Kedatangan Sella yang tiba-tiba, ditambah wajah pucat, sambil menangis, membuat Wira sangat kaget. Tanpa bertanya lebih lanjut, Pria setengah paruh baya itu membawa sang putri masuk ke dalam rumah. Wira membawa Sella duduk di sofa, sebelum itu dia mengambilkan teh terlebih dahulu untuknya. Pelan-pelan Wira membantu Sella untuk minum. Sebagai seorang Ayah, tentu saja Wira sangat khawatir. "Udah lebih tenang?" tanya Wira saambil mengusap lembut punggung Sella. Mendangar suara lembut sang Ayah Sella pun menoleh. Air matanya kembali menetes tanpa bisa ditahan. Sella merasa hidunya hancur, bahkan tidak berguna. "Kasih tau Ayah, kamu kenapa? Apa ada yang nyakitin kamu? Siapa orangnya?" Saat Sella akan menjawab, tiba-tiba saja Daniar datang dan ikut duduk bergabung. Tidak ada rasa bersalah

