Erika 7

2893 Words

Telepon itu datang menjelang sore, tepat ketika Dewa sedang menyelesaikan rapat terakhirnya di kantor. Nama Oma muncul di layar ponsel. Dewa langsung mengangkat. “Oma?” Suara di seberang terdengar lemah, tidak seperti biasanya. “Wa… kamu lagi sibuk?” Nada suara itu cukup membuat d**a Dewa menegang. “Nggak. Oma kenapa?” “Akhir-akhir ini Oma sering pusing… dokter bilang tekanan darah Oma naik. Badan rasanya nggak enak.” Dewa langsung berdiri dari kursinya. “Oma di rumah?” “Iya.” “Aku ke sana sekarang.” Ia bahkan tidak menunggu jawaban lebih lama. Telepon ditutup, laptop dimatikan, jas langsung disambar. Pikirannya hanya satu. Oma. Wanita tua itu bukan sekadar nenek baginya. Sejak kecil, Oma yang paling memahami dirinya. Orang yang selalu berada di pihaknya bahkan saat seluruh

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD