Andini menarik napas pelan untuk meredakan rasa kesalnya sebelum menghampiri Hamdan dan Sarah yang sedang sarapan. Di saat yang bersamaan, Luna keluar dari kamar, dia adik kandung Hamdan.
"Ma, Pa, Andini ...."
"Pagi-pagi udah mau pergi, urusin dulu suami kamu, Andini!" potong Luna yang sudah berdiri di belakang Andini, lalu wanita itu duduk di samping Rahayu, ibunya.
Hamdan yang sedang menikmati tehnya langsung menyimpan cangkir dengan kencang. "Kamu bisa diam nggak, Luna? Jangan bikin keributan lagi!"
Luna mendengus sebal sambil mengoleskan selai di atas rotinya. "Mas sama Mbak terlalu memanjakan Andini, makanya dia seenaknya. Walau dia mandul, setidaknya urus suami dengan baik."
Andini tak tahan lagi, ia menatap Luna dengan tajam. "Tante tau dari mana kalau Andini mandul?"
"Perempuan yang udah lama menikah tapi belum hamil juga kalau bukan mandul apa namanya?"
Tangan Andini terkepal erat, harga dirinya kembali diinjak-injak. Mulutnya terbuka, bersiap untuk melawan. Namun, Sarah lebih dulu membuka suara.
"Kamu jangan asal menuduh, Luna. Andini sama Brian menikah belum ada setahun, wajar kalau Andini belum hamil," jawab Sarah.
"Semakin Mbak bela, semakin besar kepala menantu Mbak ini!" sindir Luna.
"Cukup, Luna!" Bentakan Hamdan membuat Luna dan Andini terkejut, tatapan tajam Hamdan tertuju pada adiknya. "Kalau kamu terus-terusan jadi kompor buat rumah tangga Andini dan Brian. Lebih baik kamu tinggal di rumah kamu lagi."
"Mas kenapa sih belain dia terus? Aku cuma mikirin masa depan Brian, dia harus punya keturunan!"
"Kalau kamu mikirin masa depan keponakan kesayangan kamu itu, lebih baik kamu urus dia sendiri sana. Nggak usah nyuruh-nyuruh Andini hamil. Atau kamu nikah lagi, dan punya anak sendiri. Kelamaan menjanda bikin mental kamu makin rusak, pikiran kamu jadi sempit!"
Sarah langsung menggenggam tangan Andini, ia melirik menantunya sekilas lalu tersenyum seolah memberikan isyarat bahwa ia dan suaminya selalu berpihak pada Andini.
"Kenapa Mas jadi nyinggung status aku, sih?"
"Kalau nggak mau disinggung, nggak usah nyinggung orang lain!"
Luna bungkam seribu bahasa, wajahnya memerah menahan malu sekaligus marah karena statusnya disinggung di depan menantu yang ia benci. Sementara itu, Rahayu hanya bisa melotot, tak berani membela putri kesayangannya kalau Hamdan sudah mengeluarkan suara baritonnya yang tegas. Bisa-bisa Hamdan juga mengusir Rahayu dari rumah mewah itu.
Andini menarik napas panjang. Ia tidak ingin meledakkan amarah seperti Brian atau Hamdan. Ia ingin menunjukkan harga dirinya tak bisa diinjak-injak seperti ini apalagi di depan wanita yang jelas-jelas diceraikan suaminya karena berselingkuh.
Andini melangkah mendekat ke arah Luna, membuat wanita itu refleks menatapnya. "Tante Luna," panggil Andini lembut, sangat lembut sampai Luna harus mendongak.
"Tante benar, aku sama Brian udah menikah hampir delapan bulan. Tapi, Tante lupa satu hal!" Andini menjeda kalimatnya sejenak, menatap Luna dengan tatapan kasihan yang sangat dalam. "Keturunan itu titipan Allah, bukan barang yang bisa Tante beli sesuka hati dan aku rasa, keponakan kesayangan Tante itu belum siap menjadi ayah. Aku yakin Mama dan Papa juga setuju. Daripada Tante sibuk menuntut aku biar cepat hamil, lebih baik Tante menghitung berapa kali Tante menyakiti hati orang dengan lisan Tante, bahkan Tante mengkhianati mantan suami Tante."
"Kamu—"
"Dan satu lagi," potong Andini sebelum Luna sempat memaki. "Status menantu kesayangan yang Tante tuduhkan tadi, aku nggak pernah minta. Mama dan Papa menghargaiku karena aku tahu cara menghargai mereka. Sesuatu yang sepertinya sulit Tante pahami, bahkan di usia Tante yang sudah jauh lebih matang dari aku."
Luna melongo, mulutnya terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Dia mati kutu. Dia baru saja dikuliti secara halus oleh keponakan menantunya di depan kakak kandungnya sendiri.
Andini tidak menunggu balasan. Ia berbalik, mencium punggung tangan Sarah dan Hamdan dengan sangat khidmat. "Ma, Pa, Andini berangkat sekarang. Maaf kalau suasana di rumah ini jadi kurang nyaman."
"Kamu belum sarapan, Sayang," ucap Sarah.
"Andini sarapan di kantor aja, Ma. Takut telat soalnya ada rapat penting pagi ini," jawab Andini.
"Hati-hati, Nak. Fokus kerja aja, urusan di sini biar Papa sama Mama yang beresin," ucap Hamdan dengan nada yang jauh lebih lembut.
Andini tersenyum tipis, lalu melangkah keluar dengan mantap. Ia bisa merasakan tatapan tajam dan penuh dendam dari Luna di punggungnya, tapi Andini tidak peduli. Begitu pintu depan tertutup, ia memejamkan mata sejenak, menghirup udara pagi yang terasa jauh lebih segar daripada udara di dalam rumah tadi.
Ia menyalakan mesin mobil, memutar lagu yang menenangkan, dan memacu kendaraannya menuju gedung BMR Tech. Begitu memasuki area perkantoran, Andini berubah jadi sosok yang berbeda.
Ia melangkah masuk ke lobi dengan percaya diri. Senyum ramah ia berikan kepada setiap karyawan yang menyapanya.
"Pagi, Bu Andini," sapa mereka dengan rasa hormat yang tulus.
Di BMR Tech ini, dia bukan menantu yang dihina mandul, dia bukan istri yang dianggap tua. Tapi dia, Andini Taleetha Rasyid yang cerdas dan diandalkan, seorang Manager Marketing Komunikasi yang disegani oleh timnya. Orang yang berperan penting dalam kemajuan perusahaan besar itu.
Andini tiba di ruangannya, berada di lantai 4 gedung megah itu. Ia langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kerja, meregangkan sedikit otot sebelum memulai pekerjaan.
Andini menyandarkan punggungnya ke kursi yang empuk, memejamkan mata sejenak untuk membuang sisa-sisa sesak di dadanya. Namun, perutnya yang keroncongan mengingatkan kalau sarapannya tadi pagi hancur total karena ulah Luna.
Ia meraih ponsel, memesan secangkir kopi hitam dan sandwich lewat aplikasi ojek online. Lima belas menit kemudian, pesanan itu sampai. Andini menikmati sarapannya di meja kerja, bukan di meja makan mewah rumah Sadewa. Di ruangannya, meski hanya makan sendirian, ia merasa jauh lebih tenang. Tak ada sindiran soal anak, tak ada aroma alkohol dan makian dari Brian.
Hari berjalan begitu cepat. Dari satu rapat ke rapat lain, dari diskusi strategi promosi hingga koordinasi dengan tim kreatif. Fokus pada pekerjaan selalu menjadi cara terbaik bagi Andini untuk melupakan rasa sakit hatinya.
Tak terasa, matahari sudah tenggelam dan satu per satu stafnya mulai berpamitan pulang dan lantai 4 mulai sepi.
"Bu Andini, saya duluan ya. Ibu nggak balik?" tanya Siska, salah satu stafnya.
Andini tersenyum tipis. "Duluan saja, Sis. Masih ada yang mau saya rapihin sedikit."
Siska mengangguk hormat lalu pergi. Ruangan itu perlahan sunyi. Andini menatap jam di layar komputer yang sudah menunjukkan pukul 19.30. Jantungnya mulai berdegup tidak nyaman setiap kali teringat harus pulang dan bertemu dengan wajah sinis Luna dan Rahayu atau sikap kasar Brian.
Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja. Nama 'Mama Sarah' muncul di layar. Andini menarik napas panjang, mencoba menetralkan suaranya sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo, Ma?"
"Sayang, kamu di mana? Brian baru pergi, dan kamu belum sampai rumah. Apa kamu masih di jalan?"
Andini memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya. "Maaf ya, Ma. Di kantor lagi ada deadline proyek baru yang harus selesai besok pagi. Andini harus lembur sampai tengah malam lagi, jadi nggak usah ditunggu ya, Ma."
"Ya ampun, kamu jangan terlalu diforsir kerjanya, Sayang. Ya udah, Mama minta ART siapin makanan buat kamu."
"Nggak usah, Ma. Sebentar lagi Andini mau makan sama teman kantor."
"Yakin, Nak? Beneran makan ya, nanti kamu sakit."
"Iya, Ma. Ini mau jalan sebentar lagi," jawab Andini sebelum mematikan sambungan telepon. Ia menghela napas panjang, bahunya merosot. Berbohong demi menghindari rasa sakit ternyata jauh lebih melelahkan daripada bekerja.
"Ternyata Manajer Marcomm suka lembur tanpa dibayar, ya?"
Suara bariton yang dingin itu membuat Andini tersentak sampai hampir menjatuhkan ponselnya.
Di ambang pintu yang sedikit terbuka, Arjuna Bimantara berdiri dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung sampai siku. Tatapannya tajam, seolah bisa melihat kebohongan Andini.
Andini segera berdiri, merapikan blusnya dengan gugup. "Pak Arjuna? Saya pikir Bapak sudah pulang."
Arjuna melangkah masuk, tidak mempedulikan pertanyaan Andini. Ia berhenti tepat di depan meja kerja Andini, matanya melirik layar komputer yang ternyata hanya menampilkan wallpaper standar.
"Lembur?" Arjuna mengangkat sebelah alisnya. "Setahu saya, laporan proyek baru sudah kamu kirim ke email saya jam lima tadi. Dan tidak ada perintah lembur untuk divisi kamu malam ini."
Andini terdiam, lidahnya mendadak kelu. "I-itu, saya cuma mau memastikan beberapa detail kecil, Pak."
Arjuna mencondongkan sedikit tubuhnya, aroma parfum maskulin yang mahal menyeruak masuk ke indera penciuman Andini. "Benarkah? Kamu juga berbohong makan malam dengan staff kamu, tapi nyatanya di sini hanya ada kamu, saya dan asistenku yang masih di ruang arsip."
Andini semakin gugup, apalagi tatapan mata Arjuna yang begitu dalam. "Maaf, Pak. Saya rasa, saya tidak wajib menjawab pertanyaan Bapak karena ini menyangkut hal pribadi saya."
"Saya tahu, tapi ini menyangkut urusan kantor. Saya nggak mau keluarga kamu menganggap saya bos yang kejam membiarkan karyawannya lembur terus."
Andini terdiam, tentunya tak bisa menjawab. Apalagi saat ia melihat sosok pria lain muncul dari arah ruang arsip di belakang Arjuna. Itu Galang, asisten pribadi Arjuna yang selalu sigap dengan tablet di tangannya.
"Sudah selesai semua, Pak?" tanya Galang sopan, lalu mengangguk singkat pada Andini. "Malam, Bu Andini."
"Malam, Pak Galang," jawab Andini kaku.
"Ayo keluar. Saya mau kunci lantai ini," ujar Arjuna datar. Mau tak mau, Andini meraih tasnya dan mengikuti langkah lebar Arjuna, dengan Galang yang berjalan tenang di belakang mereka.
Suasana hening menyelimuti mereka di dalam lift hingga sampai ke lobi yang sudah sepi. Namun, tepat saat mereka melangkah menuju pintu kaca besar, ponsel Andini kembali berdering nyaring. Nama 'Bunda' berkedip di layar.
Andini panik. Ia sempat melirik Arjuna yang sibuk bicara dengan Galang. Ia cepat-cepat berlari menjauh dan menggeser panel hijau di layar.
"Halo, Bun?" ucapnya sedikit berbisik.
"Andini, kamu di mana, Sayang?"
Andini menelan ludah. Tidak mungkin ia bilang masih di kantor, bundanya pasti sangat khawatir.
"Andini lagi di kamar, Bun. Abis makan malam, ini mau istirahat." Bohong Andini dengan suara yang diusahakan setenang mungkin. Tanpa Andini sadari, Arjuna menatapnya dengan alis terangkat.
"Oh, syukurlah kalau udah di rumah. Bunda khawatir kamu kecapekan. Ya udah, sekarang kamu istirahat, Sayang."
"Iya, Bun. Andini mau tidur dulu. Selamat malam."
Andini menutup telepon dengan perasaan campur aduk. Ia tidak menyadari walau Arjuna dan Galang berada di belakang, Arjuna sebenarnya memperhatikan begitu Andini menerima telepon. Arjuna mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Andini. Pria itu pun mendekat, diikuti Galang.
"Bohong lagi?" tanyanya dingin.