When you visit our website, if you give your consent, we will use cookies to allow us to collect data for aggregated statistics to improve our service and remember your choice for future visits. Cookie Policy & Privacy Policy
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Hari ini aku dan Mas Dilan berangkat ke Jepang. Kami ikut penerbangan pagi hari jam sepuluh, agar sampai sana sudah malam dan bisa segera istirahat. Penerbangan Jakarta-Tokyo membutuhkan waktu kurang lebih tujuh sampai delapan jam, sementara perbedaan waktu antara keduanya adalah dua jam. Bisa dihitung, kalau kami berangkat dari Jakarta jam sepuluh pagi, kami akan tiba di sana kisaran jam tujuh atau jam delapan waktu setempat “Aku mau duduk samping jendela!” ujarku pelan, sembari berjalan mendahului Mas Dilan. Mas Dilan diam saja, tidak banyak berkomentar. Lama kelamaan aku mulai hafal sifatnya, jadi aku tidak akan mudah sakit hati seperti awal-awal kenal. Beberapa saat berlalu, pesawat akhirnya lepas landas. Pandangan mataku tak lepas dari pemandangan di luar sana yang sangat memanj