“Nggak usah bikin kopi!” Fika memelankan kunyahannya, dan segera menutup kotak bekal camilan di atas meja. Ia memasukkan kotak itu di tas, lalu kembali menatap laptop. Karena Abi tidak meminta dibuatkan kopi pagi itu, Fika pun tidak akan beranjak ke mana-mana. Fika juga tidak peduli, bila Abi kembali mendiamkannya. Pria itu berjalan tanpa menoleh, lalu menduduki kursinya dengan kasar. Dasar, pengacara labil. “Datangi bu Ina, tanyakan tentang arsip perceraian Riva Zaneta dan Ilham Arham, satu tahun yang lalu.”’ “Baik, Mas.” Fika segera berdiri, dan berjalan tergesa keluar ruangan. Ia kira, Abi kembali mendiamkannya dan tidak memberi Fika pekerjaan. Sementara Fika sedang keluar, Abi menyalakan perangkat komputernya lalu menghubungi seseorang. Namun, nomor yang ditujunya ternyata sudah

