Luka yang Tak Pernah Sembuh

1089 Words
Aku masih ingat malam itu dengan jelas. Terlalu nyata. Terlalu menyakitkan untuk dilupakan. Hujan turun sejak sore, membasahi atap seng rumah kontrakan kecil kami. Angin berdesir lewat celah jendela yang tak pernah benar-benar rapat. Aku baru saja menidurkan Arsa, setelah ia rewel sejak sore. Demamnya belum sepenuhnya turun. Aku masih menempelkan handuk basah di dahinya, ketika suara gedoran keras mengguncang pintu depan. “Buka! Polisi!” Aku tersentak. Jantungku seolah berhenti berdetak. “Ma, ada apa?” Arsa menggeliat, matanya setengah terbuka. “Gak apa-apa, Nak. Tidur lagi,” bisikku, berusaha setenang mungkin meski tanganku gemetar hebat. Gedoran itu semakin keras. Disusul suara beberapa orang yang saling berteriak. Aku berdiri dengan kaki lemas, melangkah menuju pintu dengan napas tercekat. Saat pintu kubuka, beberapa pria berseragam sudah berdiri di depanku. Wajah mereka tegas, dingin, tanpa ekspresi. “Selira Wulandari?” tanya salah satu dari mereka. “I-iya. Ada apa, Pak?” Tanpa banyak bicara, mereka langsung masuk. Satu orang mengeluarkan surat, satu lagi mulai menggeledah rumah. Aku terpaku, tak paham apa yang sedang terjadi. “Ini ada apa? Tolong jelaskan!” Suaraku mulai meninggi, panik merayap ke d**a. “Kami mendapat laporan dan bukti awal terkait dugaan kepemilikan narkotika di rumah ini.” Dunia seakan runtuh di kakiku. “Apa? Itu gak mungkin! Saya nggak pernah—” Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, salah satu dari mereka mengeluarkan bungkusan plastik kecil dari laci dapur. Isinya putih, mencurigakan. “Kami temukan ini.” Aku terhuyung. “Itu bukan milik saya! Saya gak tau itu apa!” Tapi kata-kataku terdengar seperti angin lewat. Mereka tak peduli. Tak ada yang mau mendengar. “Bu, mohon ikut kami ke kantor untuk dimintai keterangan.” “Gak mau! Tolong… saya gak bersalah!” Suaraku bergetar. Air mata mulai jatuh. “Saya punya anak kecil. Tolong….” Aku berlari ke arah Arsa, memeluk tubuh kecilnya erat-erat. Ia menangis ketakutan, memanggilku dengan suara lirih yang menghancurkan hatiku. “Mama… jangan pergi… jangan tinggalin Arsa…” Tanganku gemetar memeluknya. “Mama di sini, Nak. Mama di sini…” Namun detik berikutnya, tangan-tangan asing menarikku menjauh darinya. “Jangan sentuh anak saya!” teriakku histeris. Tangisan Arsa semakin kencang. Ia berusaha mengejarku, tapi tubuh kecilnya dihalangi oleh salah satu petugas. “Mama… Mama!” Jeritannya menembus dadaku seperti pisau. Aku berontak. Menangis. Memohon. Tapi semua sia-sia. Borgol dingin melingkar di pergelangan tanganku. Klik. Suara itu seperti vonis mati. Aku diseret keluar rumah, masih menoleh ke belakang, melihat Arsa berdiri di ambang pintu. Wajahnya basah oleh air mata, tangan kecilnya terulur padaku. Di halaman, beberapa tetangga sudah berkumpul. Ada yang menatap iba. Ada yang berbisik-bisik. Ada pula yang hanya menonton dengan wajah penasaran. “Mama! Jangan pergi!” Aku menjerit histeris. “Arsa! Mama di sini! Mama gak akan pergi! Ibu janji!” Aku sudah hampir menyerah ketika dari balik kerumunan aku melihat sosok yang kukenal. Bu Rini. Tetangga depan rumah yang sering meminjamkan gula, yang kadang menggendong Arsa saat aku harus ke warung, yang sering tersenyum hangat meski hidupnya sendiri tak mudah. Dia berdiri terpaku di dekat pintu. Wajahnya pucat dengan kedua tangan yang gemetar saat melihatku diborgol. Dan di pelukannya… Arsa. Anakku. Aku berhenti meronta. Nafasku tercekat. Pandanganku mengabur oleh air mata. “Bu Rini!” teriakku dengan sisa tenaga. “Bu… tolong…” Ia menoleh, matanya berkaca-kaca. Arsa meronta dalam gendongannya, tangannya terulur ke arahku. “Mama! Mama jangan pergi!” jeritnya, suaranya pecah. Dadaku seperti diremas kuat-kuat. “Bu Rini!” suaraku pecah. “Tolong… tolong jagain Arsa. Tolong ya… jangan tinggalin dia sendirian. Dia masih kecil, dia masih butuh aku…” Aku tak lagi peduli siapa yang melihat. Air mataku mengalir deras, tubuhku gemetar hebat. Aku hampir berlutut di hadapannya. Bu Rini mengangguk cepat tanpa berkata. Namun, justru itu menghantam dadaku lebih keras dari borgol di pergelangan tangan. “Makasi… makasih, Bu.” Suaraku patah. “Tolong bilang ke Arsa… bilang mamanya nggak ninggalin dia. Bilang mama cuma pergi sebentar…” Aku menangis tersedu-sedu. Tangisku pecah tanpa bisa kutahan lagi. Arsa meronta lebih keras. Tangisnya menusuk jantungku seperti ribuan jarum. Aku berusaha mendekat, tapi dua polisi menahanku. Aku hanya bisa mengulurkan tangan sejauh yang kubisa. “Ibu di sini, Nak. Ibu di sini…” Suaraku hancur. “Jadi anak baik ya. Dengar kata Bu Rini. Jangan nakal… Mama pasti pulang…” Pintu mobil terbuka. Aku didorong masuk. Sebelum pintu tertutup, pandanganku bertemu sekali lagi dengan mata Arsa yang sembab, tangan kecilnya masih terulur, mulutnya memanggil namaku tanpa suara. “Ma… ” Pintu ditutup. Bunyi besi itu seperti palu yang menghantam dadaku. Mobil mulai berjalan. Dan di balik kaca yang buram oleh air mata, aku melihat sosok kecil itu semakin menjauh, dipeluk oleh tetangga yang berusaha menenangkannya. Sementara aku, ibunya, dibawa pergi tanpa bisa berbuat apa-apa. Saat itulah aku sadar… bukan hanya kebebasanku yang direnggut malam itu. Tapi juga separuh dari jiwaku. *** Di kantor polisi, aku diinterogasi berjam-jam. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan seperti peluru. Sejak kapan kau memakai? Dari mana barang itu? Siapa pemasokmu? Sudah berapa lama kau mengedarkannya? Aku menjawab semuanya dengan satu kalimat yang sama. Aku tidak tahu. “Tolong, saya gak tau apa-apa,” kataku berkali-kali. Suaraku serak, tenggorokan perih. Mereka saling pandang. Ada yang mencatat, ada yang mendesah bosan. “Kami punya bukti,” kata salah satu penyidik dingin. “Dan saksi.” “Saksi?” Aku tertawa pahit. “Siapa? Siapa yang bilang itu milik saya?” Tak ada jawaban. Yang ada hanya tatapan yang seolah sudah memvonisku bersalah. Saat malam menjelang, aku duduk sendirian di sel sementara. Dingin. Bau lembap. Lantai keras menusuk tulang. Aku memeluk lutut, membiarkan air mata jatuh tanpa suara. Aku mencoba mengingat setiap detail hidupku beberapa hari terakhir. Siapa yang datang ke rumah. Siapa yang menitipkan barang. Siapa yang mungkin membenciku. Dan tiba-tiba, satu nama melintas di benakku. Nama yang membuat dadaku sesak. Seseorang yang belakangan ini sering datang… terlalu sering. Seseorang yang tahu kebiasaanku. Seseorang yang pernah menawarkan “bantuan”. Hatiku berdebar keras. Tidak… tidak mungkin. Aku menggeleng kuat, menolak pikiran itu. Namun satu hal yang pasti: aku dijebak. Dan kini, aku sendirian. Tak ada suami. Tak ada keluarga. Tak ada siapa-siapa. Hanya tembok dingin dan masa depan yang gelap. Aku memeluk tubuhku sendiri, berusaha menahan tangis yang kembali naik. “Ya Allah…” bisikku lirih. “Kalau memang ini ujian-Mu… tolong, jangan ambil anakku.” Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. Di luar sana, dunia terus berjalan. Namun di dalam sel sempit itu, hidupku seperti berhenti. Dan aku belum tahu… bahwa ini baru permulaan dari mimpi buruk yang jauh lebih kejam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD