Bastian dan Tara hanya saling tatap tanpa mengatakan apa-apa. Masing-masing saling mengontrol emosi mereka yang bisa meledak kapan saja. Terutama Tara. Ia merasa dirinya sangat dan paling rapuh pagi itu. "Tina sangat menyesal meninggalkan Anda, Pak Bastian. Sejak kedatangannya ke sini, hari-harinya hanya diisi dengan meratapi Anda." Penjelasan Maria membuat Bastian mengangkat sebelah ujung bibirnya memberi kesan tidak percaya. Sesaat kemudian pandangan Maria jatuh pada Tara. "Tara, Tina itu hanya korban." Tara menautkan alisnya hingga kulit di tengah kedua alisnya berkerut. Tatapan menyelidiknya menuntut Maria untuk mengatakan lebih banyak dan Tara tidak sabar untuk itu. "Apa maksudmu, Maria?" Tatapan Maria beralih ke Suster Whilma untuk meminta persetujuan Suster senior itu. "Sus—" Su

