Bab 1. Pernikahan

1443 Words
Pernikahan kakaknya—Laura Michelle sungguh mampu memanjakan mata para tamu. Laura memilih pernikahan dengan tema como wedding di Lombok. Banyak orang yang mengagumi kedua pengantin itu karena dilihat dari sudut mana pun, baik Laura maupun Gavin sama-sama bak dua jiwa yang sengaja diturunkan ke dunia nyata seolah semesta merancang mereka sebagai pasangan sempurna yang tak mungkin salah alamat. Lebay? Yah, itulah yang semua orang pikirkan, namun tidak dengan Keyra. Ia memilih menjauh menuju ke bar dan duduk disana sambil memesan minuman tanpa alkohol. Pikirannya penuh oleh tugas kuliah yang menumpuk dan besok pagi ia harus terbang ke Bandung untuk kembali berutinitas mengejar dosen dan menyusun skripsi. Jadwalnya sekarang melebihi CEO mana pun. Padahal ia juga bukan pewaris melainkan penglaris karena Keyra hobi menabung di warung orang lain. “Lo kelihatan nggak bahagia, Key?” Sahabat Keyra, Rachel turut duduk di sebelahnya. “Sebaiknya simpan wajah kusut lo itu kalau nggak mau orang berpikiran aneh-aneh.” Keyra memutar bola matanya sambil memandang jus di depannya. “Gue bahagia karena kakak gue akhirnya mendapatkan pilihan hatinya yang udah dia kejar 6 tahun lamanya.” Rachel terbahak. “Lo bisa tipu semua orang, tapi lo nggak bisa tipu gue.” Gadis itu mendekatkan bibirnya pada telinga Keyra lalu berbisik pelan. “Mana ada orang bahagia memilih menyendiri dengan wajah kusut seperti patah hati?” “Terserah lo deh.” Keyra meneguk kembali minumannya. Jika di putar kembali, semua cukup lucu. Keadaan yang seharusnya baik-baik saja malah semakin rumit saat Keyra tahu siapa laki-laki idaman sang kakak. Adalah laki-laki yang ‘pernah' jadi masa lalunya disaat Keyra masih jadi mahasiswa baru di kampusnya. Yah, empat tahun sudah berlalu namun tentu saja hal itu akan ia ingat seumur hidup walau kenyataan harus menelan pahit di setiap mereka bertemu. Apalagi, pria itu kini adalah kakak iparnya. Well, Keyra akan beradaptasi, sebaik mungkin. * Pesta kecil-kecilan yang hanya dihadiri oleh keluarga pengantin pria dan wanita serta groomsmen dan bridesmaid keduanya diadakan sungguh meriah. Setelah pernikahan siang tadi, mereka memilih mengadakan dinner party di pinggir pantai. “Flight jam berapa besok?” Keyra nyaris tersedak lobster yang ia kunyah cukup besar dalam sekali makan. Niatnya ingin membalas dendam karena siang tadi ia tidak makan apa pun selain minum hingga perutnya terasa kembung. “Jam 8, Mas.” Keyra memilih menjauh beberapa langkah karena tidak bisa dekat-dekat dengan lawan jenis bernama Gavin itu. Gavin mengangguk singkat sambil mengambil steak yang disediakan para pelayan. “Kenapa nggak lusa saja?” Keyra dengan cepat menelan lobster yang entah kenapa menjadi alot di mulutnya. “Oh, anu... B-besok aku ada jadwal konsul jam lima sore. Jadi, jam empat udah stay di kampus buat periksa ulang skripsi.” Keyra kembali menjauhkan langkahnya perlahan yang tentu saja hal itu disadari oleh Gavin. “Kenapa menjauh?” “Ah, enggak kok Mas. Aku cuma lagi latihan gerak jalan aja. Hehe...” Kali ini Gavin berhenti mengambil makanannya dan menatap Keyra tajam dan intens. “Key—” “Sayang, kamu disini? Aku tungguin dari tadi.” Laura memeluk pinggang Gavin dari belakang sementara mata Gavin masih menatap Keyra yang kini salah tingkah. Keyra menunduk menatap sepasang sandalnya saat tiba-tiba kakaknya datang. Ia tanpa banyak berkata langsung berjalan menjauh meninggalkan pesta makan malam tersebut tanpa diketahui oleh semuanya kecuali Gavin yang masih memandangi punggungnya yang menjauh. * “Air mata! Kenapa nggak berhenti sih lo! Ah, kesel gue.” Keyra menenggelamkan dirinya dalam bantal di kamar hotel. “Ih parah banget sih.” Keyra mendesah sambil membuang ingusnya dengan tisu. Pikirannya melayang kembali pada saat kejadian awal mula ia ketemu Mas Gavin. Malam itu Keyra pulang terlambat dari kampus, hampir pukul sepuluh malam. Ia sebenarnya berniat langsung kembali ke kos setelah kuliah selesai, tetapi terpaksa bertahan karena ada seminar bisnis yang diadakan oleh pihak fakultas. Dosen mereka bahkan menegaskan bahwa siapa pun yang tidak hadir, nilai ujiannya tidak akan dianggap. Saat Keyra hendak menuju parkiran mobilnya yang cukup jauh dari lokasi seminar, langkahnya terhenti. Beberapa pemuda tiba-tiba menghadangnya. Suasana di sekitar begitu gelap dan sepi, tak ada seorang pun terlihat. Seolah-olah mereka memang sudah menunggu dan memahami situasi tempat itu sejak lama. Tubuh Keyra gemetar. Ia mencoba berlari, tetapi langkahnya langsung terhalang. Kedua tangannya ditahan dari sisi kiri dan kanan. Empat pemuda itu menatapnya dengan sorot mata yang membuat wajah Keyra pucat pasi. Ia melawan, memberontak sekuat tenaga, namun apa dayanya tenaganya tak sebanding dengan mereka. Ia ditarik paksa, tak mampu berteriak karena mulutnya dibekap kuat hingga napasnya terasa sesak. Kepanikan merambat di seluruh tubuhnya, kesadarannya mulai goyah. Tepat saat ia nyaris pasrah, seorang pria datang. Tanpa ragu, pria itu menghajar keempat pemuda tersebut dengan keras hingga mereka terkapar babak belur. Pandangan Keyra mulai kabur. Sebelum benar-benar pingsan, hal terakhir yang ia ingat adalah pria itu menghubungi polisi. Pagi harinya, Keyra terbangun di sebuah kamar yang sama sekali asing baginya. Kepalanya terasa berat dan sedikit pusing, tanda ia bangun lebih siang dari biasanya. Ia mengedarkan pandangan, menilai setiap sudut ruangan yang tampak rapi, mewah, dan dipenuhi aroma yang menenangkan. Dari tampilannya, Keyra yakin ia berada di sebuah hotel. Perlahan, ingatannya kembali pada kejadian semalam—membuat matanya melebar dan tubuhnya kembali gemetar. Ia sudah tidak suci. Sampai di hotel, Keyra sempat sadar dan entah kenapa Pertanyaan itu belum sempat terjawab ketika terdengar ketukan di pintu. Seorang pria bertubuh tinggi masuk setelahnya, mengenakan jas mahal yang pas di tubuhnya. Wajahnya tampan dan tegas. Ia membawa nampan berisi sarapan, lalu meletakkannya di atas meja tanpa banyak bicara. “Keempat pria itu sudah ditangkap polisi. Mobilmu ada di basement. Habiskan sarapanmu sebelum pulang. Saya ada urusan lain. Nanti langsung check-out saja.” Gavin menatap Keyra dingin. “Untuk urusan kita semalam—” “Lupakan saja,” Keyra memotong cepat. Ia menunduk dalam menahan rasa sakit di hatinya. “Semoga setelah ini kita tidak bertemu lagi.” Lama pernyataan Keyra tidak di jawab sampai suara maskulin itu kembali terdengar tegas. “Baik, kalau itu yang kamu mau.” Keyra tak mampu mengatakan apa pun selain mengangguk pelan. Pria itu pun pergi begitu saja, meninggalkan keheningan di dalam kamar. Keyra menatap ke arah pintu yang telah tertutup, merasa ada sesuatu yang familiar dari sosoknya. Ia mencoba mengingat, menghubungkan wajah itu dengan sesuatu di benaknya—hingga tiba-tiba matanya melebar. Pria itu adalah pria yang pernah ditunjukkan fotonya oleh sang kakak sebagai pria yang kakaknya cintai! Sejak saat itu, Keyra akhirnya memahami seperti apa rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama dan patah hati untuk pertama kalinya. Perasaan yang datang begitu saja, tanpa aba-aba, namun meninggalkan jejak yang begitu dalam. Wajah pria itu, cara ia datang di saat yang paling genting, hingga ketenangan yang ia bawa. Dan kini, kenyataan yang harus ia hadapi terasa begitu ganjil sekaligus menyakitkan. Pria yang sama yang pernah menyelamatkannya dan diam-diam mengisi ruang di hatinya justru menjadi suami kakaknya sendiri. Dunia benar-benar terasa sempit, seakan mempermainkan perasaan Keyra dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. * “Kamu kapan pulang lagi?” “Ma, aku juga belum berangkat, sudah ditanya pulang,” keluh Keyra pelan sambil mendesah. “Mama sendiri kapan balik dari Lombok?” Vivian tersenyum tipis. “Tunggu kakakmu selesai dengan wedding dream-nya dulu.” Keyra ikut tersenyum, lalu memeluk ibunya erat sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu. “Harusnya Mama nggak perlu repot-repot antar aku ke bandara. Mending urus menantu baru Mama, biar dia betah di keluarga kita.” Ia kemudian mendekat, berbisik di telinga ibunya dengan nada menggoda, “Menantu Mama itu bukan orang sembarangan, lho. Kayanya itu kaya banget. Mobilnya aja dari BMW sampai Rolls-Royce punya semua. Ih… merinding aku.” Keyra mengusap lengannya sendiri, pura-pura bergidik. Vivian terkekeh pelan. “Kamu ini ada-ada saja. Buat Mama, kamu tetap prioritas. Sekarang kakakmu sudah ada yang jaga. Kamu yang belajar yang rajin, biar sukses juga, seperti kakak iparmu.” Keyra memanyunkan bibir. “Wejangan lain nggak ada, Ma? Misalnya, makan yang banyak, jajan yang banyak, jangan mikir uang, yang penting aku senang di sana. Gitu, kek.” Pletak. Sebuah pukulan ringan mendarat di dahinya. Vivian menggeleng sambil tersenyum, lalu mendorong Keyra pelan ke arah pintu ruang tunggu. “Sudah sana. Nanti kabari Mama kalau sudah sampai.” “Iya, Ma. Bye…” “Bye, sayang.” Keyra melambaikan tangan sekali lagi sebelum berbalik masuk ke dalam. Langkahnya ringan, wajahnya masih dihiasi senyum kecil. Namun langkah itu perlahan melambat. Sebuah bayangan tiba-tiba muncul di kepalanya. Jas rapi. Tatapan dingin. Dan suara yang pernah ia dengar di malam paling buruk dalam hidupnya. Keyra berhenti sejenak. Napasnya tertahan. Karena untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan itu, ia menyadari satu hal yang belum pernah benar-benar ia pikirkan sebelumnya. Ia akan kembali ke kota yang sama… tempat pria itu berada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD