Part 9

1323 Words
Sheila berbaring sendirian di tempat tidurnya dalam kegelapan, pikirannya berputar-putar memikirkan pernikahannya. Baginya, pernikahan selalu menjadi sarana untuk mencapai tujuan—cara untuk mengklaim kemerdekaannya. Namun, setelah semuanya terjadi, ia baru menyadari bahwa ia tidak cukup mempertimbangkan apa saja yang termasuk dalam pernikahan itu. Ia tidak seharusnya membicarakan kamar tidur terpisah atau sikap Galih yang terlalu hati-hati. Di sisi lain, Sheila juga tidak pernah memiliki ekspektasi tentang pernikahan yang sempurna setidaknya untuk dirinya sendiri. Ia tidak pernah mengeluh tentang gaun pengantin atau berkhayal tentang bagaimana rasanya memiliki pasangan dan keluarga yang penuh kasih, karena semua itu tidak terasa mungkin. Lagi pula, ia tumbuh besar sambil menyaksikan ibunya dan ayahnya. Namun, ada sesuatu yang mengganggunya dan membuatnya sulit tidur. Rasanya seperti ada benjolan kecil di bawah kasur yang tidak bisa ia singkirkan. Akhirnya, ia menemukan jawabannya—Galih menginginkan tubuhnya, meskipun pria itu mencintai wanita lain. Gempita. Wanita yang bahkan ayahnya sendiri katakan sebagai tipe ideal Galih. Seseorang yang tidak akan pernah bisa ia tiru. Sheila merasa bersalah, tetapi kini ada hal lain yang mengganggunya. Campuran antara penyesalan diri dan rasa malu karena kemungkinan ia adalah kombinasi mengerikan antara April dan ibunya—kecantikan yang tak bisa diabaikan ayahnya, dan uang yang tidak bisa ia lepaskan. Ada sedikit kelegaan mengetahui bahwa Galih tidak akan selingkuh, tetapi ia membenci perasaan lega itu. Meskipun secara legal ia adalah istri pria itu, Sheila merasa seperti wanita lain dalam pernikahan ini. Ia meninju bantal dan berbalik, menarik seprai lebih dekat. Pernikahan ini akan menjadi sukses besar jika Galih tidak melakukan apa pun yang mempermalukan atau menghancurkannya. Galih selalu percaya pada keseimbangan dalam segala hal. Motonya tetap sederhana sejak sebelas tahun yang lalu, dan Sheila merasa itu tidak berubah sejak saat itu. Ya, begitulah adanya. Fokus pada hal yang positif. Ia membayangkan semua hal yang Galih dapatkan dari hubungan ini—perusahaan yang ia cintai, pasar baru bagi My Jewelry. Dan nanti, setelah ia selesai membuat semua menjadi miliknya, ia akan memberikan Galih apa pun yang pria itu inginkan, termasuk perceraian jika itu yang diinginkannya agar bisa bebas bersama Gempita. Tidak ada yang mendapatkan semua yang mereka inginkan. Selalu ada pengorbanan. Sheila hanya berharap hal itu tidak terdengar begitu mementingkan diri sendiri di dalam kepalanya. Ketika Galih membuka matanya keesokan paginya, waktu baru menunjukkan pukul lima lewat seperempat. Ia duduk dan memutar lehernya, berusaha menghilangkan rasa pegal yang menghantuinya. Sudah menjadi rutinitasnya untuk bangun sebelum pukul enam, tetapi pagi itu kepalanya terasa sedikit pusing akibat kurang tidur. Ia tidak bisa menyalahkan tempat tidur yang tidak dikenalnya, karena kasur itu cukup nyaman. Bukan pula karena apartement besar yang begitu luas dan tenang. Yang mengganggunya adalah bau deterjen yang familiar, yang entah bagaimana, mengingatkannya pada Sheila. Tidak ada alasan logis untuk hal itu mengganggunya, tetapi nyatanya, ia tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan setelah mencoba mengalihkan pikirannya dengan merokok, berharap hal itu akan membantunya rileks, ia tetap merasa gelisah. Setelah mandi sebentar, Galih mengambil beberapa pakaian olahraga dari koper yang dikirim petugas tadi malam, lalu melangkah keluar ke aula yang panjang dan sunyi. Kamar Sheila berada di ujung seberang apartement seluas 400 m2. Memiliki kamar tidur terpisah bukanlah sesuatu yang pernah ia pikirkan akan diterima dalam pernikahan, tetapi ini bukanlah situasi biasa. Sheila membuatnya merasakan hal-hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—emosi yang tidak logis dan tidak teratur. Ia tidak pernah mengharapkan Sheila menatapnya seperti menatap orang yang dicintainya, tetapi ia juga tidak seharusnya kehilangan ketenangannya. Bahkan sekarang, saat mengingat bagaimana Sheila meleleh dalam genggamannya, tubuhnya bereaksi tanpa bisa dikendalikan. Namun, Galih menolak untuk membiarkan dirinya terbawa suasana lagi. Apartement Sheila di Jakarta berada di Komplek Apartement Davinchi, apartement mewah yang berada di Jalan Sudirman adalah bangunan megah berlantai 34. Lokasi Apartement Sheila berada di lantai paling atas dengan pemandangan yang luar biasa. Semalam, Sheila mengajaknya berkeliling untuk menunjukkan setiap sudut apartementnya. Tiga kamar tidur, 2 kamar kerja, empat kamar mandi, dan jatah parkir 10 mobil. Ruang tamu yang besar dan ruang entertainment dengan TV 80 inch, ruang fitness, dua dapur lengkap, dan ruang service untuk asisten rumah tangga dan juga supit. Semua dirancang dengan elegan dan modern. Salah satu kamar kerja telah diubah menjadi kantor pribadi untuknya—sikap perhatian lain dari Sheila yang tidak ia duga. Sejujurnya, banyak hal tentang Sheila yang bertentangan dengan ekspektasinya. Galih berjalan ke arah ruangan fitness. Ruangan itu sudah diisi dengan suara musik yang mengalun lembut. Matanya langsung menangkap sosok Sheila yang sedang berlari di atas treadmill. Tidak seperti kebanyakan wanita di lingkungannya yang berolahraga hanya untuk berfoto dan berpose, Sheila tampak benar-benar serius. Keringat membasahi wajahnya yang memerah, dan tubuhnya bergerak dengan ritme yang stabil. “Pagi,” sapanya di antara napas yang terengah-engah. Galih hanya mendengus, merasa sedikit terganggu dengan efek suara napasnya yang mengingatkannya pada kejadian di limusin semalam. Darahnya menghangat. “Kalau kau mau lari, aku punya waktu lima belas menit lagi,” kata Sheila. “Tidak.” Galih menelan ludah, matanya tak bisa menghindari pemandangan tubuh Sheila yang begitu sempurna dalam balutan pakaian olahraga. Sheila hanya mengangkat bahu dan kembali fokus pada latihannya. Napasnya yang sedikit terengah-engah terdengar begitu menggoda, meskipun Galih berusaha mengabaikannya. Galih menuju power rack untuk melakukan squat. Namun, pikirannya tidak bisa lepas dari bayangan Sheila yang bergerak lincah di atas treadmill. Ia melihat pantulannya di cermin besar di ruangan itu, menyaksikan bagaimana tubuhnya bergerak, bagaimana keringat mengilap di kulitnya. Saat Sheila beralih ke latihan peregangan di palang pilates, Galih merasa tubuhnya semakin panas. Gerakan Sheila begitu lentur dan memukau. Ia menarik kakinya ke belakang hingga hampir menyentuh punggungnya, dan saat ia sedikit membungkuk, mendorong dadanya ke depan, Galih kehilangan fokus sepenuhnya. Ia menjatuhkan diri dari pull-up bar, berusaha mengendalikan pikirannya yang semakin liar. Ketika Sheila akhirnya selesai dan berbalik menatapnya, ia tersenyum. “All yours.” Galih tahu maksudnya adalah pusat kebugaran itu, tetapi otaknya menangkap makna yang berbeda. Dengan langkah panjang, ia mendekati Sheila. Mata Sheila membelalak saat ia semakin mendekat, keterkejutan tergambar jelas dalam tatapannya. “Berapa banyak pria yang melihatmu berpose seperti itu?” suaranya rendah, nyaris menggeram. Sheila mengernyit. “Aku tidak pernah menghitung. Kenapa?” Seolah wajar baginya untuk memperlihatkan tubuhnya seperti itu di depan pria lain. Sesuatu dalam diri Galih mengakar kuat—hasrat untuk menandainya, untuk membuatnya mengerti bahwa ia adalah miliknya. Ia menarik Sheila lebih dekat, menekan tubuhnya ke tubuh Sheila hingga ia bisa merasakan panas tubuhnya melalui pakaian. Sheila tersentak, tetapi tidak menjauh. Sebaliknya, ia membalas dengan mendesah pelan. Tanpa berpikir, Galih mencium Sheila dengan penuh nafsu. Tidak ada kelembutan, hanya dorongan mentah dari hasrat yang telah tertahan. Jari-jarinya mencengkeram pinggang Sheila, menariknya lebih dekat, sementara Sheila mengalungkan tangannya ke lehernya. Namun, di tengah panasnya momen itu, pikiran logis Galih menyelinap kembali. Ia harus berhenti. Ia tidak akan mengambil risiko. Dengan usaha yang luar biasa, ia menarik diri. Napasnya masih berat saat ia berujar, “Sarapan.” Sheila menatapnya dengan mata yang masih berkabut oleh hasrat, seakan memahami apa yang baru saja terjadi. Namun, ia tidak mengatakan apa pun. Ketika mereka akhirnya duduk untuk sarapan di dapur, seorang pria tua yang tampaknya adalah pelayan pribadi Sheila menyambut mereka dengan sikap tenang dan sopan. “Selamat pagi,” katanya sambil menyajikan kopi untuk mereka berdua. Galih mengamati pria itu. Mata pria itu sempat melirik cincin kawinnya sebelum kembali ke ekspresi netralnya. Ada sesuatu dalam caranya berbicara yang memberi kesan bahwa ia tidak menyukai Galih. “Apakah kamarmu nyaman?” tanyanya, suaranya terdengar terlalu santai. Galih tersenyum tipis, menyadari ketidaksukaan pria itu. “Sangat.” “Saya terkejut ketika Nona Sheila meminta saya untuk menyiapkan kamar tidur tambahan,” lanjut pria itu, nada suaranya masih sopan, tetapi ada sesuatu yang tersirat. Galih tidak ingin memberikan kesempatan untuk mendengar alasan asli mereka. Maka, dengan nada santai, ia berkata, “Sepertinya aku mendengkur.” Pelayan itu mengangkat alis, sementara Sheila menatap Galih dengan ekspresi tercengang. Pertukaran kecil itu membuat Galih semakin yakin satu hal—permainan ini baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan Sheila menguasai semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD