Memang dia terlahir dari keluarga sederhana. Namun, papanya selalu mendidiknya untuk jadi perempuan yang bermartabat. Dia selalu menjaga harga dirinya dan nama baik kedua orang tuanya. Apalagi papanya bekerja sebagai seorang guru yang dituntut untuk bisa menjadi panutan. Semenjak dia diboyong ke kediaman Pangestu, hidupnya pun berubah seperti kisah dongeng seorang Cinderella, meskipun nasib percintaannya tidak seberuntung tokoh utamanya. “Hai …!” sapa Ara ketika sudah tiba di meja. Di sana tampak terlihat para sahabatnya sudah berkumpul menunggu dirinya. Jika di lobi tadi tidak ada drama receh, mungkin dirinya tidak akan terlambat. Sungguh, Ara benar-benar merasa tidak enak karena sudah datang terlambat dan membuat semua sahabatnya terpaksa harus menunggunya. Juna, Andaru, Febi, da

