Sheila menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan—seolah mencoba menyingkirkan kecemasan yang menempel di dadanya. Kereta terus melaju, membawa suara dentingan rel yang ritmis, seperti detak jantung yang dipaksa tetap tenang. Ia membuka ponsel, menatap pesan terakhir yang ia terima dari nomor tak dikenal itu. Satu kalimat yang sejak kemarin membuatnya sulit bernapas: “Kita perlu bicara. Tentang Galih. Dan tentang sesuatu yang dia sembunyikan darimu.” Sheila menggenggam ponsel itu erat-erat sampai buku jarinya memutih. Ia tidak tahu apakah ia datang ke Bandung untuk mencari jawaban… atau justru untuk memastikan bahwa ketakutan terbesarnya tidak benar adanya. ⸻ Seorang pramugari kereta mendekat sambil menawarkan pilihan makanan ringan. “Bu, apakah mau ditukar minumannya? Kopinya

