Malam itu, masih di Yogyakarta Tara duduk di balkon kamar hotelnya bersama Bastian. Pandangan mereka memindai bunga-bunga yang diterpa cahaya lampu taman. Mereka masih tampak indah dan menawan meskipun dilihat di malam hari. Bastian menumpuk tangannya di atas tangan Tara lalu menggenggamnya erat seperti tidak ingin kehilangan perempuan itu lagi. Satu kali mengalami derita kehilangan, sudah cukup, pikirnya. Tara mengalihkan pandangannya ke arah Bastian. Wajah Bastian yang dilihatnya dari samping sama memukaunya ketika ia melihat dari arah depan. Dilihat dari sudut mana pun, pria itu selalu tampak memukau bagi Tara. Ia bahagia ketika akhirnya ia bisa memiliki si pemilik wajah itu. “Kenapa kamu tidak bilang pada Ayah kalau aku sudah berbuat jahat?” Tara menelan ludah dan menjeda ucapann

