”Dokter Althair sama Koas Zayna lagi.” Kalimat itu terucap dengan volume teramat pelan di sudut ruang perawat. Awalnya, sentimen itu hanyalah sebaris bisikan iseng di sela-sela pergantian jadwal shift. Namun, seperti percikan api di atas rumput kering, desas-desus itu dengan cepat berpindah ke area pantry, turun ke ruang residen, melesat naik lagi ke koridor ruang operasi, hingga akhirnya mengunci perhatian seluruh penghuni departemen. Dalam waktu kurang dari dua hari, hampir satu lantai departemen bedah saraf membicarakan topik yang sama. Bukan karena Althair dan Zayna tertangkap basah sedang berduaan di tempat sepi. Bukan pula karena mereka melakukan tindakan indisipliner yang melanggar kode etik rumah sakit. Melainkan karena sebuah anomali besar yang kasat mata, Dokter Althair yan

