Erika 5

2089 Words

Pagi itu Dewa bangun lebih awal dari biasanya. Namun bukan karena pekerjaan. Bukan juga karena kebiasaan. Melainkan karena rasa penasaran yang sejak semalam mengganggu pikirannya. Ia melirik ke arah sofa. Kosong. Selimut sudah terlipat rapi seperti tidak pernah digunakan. Erika pasti sudah bangun lebih dulu—seperti biasa. Tidak meninggalkan jejak, tidak membuat suara, tidak pernah merepotkan siapa pun. Dewa duduk perlahan di tepian ranjang. Bayangan semalam kembali muncul. Wajah Erika yang pucat. Gerakan buru-buru menelan obat. Jawaban singkatnya. Obat biasa. Dewa menghela napas panjang. Tidak. Ada sesuatu yang tidak benar. Ia berdiri, mulai memperhatikan kamar itu lebih teliti. Untuk pertama kalinya sejak menempatinya kembali, ia benar-benar melihat ruang itu sebagai ruang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD