Saat ini perempuan itu hanya berharap adanya sebuah keajaiban. Ya … apa salah jika dirinya berharap kepada Tuhan-nya? “Apa aku harus pulang ke rumah?” Tiba-tiba saja terlintas sebuah rumah sederhana yang sudah lama dia tinggalkan. Rumah kedua orang tuanya yang dulunya penuh dengan kehangatan. “Tuhan, aku harus pergi ke mana?” Lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul dari dalam benak perempuan malang itu. Ara menengadah ke langit dengan tangan menyilang di dadaa. Dia berharap siang yang terik ini akan turun hujan lebat seperti semalam agar dia bisa bersembunyi di baliknya. Ya … dia hanya ingin menyembunyikan air matanya di balik guyuran air hujan. Tentu saja dengan begitu tidak akan ada yang mampu membedakan air mata dan air hujan yang sudah bercampur membasahi wajah ayunya. Ara pu

