Waswas

1298 Words

Ara langsung memicingkan matanya sambil menelusuri sosok pria yang berdiri tepat di depan matanya. Dia harus memastikan jika pria itu tidak kenapa-kenapa karena menurutnya apa yang Bima katakan sangat tidak masuk akal. “Nggak ada yang aneh, tapi kenapa ngomongnya ngelantur? Apa dia sedang sakit?” batin Ara bertanya-tanya. Tidak ada yang berubah di tubuh pria itu. Semuanya masih tetap sama. Tubuh proporsional dengan wajah tampan seperti dewa-dewa dari Yunani. Bima tampak sehat, menurut Ara. Hati Ara pun berdenyut ketika mendengar Bima menyebut dirinya sebagai suami. Itu merupakan sebuah kata sederhana yang ingin Ara dengar dari dulu. Pengakuan seorang Bimasena Cakara Pangestu. Namun, semuanya berbeda. Semua yang dilontarkan oleh pria itu berbanding terbalik pada waktu itu. “Aku bu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD