Tolong Lupakan

1051 Words
“Apalagi yang kamu tunggu? Rasakan semua sisi tubuhku! Seluruhnya.” ujar Annie melangkah keluar dari gaun yang mengitari kakinya. Ryan yang melihat pemandangan indah di depannya tentu tidak bisa lagi mengelak, dan memang tidak ingin mengelak. Segera ia bangkit dari tempat tidur dan menjatuhkan tubuh wanita setengah polos itu ke atas ranjang. “You’re so sexy and i like it,” ujarnya dengan suara parau. Hasrat yang sudah sampai ke ubun-ubun telah membutakan mata hatinya. ‘Kan yang menawarkan diri adalah dia sendiri. Aku hanya tidak menyia-nyiakan rejeki di depan mataku.' Ryan memulai lagi cumbuannya, mulai dari bibir. Bibir Annie yang berlipstik merah itu sudah pudar karena saking dahsyatnya adu bibir di antara mereka. Saling berlomba menyalurkan gelora gairah yang panas. Mencari kenikmatan dari sentuhan satu sama lain. Bibir Ryan mulai turun ke leher Annie. “Parfum kamu enak banget, wangi apa ini?” tanyanya. “Wangi surga dunia,” jawab Annie asal. Ia sedang tersengal akibat gulungan ombak rangsangan yang diberikan Ryan padanya. “Hmmm enak banget,” desahan Annie memenuhi kamar itu. Ryan tenggelam dalam lautan hasrat. Mengecup setiap bagian dari yang tidak tertutup oleh kain pelapis apapun lagi, setelah ia melepaskan semuanya yadi. Tidak lupa ia meninggalkan tanda merah di sana. Bukan sebagai tanda kepemilikan, tapi Ryan suka saja membuat dan melihat tanda seperti itu di setiap tubuh wanita yang ia tiduri. Makin ke bawah, untuk menjamah lebih dalam. Desahan Annie makin kencang akibat sentuhan yang Ryan gencarkan. “Lo suka, hmm?” tanya Ryan sambil terus menjamah. Sengaja berlama-lama karena ia ingin main-main lebih dulu. “Iyah gue suuuuka,” jawab Annie tertatih-tatih. Kepalanya pening akibat permainan Ryan. Ini baru pembuka, apalagi nanti permainan intinya. “Ayooo, lagi! Kenapa lo malah berhenti?” pinta Annie gemas. Ryan terkekeh, “Lo gak sabaran juga yah ternyata.” Sedetik kemudian, Annie makin menggila. Bergerak liar hingga seprai yang membalut kasur itu pun mulai terlepas. Semakin dalam menyentuh, Ryan mengetahui sesuatu. ‘She’s not virgin,’ batinnya. Tapi itu bukan masalah. Bahkan berdasarkan penelitian ada yang mengatakan bila delapan puluh lima persen wanita di dunia ini sudah kehilangan segelnya semenjak usia lima belas tahun. Sekuat tenaga Annie berusaha agar tidak kalah dan lepas tidak di saat permainan yang sebenarnya. Tapi tubuhnya berkhianat. Annie memperoleh pelepasan pertamanya dengan sangat dahsyat. Desah panjang Annie terdengar seksi di telinga Ryan. “I have done to taste you,” ucapnya seduktif dengan senyum kemenangan. Mata Annie menyendu, dengan nafas yang masih Senin Kamis. Ryan pikir ia akan sedkit jeda waktu sebelum mereka memulainya lagi. Malam masih panjang jadi mereka masih punya banyak waktu. Tapi ajaibnya Annie lalu menopang tubuh dengan sikunya, berusaha bangkit. Berdiri dengan kedua lutut yang sebenarnya masih bergetar. “Sekarang giliranku untuk menyamakan skor.” * Kepalanya terasa berat, disertai pukulan yang berulang kali menghantam. Dengan susah payah Annie berusaha membuka mata. Ada sebuah tangan berat yang menimpa perutnya. Tangan berbulu agak lebat dari lelaki yang kini tengah mendengkur halus di sisinya. Annie mengutuk dirinya, bukan tak ingat dengan kejadian semalam. Ingat, sangat ingat. Apalagi ketika ia dan Ryan bergantian memimpin permainan panas di antara mereka. “s**t. Dari mana lo liat banget ya? Enak banget. Damn it!” umpat Ryan mewakili kenikmatan yang ia rasakan. Semalam itu Ryan keluar dan masuk dengan lancar, tanpa hambatan. Tidak ada selaput dara yang sobek atau juga bercak darah dari diri Annie. Hal itu sudah terjadi pada lelaki pertama yang menyentuhnya. Dan sepertinya Ryan tak mempermasalahkan. Buktinya lelaki itu mengayuh di atas tubuh Annie dengan begitu semangat dan performa tingkat tinggi. Tidak ada sejarahnya wanita mengalahkan Ryan di ranjang. Yang Annie tak tahu, Ryan nyaris kalah oleh wanita belia di bawahnya itu. Hangatnya tubuh membuat suasana kamar makin panas. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali sampai matahari bangkit dari peraduannya. Tak ada yang ingin berhenti, jika saja tubuh keduanya tak ada yang bisa mengalah. Annie yang biasa menahan diri, tak berlaku untuk semalam. Semua jiwa liarnya di ranjang ia keluarkan tanpa sisa. Semua yang ia tahu, langsung ia praktekkan semalam. Tanpa batas, tanpa malu. Berulang kali Ryan melontarkan pujian akan kehebatannya, membuat Annie makin melambung tinggi dan terus menunjukkan kebolehannya. No feeling, hanya ingin membalaskan rasa sakit hatinya setelah melihat pacarnya yang selama ini terlihat baik, alim dan kalem ternyata berselingkuh dengan teman kampusnya. Dan yang paling menyakitkan adalah pacarnya yang bernama Firman itu malah mengatai Annie yang marah karena memergokinya berselingkuh. “Lo gak usah berlebihan Annie, toh gue juga bukan yang pertama buat lo. Lo udah dipake sama cowok lain sebelum sama gue. Atau mungkin sudah banyak lelaki lain yang ngeduluin gue, jadi lo gak usah kaget kalau gue main sama cewek lain juga. Masa gue yang dapat barang bekas harus memperlakukan barang itu dengan sangat berharga? Rugi dong gue." Annie sakit hati, kemudian ia mendatangi klub yang belakangan ini jarang ia kunjungi sejak berpacaran dengan Firman. Dan berakhir dengan saling mencicipi tubuh di kamar hotel seperti semalam. Perlahan, Annie menyingkirkan tangan Ryan dari tubuhnya. Lelaki itu hanya menggeram, kemudian membalikkan tubuh membelakanginya. Annie menghela nafas sangat pelan. Kini mabuknya telah hilang, otaknya pun mulai berpikir jernih. 'Sekarang dia udah tahu siapa aku. Gimana kalau dia ngasih tahu yang lain?' pikirnya gusar. Annie bangkit, beberapa bagian tubuhnya terasa pegal, bagian paling pribadinya pun terasa sedikit perih. Ia harus bergegas membersihkan tubuhnya, lalu pergi secepat mungkin. * Ryan terbangun akibat suara ponselnya yang terus berdering. Menggeliat, bangun untuk duduk dan menyandarkan punggung ke headboard. Ia meraih ponsel yang tergeletak rapih di samping nakas tempat tidur, begitu juga dengan pakaian yang tergantung rapih di sandaran sofa. Padahal seingatnya tadi malam ia membuat pakaiannya dengan sembarangan. “Iya, Boss. Sorry gue baru bangun,” ujarnya menjawab panggilan dari Reza, Boss sekaligus sepupunya. “Oke, gue langsung ke tempat meeting,” ujarnya lagi kemudian memutuskan panggilan itu. Ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut akibat hang over karena alkohol yang ia minum sebelumnya. Kini ia sadar bila saat ini hanya tinggal seorang diri di kamar itu, padahal seharusnya ia bersama seorang wanita. Kemana wanita itu? Tapi ia tidak peduli karena sekarang ia punya urusan yang lebih penting. Pagi ini ada meeting dengan klien yang harus ia hadiri bersama Reza. Ia pun bergegas ke kamar mandi. Tapi secarik kertas yang tergeletak di atas bantal di sampingnya duduk langsung menarik perhatiannya. “Apapun yang terjadi tadi malam, tolong lupakan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD