Part 6

678 Words
Upacara ini adalah sebuah kesalahan. Galih tiba di Hotel Indonesia dalam kondisi pikiran yang lebih baik, berjalan menuju rooftop dengan langkah mantap. Cincin kawin yang dikirimkan Sheila ke kantornya minggu lalu tersimpan rapi di sakunya. Seleranya sempurna—dengan asumsi dia yang memilihnya sendiri. Pita platinum yang serasi dengan tiga berlian berpotongan cemerlang dan kejernihan luar biasa. Pengaturan bezel membuatnya ideal untuk perhiasan sehari-hari—bijaksana dan berkelas. Lebih dari itu, cincin kawinnya tidak akan bersaing dengan cincin pertunangannya untuk menarik perhatian. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada merusak batu dan logam yang indah hanya karena seseorang memiliki selera seperti anak berusia tiga tahun. Lebih buruk lagi ketika pelanggan membayar mahal untuk barang yang jelek. Berdasarkan itu, Galih berasumsi bahwa Sheil memiliki selera yang indah dan tidak akan seburuk Ayahnya, meskipun banyak orang menyamakannya sebagai versi perempuan dari Helmi Sukmawan. Selera ayahnya dalam perhiasan selalu mencolok dan berlebihan. Namun, suasana hati optimisnya terguncang saat ia tiba di atas rooftop, dipinggir swimming pool. Sheila berdiri di sana dengan topeng acuh tak acuhnya, ekspresinya tanpa emosi. Apakah dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dengan memaksakan pernikahan ini? Atau apakah dia kesal karena kehilangan pilihan pertamanya? Apakah topeng itu akan lepas jika Haris adiknya yang berdiri di sini bersamanya? Bayangan bahwa Sheila mungkin merindukan saudara kandungnya yang tidak berguna itu membuat Galih muak. Namun, ada sesuatu yang menarik di sana—keinginan untuk melihat seperti apa wajah wanita itu tanpa pertahanannya. Dia mencoba membayangkannya… Lalu tiba-tiba, Sheila tersenyum. Galih selalu menganggapnya memiliki senyum yang cantik, tetapi ini… ini sama sekali tidak seperti yang pernah ia lihat sebelumnya. Senyum itu mengubah seluruh wajahnya, meruntuhkan pertahanan yang selalu dijaga rapat. Matanya berbinar lebih cemerlang dari berlian terbaik. Dia tampak begitu rapuh, begitu bercahaya, seperti bulan purnama yang bersinar di langit tengah malam. Senyum itu menjebaknya di tempat. Napasnya tercekat, jantungnya berdetak kencang. Namun, senyum itu tidak ditujukan padanya. Sheila membuka tangannya lebar-lebar, mempercepat langkah, dan memeluk pria lain—dengan kebahagiaan yang begitu nyata. Euforia yang sebelumnya dirasakan Galih hancur dalam sekejap, digantikan oleh amarah yang membara di pembuluh darahnya. Bahkan setelah mereka melepaskan pelukan, pria itu tetap menggenggam lengan Sheila. Dan Sheila tidak menepisnya. Ketika matanya akhirnya bertemu dengan Galih, dia tersenyum… tetapi tidak seperti senyum yang dia berikan kepada pria lainnya. Senyum itu lembut dan terlatih, senyum yang diberikan dari balik dindingnya. Dia tidak pernah tersenyum kepada Galih dengan tulus. Dia tidak pernah memeluknya dengan penuh arti, meskipun merekalah yang bertunangan. Galih tidak mengerti mengapa situasi ini membuatnya begitu marah, tetapi kenyataannya memang demikian. Matanya beradu dengan Agung, pria yang berdiri di samping Sheila, dengan ekspresi percaya diri yang tenang. Galih ingin menendangnya. Ia seharusnya tidak membiarkan Sheila memilih resort ini. Seharusnya memilih pernikahan mewah di Jakarta. Namun, semua sudah terjadi. Dan kini, Ia harus duduk di meja pernikahan dengan pria berwajah mendengus yang tak lain akan menjadi Ayah Mertuanya. Lalu pria yang Sheila peluk entah siapa karena Sheila belum mengenalkannya dan juga Penghulu yang tak henti tersenyum. Sheila memakai dress yang cantik, menutupi area atas tubuhnya sampai lutut. Ia membawa buket Lily putih kecil. Selama proses akad nikah, Galih baru mengetahui pria yang ia tatap dengan sinis tadi adalah paman Sheila dan sedikit menyesal memasang wajah ketus padanya. Tak lama setelah sah, penghulu menyuruh Sheila mencium tangan Galih, kulitnya yang telanjang terasa hangat di telapak tangan Galih. Mereka bertukar cincin, Sheila hanya menatapnya dengan bulu mata bergetar. Mereka bertatapan dengan manis. "Bagus sekali, Nak! Aku sangat bangga padamu!" Galih tersentak. Sheila berbalik, memutus kontak. Sialan. Tatapan Galih beralih ke arah sumber gangguan itu—ayahnya. Pria itu hanya menyeringai seperti orang t***l. Dan saat Galih melihat Sheila kembali tersenyum, senyum itu bukan untuknya. Bukan untuk sentuhan mereka. Senyum itu ditujukan pada kebebasan yang baru saja ia dapatkan. Galih bisa saja menjadi benda mati yang tidak bernyawa. Tetap saja, dia senang telah membantunya mencapai kemandirian sejati. Namun, kesadaran itu tidak menghapus fakta bahwa tidak ada senyum tulus yang diberikan kepadanya. Tidak ada pelukan hangat yang ditujukan kepadanya. Galih menatap Sheila dalam diam. Pada akhirnya, dia tetap tidak mendapatkan wanita itu sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD