BAB 75

1240 Words

Pintu kayu jati tebal di ruang konferensi medis utama akhirnya berayun terbuka. Althair Dewantara melangkah masuk ke dalam ruangan dengan derap langkah kaki yang tenang dan teratur. Pria itu masih mengenakan jas putih yang sama sejak pagi hari. Di jemari tangannya, sebuah map tebal berisi dokumen hasil rapat direksi eksekutif masih tergenggam amat erat. "Maaf," tutur Althair pendek dengan intonasi suara yang datar dan lugas. "Saya terlambat lima belas menit." Kalimat itu diucapkan secara efektif tanpa menyertakan alasan yang berbelit-belit, apalagi pembelaan diri. Namun... bagi orang-orang yang telah bertahun-tahun bekerja berdampingan dengannya, ucapan permintaan maaf tersebut terasa sangat tidak biasa. Selama bertahun-tahun mengabdi di Departemen Bedah Saraf Dewantara Medika, seorang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD