bc

Saat Maafmu Tak Berarti Lagi

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
family
second chance
kickass heroine
boss
drama
bxg
selfish
like
intro-logo
Blurb

Mengalami keguguran untuk yang kedua kali, membuat Viona mulai mempertanyakan kesetiaan Kaylan—suaminya. Mungkin saat keguguran pertama Vio masih bisa berbesar hati, akan tetapi untuk yang kedua kali, dan tidak adanya peran sang suami, membuat rasa kecewanya sangat mencuat.Bukan tanpa alasan, ternyata Kaylan lebih memilih menemui sahabat wanitanya dibanding menolong Vio yang sedang pendarahan karena jatuh dari tangga. Di saat rumah tangganya tengah renggang, Denisya masuk dan mengatakan kalau dia sangat membutuhkan Kaylan dikehidupannya.Vio yang sudah terlalu lelah, memilih untuk berpisah. Akan tetapi Kaylan tidak mau. Pria itu meminta kesempatan kedua untuk berubah. Lantas, apakah Vio akan memberikan kesempatan kedua untuk Kaylan? Atau justru perpisahan menjadi jalan keluar?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Nikahi Dia Saja
“Vi? Lo butuh sesuatu? Kaylan lagi diperjalanan.” “Gue ngga mau ketemu sama dia.” “Viona.” “Gara-gara dia anak gue meninggal.” Viona Ellea Arzani, atau yang akrab dipanggil Vio kembali terdiam. Matanya menatap lurus ke depan. Dadanya masih bergemuruh, tetapi dia tak bisa berbuat apapun karena tubuhnya masih sangat lemas. Vio tidak mau menangis, tetapi sialnya air mata tetap jatuh. Buat siapapun yang melihat, mereka pasti akan iba pada Vio. Bagaimana tidak iba, dalam kondisi berduka dia tidak ditemani suami. Bukan karena tak punya, namun pria itu sibuk entah apa yang dikerjakan. Hari ini, Vio kembali kehilangan calon buah hatinya. Ini bukan kali pertama, namun yang kedua. Mungkin saat yang pertama Vio bisa sedikit bersabar, tapi kali ini tidak. Perlahan Vio merebahkan tubuhnya, lalu memejamkan mata. Dia membiarkan air matanya terus mengalir dari sudut mata. Wajar saja kalau dia menangis karena baru kehilangan sang anak yang sudah dinanti dan dijaga selama tiga bulan. “Vio?” Mata Vio semakin rapat saat mendengar namanya dipanggil oleh suara yang tak asing. Semua yang ada di dalam ruangan keluar, memberi ruang untuk Kaylan dan Vio berbicara. Walaupun sebelumnya Vio bilang tak mau bicara, tetap saja mereka memberi ruang. Setelah semua orang pergi keluar, Kaylan mendekati Vio, memegang tangannya. Tangan yang digenggam, Vio hanya diam. Dia tak berkutik, matanya juga tak terbuka. Walaupun sebetulnya Vio ingin sekali meledak-ledak dan menangis sejadinya. “Viona, maafin saya.” Vio tidak menyahut, dia masih diam. Walaupun diam, air matanya tetap mengalir. Melihat istrinya menangis, Kaylan semakin merasa bersalah. Pria itu mencoba memeluk, namun dengan cepat Vio membuka mata lalu menahan d**a bidang suaminya. “Kamu mending pergi, Mas. Pergi dari hadapan aku sekarang. Aku ngga mau liat kamu untuk sekarang dan beberapa hari ke depan.” “Vio, saya benar-benar minta maaf. Saya tau saya salah, tapi saya punya alasan. Iya alasan saya salah, saya akuin itu. Makanya saya minta maaf sama kamu.” “Apa dengan kata maaf anakku bisa kembali?” “Vio.” “Engga, Mas, engga! Anakku ngga akan bisa kembali! Jadi simpan aja kata maafmu itu karna ngga berguna. Lebih baik kamu pergi, urusin aja Denisya, dia lebih butuh kamu daripada aku,” sahut Vio disisa-sisa tenaganya. Sejenak Kaylan terdiam, dia menatap wajah istrinya yang memerah karena menahan amarah. Kaylan tahu ini semua kesalahannya, dia tak akan menyangkal. Tubuh Kaylan merunduk, dia menciumi punggung tangan Vio berkali-kali. Kata maaf mungkin memang tak akan berarti lagi, maka dari itu Kaylan bingung bagaimana caranya mendapatkan maaf dari Vio. “Aku keguguran karna kamu, Mas! Semua karna kamu! Aku benci sama kamu, aku benci sama Denisya, aku benci kalian berdua!” teriak Vio. Vio yang mulai kehilangan kendali, coba Kaylan tenangkan. Dia memeluk, tak perduli tubuhnya dipukuli oleh sang istri. Tangisan Vio pecah, wanita itu terisak hebat di dalam dekapan Kaylan. Kaylan yang mendengar pun tak kuasa menahan air matanya. Kemarahan Vio benar-benar sangat wajar. Bagaimana tidak, tadi pagi Vio di rumah sendirian dan dia jatuh dari tangga. Sebelum kejadian itu tekanan darah Vio sempat tinggi. Dia langsung menelepon Kaylan, tapi apa? Yang menerima panggilan adalah Denisya, sahabat Kaylan. Denisya bilang kalau Kaylan sedang buat makanan untuknya. Padahal tadi di rumah, pria itu pamit untuk ke kantor. Tapi siapa sangka kalau Kaylan akan ke apartemen Denisya. Di situ Vio juga bilang kalau dia butuh Kaylan, tapi ditunggu setengah jam suaminya tak kunjung pulang. Beruntung Verra datang, dia yang membantu Vio ke rumah sakit. Tapi sayang sekali, saat sampai rumah sakit, janinnya tidak bisa tertolong. Jelas Vio sangat marah kepada Kaylan yang lebih mementingkan Denisya daripada dirinya. Vio mendorong tubuh Kaylan menjauh dari tubuhnya. Masih sambil terisak Vio menutup tubuhnya dengan selimut. “Bukan kamu aja yang kehilangan, Vil, saya juga. Apa kamu kira saya ngga kehilangan? Itu juga anak saya. Ka—” “Omong kosong! Kalau kamu emang kehilangan dan sayang sama dia, ngga mungkin kamu nomor duakan kita, Mas. Tapi kenyataannya apa? Prioritas kamu tetap Denisya, bukan kita,” lirih Vio. Kaylan mengusap kasar wajahnya. Pria itu menatap tubuh istrinya yang ditutup oleh selimut. Jujur, Kaylan juga merasa kehilangan. Bukan hanya Vio, dia juga menanti anak ini setelah kejadian satu tahun yang lalu. Kaylan juga menyesali kejadian ini terulang kembali untuk kedua kalinya. Ditariknya kursi, lalu Kaylan duduk di samping Vio yang rebahan di atas kasur. Isakan masih terdengar, hal itu membuat Kaylan semakin frustasi. Tangan pria itu terulur, mencoba menarik selimut yang menutupi wajah istrinya. “Saya minta maaf, Vio. Maaf yang benar-benar maaf, saya tulus minta maaf. Saya tau kata maaf ngga akan mengembalikan dia, tapi setidaknya … saya mengaku salah. Saya sama Denisya juga ngga seintim yang kamu pikirkan. Vio, dia baru aja cerai sama Kevin. Iya saya salah karna tadi pagi ngga jujur sama kamu, saya salah. Tapi saya mampir karna dia butuh teman. Kalian sesama wanita, saya yakin kamu paham.” Sakit. Sakit sekali hati Vio mendengar penjelasan suaminya. Sesama wanita katanya? Untuk yang itu Vio tahu. Tapi apa pantas dibayar dengan kehilangan buah hati? Vio juga tahu kalau Denisya sedang terpuruk karena perceraiannya, tetapi tadi pagi dia juga butuh pertolongan segera. Mungkin kalau langsung ke rumah sakit, anaknya bisa terselamatkan. Dari sini saja Vio tahu, prioritas Kaylan tetaplah sahabatnya. Sahabat yang tahtanya melebihi istri sah. Lelah. Vio benar-benar lelah. Sungguh, dia tak kuat untuk mendengar perkataan suaminya lagi. “Tapi setelah ini saya janji akan lebih prioritasin kamu dan rumah tangga kita, Vil,” ujar Kaylan sambil mengenggam tangan lemah istrinya. Vio menarik tangannya, lalu dia menatap suaminya dengan penuh emosi. “Kata-kata itu Cuma penenang, Mas. Karna pada kenyataannya kamu sering bicara begitu, dan hasilnya apa? omong kosong. Lagi-lagi aku yang ada di nomor dua.” “Untuk kali ini aja, kasih saya kesempatan. Kasih saya kesempatan untuk berubah.” Kepala Vio menggeleng. “Berubah? Kamu mau berubah? Omong kosong juga. Setiap hari kamu bilang mau berubah, aksinya ngga ada. Muak aku dengarnya.” “Vio,” panggil Kaylan lembut. “Mas? Apa kamu ngga ada niatan buat nikahin Denisya aja? Daripada kalian berlindung dibalik kata sahabat, tapi kenyataannya lebih dari itu. Mending kamu nikahin dia, hidup sama-sama, hilangin trauma dia soal Kevin. Aku? Haha, aku ngga usah dipikirin. Aku siap mundur kalau kalian memang punya rencana untuk menikah. Denisya pasti senang dengar ini.” Tangan Kaylan terkepal mendengar perkataan Vio. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.2M
bc

The Silver Wolf

read
453.7K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.0M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
852.6K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.1M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.2M
bc

Unscentable

read
2.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook