Bersedia Menjadi Teman Ngobrol?

1087 Words
"Sel, mau pulang bareng? Udah jam lima, udah waktunya pulang." "Jangan terlalu ambis." "Daripada malas kayak lo." Naura menoleh ke sisi kiri dengan tatapan datar. Memang ya, rasanya hidup Naura tidak pernah tenang kalau di sisinya ada Keysa atau Shania. Ingin menabok, tapi teman. Didiamin? Ya itu tadi, ngelunjak. "Kalian duluan aja, nanti aku belakangan. Ini tanggung banget, tinggal revisi aja." "Bilang aja mau pulang sama Pak William," celetuk Naura. "Jadi benar Sella sama Pak William lagi dekat?" Shania yang sejak tadi diam hanya bisa menghela napas. Kedua temannya terlalu banyak bicara, sepertinya energi mereka tidak pernah habis padahal seharian lelah bekerja. Tidak jauh berbeda dengan Shania, Sella pun memilih diam tanpa menjawab apapun. Entah gosip apa yang sudah tersebar, sampai kedua temannya menyimpulkan seperti itu. Drkat? Dekat dalam konteks apa? Bukankah wajar seorang karyawan berinteraksi dengan bosnya? Ya walaupun sebetulnya Sella merasakan hal janggal. "Emang kalau Sella sama Pak William kenapa, Key?" tanya Shania. Sejak siang tadi telinga Shania cukup panas karena Keysa terus-terusan membahas gosip tentang teman barunya itu. Keysa menarik kursi di samping Naura, lalu duduk sambil menatap ketiga temannya secara bergantian. "Sella terlalu hebat, belum lima bulan kerja udah bisa narik perhatian CEO kita. Lah kita? Dua tahun kita di sini, mana ada dilirik? Jangankan dilirik CEO, mang Ferdi aja gumoh natap kita." Naura memukul pundak Keysa sambil tertawa. Demi apapun, mulut temannya itu teramat random, bahkan Naura tidak sangka otak Keysa berfikir seperti itu. "Gini, Key, kalau kamu mau dilirik Pak William, coba deh cari perkara. Dari situ aku jamin kalau kamu langsung tatapan langsung." "Iya ya? Habis itu dipecat, ide kamu oke juga, Nau, saking okenya lebih baik besok-besok kamu diam aja. Apa perlu mulutnya dilakban?" "Berisik lo!" Naura menghempas rambut Keysa yang terurai. "Jadi gimana, Sel, mau bareng? Ini udah sore, lanjut besok aja sih," sambungnya sambil menatap Sella. Wanita di depannya sejak tadi hanya diam tanpa memberi respon apapun. Sella menutup dokumen di tangannya. Andai bisa memilih, tentu saja dia ingin pulang bersama teman-temannya. Selain itu, Sella juga teringat Ayahnya di rumah. Ayahnya minta dianterin ke rumah sakit, tapi sampai detik ini Sella belum pulang ke rumah. "Sella, kau sudah selesai?" Pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka membuat semuanya menoleh termasuk Sella. Di ambang pintu berdiri seorang pria yang masih komplit memakai kemeja putih dibalut jas berwarna hitam. Sella menerjap, apa William benar-benar menunggu? "Sedang apa kalian bertiga di sini? Bukankah sudah waktunya pulang? Apa kalian mau lemburan?" Ketiga wanita yang William tegur kompak menggeleng. Tidak membuat kesalahan memang, tapi tetap saja mereka takut berhadapan dengan bosnya. "Kalau begitu lekas pulang, tinggalkan Sella. Sella pulang sama saya, apa kalian keberatan?" Lagi, kertiganya kompak menggeleng. Keysa menyenggol lengan kedua temannya, memberi kode agar segera pergi dari ruangan Sella. Baik Shania ataupun Naura, mereka sama-sama paham. Tidak perlu perintah kedua kali, mereka berpamitan lalu bergegas ke luar. "Lanjutkan di apartemen, sekarang kita pulang," ujar William setelah memastikan ketiga karyawannya itu pergi menjauh. "Maaf, Tuan, tapi saya fikir, saya tidak butuh apartemen. Saya punya rumah, saya juga punya orangtua yang sedang sakit. Saya tidak bisa leluasa pergi, karna Ibu saya jarang di rumah," jawab Sella dengan hati-hati. Apa yang Sella katakan memang benar, terlalu berat untuk dia meninggalkan sang Ayah. Sella juga teringat dengan teror ancaman beberapa hari belakangan ini. Orangtua. William tersenyum tipis saat Sella menyebut kata 'orangtua' di depannya. "Apa kau bahagia hidup bersama mereka?" "Tentu, saya bahagia hidup sama Ayah. Walaupun kebahagiaan saya sempat terusik karna Bunda meninggal, lalu Ayah menikah sama Ibu, tapi saya sudah tidak perduli. Yang terpenting masih ada Ayah." Sella yang tidak mengetahui apapun sangat lugas menjawab pertanyaan William. Dalam otak pun Sella tidak berfikir buruk atas pertanyaan bosnya itu. "Kau menyayanginya?" William menatap lekat Sella yang mengangguk riang. "Bukankah setiap anak akan menyayangi orangtuanya? Anak mana yang tidak sayang?" William mengangguk-anggukan kepalanya. "Kau tahu? Di dunia ini tidak semua anak beruntung sepertimu. Bagi sebagian orang, dunia itu terlalu kejam dan menyakitkan. Bahkan banyak anak terperangkap dalam trauma seumur hidup." Perlahan namun pasti, William berjalan ke arah jendela sambil menatap lurus ke depan. Kata-katanya memang terlalu ambigu, mungkin saja Sella tidak bisa mencerna. Tapi ... itu memang tujuan William. Selama mengenal William, baru ini Sella mendengar pria itu bicara panjang lebar. Dari nada yang Sella tangkap, sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada bosnya itu dimasa lampau. "Maaf kalau lancang, apa Tuan butuh teman cerita? Saya hanya menawarkan, kalau tidak mau ya its okay." "Terlalu banyak cerita, sampai saya sendiri bingung cara merangkainya. Selama ini saya selalu sendiri, sepertinya baru kau saja yang menawarkan tempat. Tapi ini bukan waktu yang tepat, bagaimana kalau next time?" William memutar tubuhnya kembali menghadap Sella. "Kau bersedia menjadi teman ngobrol saya?" sambungnya. Senyum tipis muncul di bibir Sella. Tanpa rasa ragu dia mengangguk. Mungkin Sella harus bisa menilai William dari berbagai sisi, mungkin juga sikap arogannya karena dia selalu memendam amarah sendirian. "Kalau begitu, kita bisa bersikap santai layaknya teman. Jangan sungkan, apa lagi kalau di luar kantor." William membalas senyum Sella. *** Hari sudah semakin malam, tapi sampai detik ini belum ada tanda-tanda kepulangan putrinya. Sudau beberapa kali Wira berpindah tempat duduk dari dalam ke luar, tapi tetap saja Sella belum pulang. "Dia itu udah merasa hebat, Mas, dia akan acuh secara perlahan. Kerja kantoran, gaji besar, pasti dia ingin foya-foya." Wira menghela napas mendengar suara istrinya. Itu bukan pembahasan pertama, tapi sudah kesekian. Walaupun begitu, Wira tidak menanggapinya. Wira sangat hapal bagaimana sifat Sella, dia itu gadis lemah lembut, selalu mementingkan keluarga, jadi mana mungkin melakukan itu? "Mas terlalu percaya sama Sella, sampai ngga pernah mau percaya samaku." Daniar berdiri tepat di depan sang suami yang tengah duduk. "Sella itu lagi nebus hutang, udah pasti dia bayarnya pakai hal lain. Menjadi penghangat ranjang bosnya mungkin." "Kamu kenapa sih? Beberapa bulan terakhir ini, saya lihat dan juga dengar, sepertinya kamu sangat benci sama Sella? Ada apa? Bukankah dia selalu memenuhi kebutuhan kita? Bahkan kebutuhan pribadi kamu?" Telak. Daniar terdiam mendengar pertanyaan sang suami. Apa katanya tadi? Memenuhi? Mana ada memenuhi, yang ada cuma kekurangan! "Kenapa, Daniar?" 'Karna anak itu selalu ikut campur dan selalu bertingkah,' batin Daniar. "Dia selalu bekerja, bahkan jarang menikmati gajinya." Daniar berdecak, bosan sekali dia mendengar nama Sella. "Terserah kamu deh, Mas, aku pusing. Tapi yang pasti, aku sangat yakin, malam ini Sella ga akan pulang. Dia ga perduli sama kamu, bahkan sejak siang kamu bilang minta diantar ke klinik. Kalau dia perduli sekarang udah pulang." Dalam hati Daniar berdoa kalau anak tirinya itu tidak perlu pulang selama-lamanya. Biar saia dia hilang, lenyap kalau perlu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD