Tapi, Rhea benar-benar tidak bisa memanggil dengan sebutan itu. Geli sendiri terasa lebay, apalagi mereka juga bukan pacar. “Gen ….” Dia menggeliat begitu Genta membenamkan wajah di ceruk lehernya. Mengendus dan menjilat, tapi kemudian Rhea mendesis oleh rasa perih. Pria sinting ini benar-benar membuktikan gertakannya. Jengkel, Rhea menjambak rambut Genta. Menarik menyingkir bibir keranjingan itu dari lehernya. “Jangan Gila! Mama kalau aku pulang dari main, selalu melotot melihat ada yang aneh apa nggak!” geramnya, tapi Genta malah terkekeh. “Panggil Ayang Bumi dulu!” pintanya. “Nggak!” tolak Rhea. “Ayang!” ucap Genta, tapi Rhea tetap menggeleng. “Bumi! Cuma kamu yang boleh panggil gitu!! Ayangnya buat aku panggil kamu saja!” Rhea sudah mau protes ketika bibirnya dibungkam oleh

