolok, gadis itu duduk dengan penampilan yang sangat sederhana, polos, dan apa adanya. Itu adalah kecantikan murni, alami, tanpa polesan berlebihan, jenis keindahan yang belakangan ini sangat jarang dia temukan di kota metropolitan seramai New York. Sudut bibir Jerome perlahan terangkat membentuk senyuman yang tulus, jauh berbeda dari senyum sopan yang biasa dia berikan untuk publik atau rekan bisnisnya. Senyum itu ditujukan khusus hanya untuk Jeannette. “Selamat pagi jelang siang, semuanya,” suara Jerome terdengar berat, berkarisma, dan tenang, bergema memenuhi seluruh sudut aula. “Saya tidak akan banyak bicara di sini, karena saya tahu waktu kalian sangat berharga untuk belajar dan beristirahat.” Dia berhenti sejenak, membiarkan pandangannya kembali menyapu ruangan sebelum berbicara lagi. “Harapan saya dengan segala bentuk beasiswa dan fasilitas yang kami berikan untuk para cendekiawan muda, calon-calon dokter andal di masa depan, adalah sederhana saja. Kalian bisa belajar dengan tenang, berkembang dengan baik, dan nantinya mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa di luar sana yang butuh pertolongan. Jadilah penyembuh, jadilah harapan bagi mereka yang membutuhkan. Selamat belajar dan berjuang menggapai cita-cita di kampus ini. Terima kasih atas perhatian kalian, waktu serta tempat ini saya kembalikan ke Bapak Dekan.” Tepuk tangan kembali meledak saat Jerome mengakhiri pidato singkatnya dan mulai melangkah turun dari mimbar. Namun, sebelum dia benar-benar berbalik arah, sekali lagi Jerome melayangkan pandangannya ke arah Jeannette. Ada kilatan rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang mendadak menggelitik di hatinya. Dia ingin lebih sering berada di dekat gadis manis itu. Dia ingin mengenal lebih jauh siapa sosok yang ternyata menjadi bagian dari orang-orang yang dia dukung selama ini, sosok yang tanpa sadar telah menyelamatkan nyawanya sendiri. Jeannette duduk diam di tempatnya, napasnya perlahan mulai teratur kembali. Dia membalas senyuman yang dilemparkan Jerome dengan senyuman sopan, sederhana, dan tidak berlebihan. Senyum yang mengatakan terima kasih, dan menyimpan rahasia di antara mereka berdua. Dia tidak sedang mencari perhatian, dan Jeannette juga tidak bermaksud menjadikan kejadian malam itu sebagai modal untuk keuntungan apa pun. Namun, satu hal yang Jeannette tahu pasti bahwa dia harus serius menyelesaikan pendidikan dokter yang sedang dia tempuh. Mungkin suatu hari nanti Tuan Jerome Drake membutuhkan pertolongannya lagi dengan lebih profesional.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD