Bab 95

2379 Words

Malam di Manhattan tetap bergerak seperti biasa—lampu kota menyala tanpa henti, suara kendaraan tetap terdengar samar dari kejauhan. Namun di tempat lain, jauh dari kemewahahn dan kendali yang pernah dimiliki— Amanda duduk di dalam sel sempit itu. Dindingnya dingin. Udara terasa pengap. Dan yang paling terasa— Sunyi yang tidak pernah benar-benar sunyi. Suara langkah kaki dari koridor. Suara pintu besi yang sesekali berderit. Dan pikirannya sendiri— Yang tidak pernah berhenti. Ia duduk di ranjang tipis itu. Menatap kosong ke depan. Namun matanya tidak benar-benar melihat. Karena yang ia lihat— Semua yang sudah terjadi. Berulang. Terus berulang. Ia berbaring. Mencoba menutup mata. Namun tidak sampai beberapa detik— Ia kembali membukanya. Napasnya tidak teratur. Dada ter

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD