Bab 09

2167 Words
Sarah memperhatikan punggung Javier yang kini membelakanginya. Kemeja putih itu jatuh sempurna di tubuh lelaki itu, rapi, mahal, dan dingin—selalu dingin. Gulungan lengan sampai siku memperlihatkan urat-urat yang tegas, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya seolah mengingatkan bahwa lelaki itu hidup di dunia yang sama sekali berbeda darinya. Aroma parfum mahal masih tertinggal di udara kamar, menusuk hidung Sarah pelan tapi konsisten, seperti tanda bahwa Javier benar-benar akan pergi. “Daddy mau kemana?” Tanyanya pelan penuh ketakutan. “Ke klub malam, bersama Victor dan Leonard,” jawab Javier tdatar, tanpa nada, tanpa penjelasan tambahan. Bersama Victor dan Leonard. Nama-nama itu saja sudah cukup membuat Sarah tahu, urusan Javier bukanlah urusannya. Ia hanya mengangguk. Bibirnya tertutup rapat, dadanya terasa sesak, tapi ia menelan semua itu dalam diam. Apa haknya bertanya lebih jauh? Tidak ada. Ia sadar betul posisinya. Ia bukan istri yang dipilih karena cinta. Ia hanya wanita yang akan dinikahi sementara, wadah yang disepakati, alat untuk satu tujuan yang bahkan belum tentu akan membuatnya bahagia. Anak. Itu saja. Pintu kamar tertutup pelan saat Javier keluar. Tidak ada pamit. Tidak ada lirikan terakhir. Sarah tetap berdiri di tempatnya, menatap pintu itu cukup lama sampai detak jam dinding terdengar terlalu keras. Baru setelah itu ia duduk perlahan di tepi ranjang, jari-jarinya saling menggenggam, seolah jika dilepaskan ia akan runtuh. Daddy. Sebutan itu masih terasa aneh di lidahnya, tapi juga melekat. Bukan sekadar panggilan. Itu aturan. Itu batas. Itu pengingat bahwa segala sesuatu dalam hidupnya sekarang berada di bawah kendali Javier. Tubuhnya, waktunya, pilihannya—bahkan cara ia harus berdiri dan diam saat lelaki itu berbicara. Ia menghela napas panjang. Rumah ini besar, terlalu besar untuk satu orang yang menunggu. Lampu-lampu kristal menggantung anggun, lantai marmer memantulkan bayangannya yang tampak kecil dan rapuh. Sarah berjalan keluar kamar, melewati lorong panjang dengan lukisan-lukisan mahal yang tidak pernah ia pahami. Semua terasa seperti museum, indah tapi dingin, tidak pernah benar-benar menjadi rumah. Di ruang duduk, ia menjatuhkan diri di sofa. Ponselnya bergetar di genggaman, tapi ia tidak langsung melihatnya. Ia tahu, tidak akan ada pesan dari Javier. Lelaki itu tidak pernah mengirim kabar. Tidak pernah merasa perlu. Beberapa menit berlalu sebelum Sarah akhirnya menatap layar. Pesan dari ibunya. Singkat. Menanyakan kabar. Menanyakan kapan pernikahan itu benar-benar akan dilaksanakan. Sarah menutup mata sejenak. Ia bahkan belum berani menjawab. Pernikahan itu bukan mimpi. Bukan juga kebanggaan. Itu kontrak. Kesepakatan yang rapi, dingin, dan tanpa ruang untuk perasaan. Javier sudah menjelaskannya sejak awal, dengan suara tenang dan tatapan tajam yang tidak memberi ruang untuk tawar-menawar. Ia butuh pewaris. Ia butuh anak. Dan Sarah—dengan segala kondisi dan latar belakangnya—adalah pilihan yang tepat. Tidak lebih. Sarah bangkit, melangkah ke dapur, menuangkan segelas air, lalu meminumnya perlahan. Tangannya sedikit gemetar. Ia menempelkan gelas itu ke meja, lalu bersandar, menunduk. Dalam kepalanya, kalimat-kalimat Javier terus berputar. “Kau tahu peranmu.” “Jangan berharap lebih.” “Semua yang kau miliki sekarang adalah milikku.” Dan anehnya, Sarah mengangguk waktu itu. Mengiyakan semuanya. Karena ia tidak punya pilihan lain. Karena di titik hidupnya yang paling rendah, Javier muncul bukan sebagai penyelamat yang hangat, tapi sebagai penguasa yang memberi satu-satunya jalan keluar. Malam makin larut. Jam menunjukkan lewat tengah malam ketika pintu utama akhirnya terbuka. Sarah yang tertidur setengah sadar di sofa langsung terbangun. Langkah kaki Javier terdengar mantap, sedikit berat, aroma alkohol samar bercampur parfum mahal yang sama. Ia berdiri refleks. “Daddy…” panggilnya lirih, hampir tak terdengar. Javier menoleh sekilas. Tatapannya menyapu Sarah dari ujung kepala sampai kaki, menilai, dingin, seperti biasa. “Belum tidur?” Sarah menggeleng pelan. “Aku… nunggu Daddy.” Javier melepas jasnya, meletakkannya sembarangan. “Jangan biasakan menungguku.” Kalimat itu jatuh seperti pisau. Sarah mengangguk lagi. Selalu mengangguk. Selalu patuh. Javier melangkah melewatinya tanpa sentuhan, tanpa jarak yang dipersingkat. Tapi sebelum menaiki tangga, ia berhenti. “Besok kita ke dokter,” katanya singkat. Jantung Sarah berdegup kencang. Ia menelan ludah. “Iya, Daddy.” Javier mengangguk tipis, lalu melanjutkan langkahnya. Suara langkah itu menjauh, meninggalkan Sarah berdiri sendirian di ruang yang kembali sunyi. Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam. Dalam dirinya, ada ketakutan yang mengakar, ada kepasrahan yang pahit, tapi juga ada sesuatu yang lain—harapan kecil yang ia sendiri tak berani akui. Entah pada apa. Entah pada siapa. Malam itu, Sarah kembali ke kamarnya dengan langkah pelan. Ia berbaring, menatap langit-langit, tangannya diletakkan di perutnya sendiri. Kosong. Tapi tidak lama lagi, tubuh ini akan menjalankan tugasnya. Karena semua dalam dirinya adalah milik Javier. Dan ia tahu, jalan yang ia pilih—atau yang dipilihkan padanya—baru saja dimulai. *** Pagi itu datang dengan langit yang bersih dan matahari yang terlalu terang bagi perasaan Sarah. Ia duduk di kursi penumpang depan mobil Javier, punggungnya tegak, kedua tangannya terlipat di atas paha. Gaun sederhana berwarna krem membungkus tubuhnya, sopan, tertutup, perbsis seperti yang Javier minta. Rambutnya diikat rapi ke belakang, tidak ada helai yang dibiarkan jatuh sembarangan. Segalanya tentang dirinya hari itu harus terlihat “layak” dan pantas berjalan di samping Javier. Mobil melaju tanpa banyak suara. Javier fokus pada jalan, satu tangannya di setir, satu lagi sesekali mengecek ponsel. Wajahnya tenang, dingin, seperti sedang menuju rapat bisnis penting, bukan pemeriksaan kandungan yang akan menentukan masa depan seseorang. Sarah melirik sekilas, lalu cepat menunduk lagi. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia tahu tujuan mereka hari ini. Ia tahu apa yang akan diperiksa. Tapi tetap saja, duduk di kursi itu membuat semuanya terasa nyata, berat, dan menekan dadanya. “Daddy…” suaranya pelan, ragu. Javier tidak langsung menoleh. “Hm?” “Kalau… kalau hasilnya tidak sesuai?” tanyanya hati-hati. Javier akhirnya melirik, singkat, datar. “Tidak akan.” Nada suaranya bukan menenangkan. Itu pernyataan. Keyakinan mutlak. Sarah mengangguk lagi, seperti biasa. Ia belajar bahwa dengan Javier, bertanya terlalu banyak hanya akan membuatnya terlihat lemah. Rumah sakit itu berdiri megah, bersih, dan eksklusif. Lorong-lorongnya sunyi, bau antiseptik bercampur wangi bunga segar. Sarah berjalan di samping Javier, selangkah di belakang, mengikuti arah langkahnya. Beberapa orang melirik mereka, sebagian mengenali Javier, tapi tidak ada yang berani menatap terlalu lama. Mereka masuk ke ruang praktik dokter kandungan yang sudah dijadwalkan. Seorang pria berkacamata dengan wajah ramah berdiri menyambut mereka. “Selamat pagi, Tuan Javier,” katanya sopan. “Silakan duduk. Saya Kevin.” Javier menjabat tangannya singkat. “Pagi, Dok.” Sarah duduk perlahan di kursi yang ditunjukkan. Tangannya kembali saling menggenggam. Dokter Kevin memeriksa berkas, lalu mengangkat wajahnya ke arah Sarah dengan senyum profesional. “Kita akan melakukan beberapa pemeriksaan, ya. Santai saja.” Sarah mengangguk kecil. “Iya, Dok.” Proses itu berjalan cukup lama. Sarah berganti pakaian, berbaring di ranjang pemeriksaan, menahan rasa canggung dan gugup. Javier duduk di kursi di sudut ruangan, memperhatikan dengan ekspresi tak terbaca. Tidak ada genggaman tangan. Tidak ada kata penguat. Hanya kehadiran yang dingin dan mengawasi. Setelah semuanya selesai, Sarah kembali duduk, wajahnya sedikit pucat, tapi ia berusaha terlihat tenang. Dokter Kevin menatap hasil di layar, mengangguk beberapa kali. “Baik,” katanya akhirnya. “Secara keseluruhan, kondisi Ibu Sarah sangat baik. Siklusnya teratur, rahim sehat, dan tingkat kesuburannya sangat bagus.” Napas Sarah tercekat. Ia tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin takut. Dokter Kevin kemudian menoleh ke Javier. “Hasil Tuan Javier juga sangat baik. Tidak ada masalah. Dengan kondisi seperti ini, peluang untuk memiliki anak sangat tinggi.” Ruangan itu terasa hening sejenak. Javier mengangguk pelan. Lalu, untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat, sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis. Kecil. Tapi nyata. “Bagus,” katanya singkat. Dalam benaknya, bayangan itu muncul begitu jelas. Seorang anak laki-laki. Wajah tegas. Tatapan tajam. Darahnya. Putranya. Pewaris yang akan membawa namanya, berdiri di sisinya suatu hari nanti. Senyum itu bertahan sepersekian detik lebih lama dari biasanya. Sarah melihatnya. Dan hatinya bergetar aneh. Bukan bahagia. Bukan juga sedih. Lebih seperti menyadari bahwa tubuhnya baru saja dipastikan sebagai jalan menuju mimpi orang lain. “Apakah ada yang perlu diperhatikan?” tanya Javier pada dokter. “Tidak banyak,” jawab Kevin. “Hanya jaga kesehatan, kurangi stres, dan ikuti jadwal yang akan saya berikan.” Javier berdiri. “Kita ikuti.” Tidak ada diskusi. Tidak ada tanya pada Sarah apakah ia siap. Di dalam mobil, suasana lebih sunyi dari sebelumnya. Sarah menatap keluar jendela, memperhatikan gedung-gedung yang berlalu. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya sendiri. Subur. Kata itu terngiang di kepalanya. “Mulai sekarang,” kata Javier tiba-tiba, memecah keheningan, “kau harus lebih disiplin.” Sarah menoleh cepat. “Iya, Daddy.” “Makan teratur. Tidur cukup. Tidak boleh sembarangan ke mana-mana.” “Iya.” “Dan dengarkan semua instruksiku.” “Iya, Daddy.” Jawaban itu keluar otomatis. Terlatih. Mobil berhenti di depan rumah. Javier turun lebih dulu. Sarah mengikutinya, langkahnya terasa lebih berat. Di dalam rumah, Javier melepas jam tangannya, lalu menatap Sarah dengan pandangan menilai. “Kau mengerti tujuanmu di sini,” katanya datar. Sarah menunduk. “Aku mengerti.” “Bagus.” Javier berbalik, meninggalkannya di ruang tengah. Sarah berdiri diam cukup lama, sebelum akhirnya berjalan ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah yang sama. Tubuh yang sama. Tapi kini, semuanya sudah diberi cap kepastian. Ia subur. Ia bisa memberi anak. Dan itu berarti, waktunya benar-benar dimulai. Sarah memeluk perutnya perlahan, matanya berkaca-kaca tanpa suara. Tidak ada air mata yang jatuh. Ia tidak membiarkannya. Karena di rumah ini, ia belajar satu hal sejak awal. Perasaannya tidak pernah menjadi prioritas. *** Malam turun perlahan, menyelimuti mansion dengan sunyi yang terasa terlalu luas untuk satu orang. Sarah duduk di balkon kamarnya, tubuhnya dibungkus cardigan tipis, lututnya dvitarik ke d**a. Lampu-lampu taman menyala lembut di bawah sana, menerangi jalan setapak dan air mancur yang mengalir tenang, seolah tidak pernah tahu bahwa ada seseorang di atasnya yang pikirannya berisik tak karuan. Angin malam menyentuh kulitnya. Dingin, tapi tidak cukup untuk mengusir kekacauan di kepalanya. Di seberang lorong, di balik pintu kayu besar yang selalu tertutup rapat, Javier berada di ruang kerjanya. Sarah tahu itu. Ia selalu tahu rutinitas lelaki itu. Malam adalah waktunya bekerja, berpikir, merencanakan. Waktu yang tidak pernah menyisakan ruang untuknya. Walau dokter sudah mengatakan semuanya jelas. Walau tubuhnya sudah “siap”. Walau tujuan pernikahan ini tidak lagi samar. Javier belum menyentuhnya. Kata-kata itu terngiang lagi di kepalanya, jelas, dingin, dan penuh kendali. Sabar. Tidak perlu buru-buru. Aku mau kau siap sepenuhnya. Sarah menghela napas panjang, lalu menertawakan dirinya sendiri tanpa suara. Siap sepenuhnya versi siapa? Versinya? Atau versi Javier? Tangannya mencengkeram pagar balkon. Ia masih perawan. Kalimat itu terasa aneh setiap kali muncul di pikirannya, seperti label yang ditempelkan orang lain di tubuhnya. Javier pernah mengatakan itu dengan nada datar, seolah sedang membahas aset berharga yang belum dipakai. “Kau harus bersyukur,” ucap Javier waktu itu, tanpa menatapnya. “Itu membuat semuanya lebih… istimewa karena aku belum menghentakan penisku ke dalam vaginamu.” Istimewa. Sarah mengernyit. Istimewa dari apa? Dari dirinya sendiri? Ia menunduk, memejamkan mata. Ada bagian dari dirinya yang lega karena belum disentuh. Ada ruang bernapas. Ada jarak. Tapi ada juga bagian lain yang lelah, yang merasa keberadaannya digantung, ditahan, seolah ia hanya boleh ada selama memenuhi rencana lelaki itu. “Kenapa aku berpikir sejauh ini?” gumamnya pelan. Ia menggeleng cepat, seakan ingin mengusir pikiran-pikiran itu. Ia tidak boleh berpikir terlalu banyak. Setiap kali ia melakukannya, dadanya terasa sesak. Ia ada di sini karena pilihan yang sudah dibuat. Karena kesepakatan yang sudah ia setujui. Karena hidupnya sebelum ini tidak memberinya banyak alternatif. Di ruang kerjanya, Javier berdiri di depan jendela besar, punggungnya tegap. Kota terbentang di kejauhan, lampu-lampunya seperti papan catur raksasa yang bisa ia atur sesuka hati. Di tangannya ada segelas whisky, belum disentuh sejak tadi. Pikirannya tidak sepenuhnya pada laporan di mejanya. Nama Sarah muncul lagi, tanpa ia undang. Ia tahu gadis itu ada di balkon. Ia tahu kebiasaannya. Ia tahu langkah kakinya, napasnya, bahkan jeda sunyi yang selalu muncul ketika Sarah sedang terlalu banyak berpikir. Javier bukan tidak peduli. Ia hanya memilih menunda. Bukan karena ragu pada tujuannya. Justru karena ia ingin segalanya berjalan sempurna. Sarah harus siap. Mentalnya. Kepasrahannya. Keterikatannya. Javier meneguk whisky itu akhirnya, lalu meletakkan gelas dengan pelan. Ia menghela napas, tipis, nyaris tak terdengar. Ada sesuatu yang mengganggu ketenangannya malam ini, dan untuk pertama kalinya, ia tidak bisa langsung menamainya. Di balkon, Sarah akhirnya berdiri. Ia memeluk tubuhnya sendiri, lalu melangkah masuk ke kamar. Ia menutup pintu balkon, mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang redup. Ia berbaring, menatap langit-langit, pikirannya terus berputar. Masih perawan. Masih aman. Masih diizinkan tinggal. Ia tersenyum pahit. “Jadi itu nilainya aku,” bisiknya. Di luar kamar, langkah kaki pelayan terdengar menjauh. Mansion kembali sunyi. Dua orang berada di bawah atap yang sama, dipisabhkan dinding tebal, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sarah menarik selimut lebih tinggi, memejamkan mata, memaksa dirinya tidur. Besok akan sama. Hari-hari akan terus berjalan seperti ini, sampai suatu hari Javier memutuskan waktunya tepat. Dan ketika hari itu tiba, Sarah tahu, ia tidak akan punya ruang untuk ragu. Karena di rumah ini, bahkan kesabaran pun bukan miliknya sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD