Lampu-lampu sorot di halaman rumah utama keluarga Dewantara masih menyala terang membelah kegelapan tatkala Althair tiba. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit malam. Sedan hitam yang dikendarainya berhenti mulus tepat di depan teras megah bergaya arsitektur klasik tersebut. Seorang staf rumah berjas rapi bergegas mendekat dan membukakan pintu mobil dengan sikap hormat. ”Pak Baskara sudah menunggu Dokter di ruang kerja pribadi beliau,” lapor staf tersebut dengan suara pelan. Althair menganggukkan kepalanya singkat. “Terima kasih.” Ia melangkah masuk tanpa banyak bicara. Rumah kediaman utama itu masih persis sama seperti yang selalu ia ingat sejak masa kecilnya. Luas. Rapi tanpa cela. Namun teramat sunyi. Tidak ada dentang suara televisi yang menyala, ti

