Seseorang pernah mengatakan bahwa aura perempuan akan berbeda ketika sedang memasak. Dan ya, Damar akui itu. Dengan mata kepalanya sendiri, ia mengamati Kalila yang tampak berkutat dengan dunia masaknya sendiri. Bergumam pelan dengan mata tak lepas pada buku resep dan melakukan serangkaian hal menurut petunjuk resep. Demi apa pun, Damar rela duduk seharian hanya dengan melihat sang istri memasak.
"Chef-ku yang cantik," gumam Damar menyungging senyum tipis. Pria itu mulai melangkah perlahan, mendekati sang istri yang tidak sadar akan keberadaan dirinya. Niatnya ingin memberikan pelukan belakang. Namun, niat itu langsung pupus tatkala ia sadari bahwa Kalila akan memasukkan telunjuknya ke mulut. Telunjuk yang sebelumnya gadis itu celupkan pada tepung di dalam mangkuk.
Bergegas Damar meraih tangan Kalila melalui belakang lalu ia masukan telunjuk itu ke mulutnya. Dirasa tidak ada sesuatu yang ganjil pada mulutnya, Damar pun mulai melepaskan telunjuk Kalila dari mulutnya.
"Mas Damar?!" Kalila terkejut tentunya.
"Hm? Aku cuma mau mastiin kalo nggak ada racun di tepung itu," ucap Damar santai. Bersandar ia di meja sembari memainkan bawang bombai di tangannya. "Dan tepung itu aman buat dikonsumsi."
"Yang bilang nggak aman siapa?" Kalila agaknya gemas. Kadang, perangai tidak terduga dari Damar membuatnya kesal dan gemas secara bersamaan. Di benaknya bertanya-tanya, apa yang salah dari pria itu? Selalu saja melakukan sesuatu di luar pikiran seorang Kalila. Terlalu sulit untuk ditebak.
"Nggak ada," sahut Damar. "Cuma mau mastiin aja. Kali aja ada racunnya."
Pada akhirnya, Kalila membuang napas kasar. Tak ingin dipusingkan oleh pola pikir ajaib Damar, Kalila memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaan memasak yang sempat tertunda tadi.
"Aku akan nawarin kamu satu keutungan." Damar berucap tiba-tiba. Pria itu beralih posisi berhadapan dengan Kalila, tersekat oleh meja. "Mau nggak?"
"Nggak," sahut Kalila singkat. Berusaha sibuk memasak meski tidak semudah yang ia kira. Damar seolah tidak kehilangan akal. Pria itu tiba-tiba mengambil semangkuk ayam yang akan Kalila goreng. Membuat Kalila mendengus dan melayangkan tatapan tajam pada Damar.
"Ya Allah, please, Mas. Lebih baik kamu duduk diam aja. Urusan masak biar aku yang urus. O—"
"Aku nggak nerima penolakan," ucap Damar memutus ucapan Kalila.
"Kalo nggak nerima, kenapa tadi nanya mau atau enggak, sih?" Lama-lama, Kalila bisa kehilangan mood untuk memasak.
"Formalitas aja," sahut Damar mengulum senyum. "Aku cuma mau nawarin bantuan ke kamu. Entah itu menggoreng atau mencuci, apa pun akan aku lakuin."
Kalia mendengus. "Ya udah, kamu duduk manis aja, ya? Biar aku yang masak semuanya."
"Nggak bisa gitu."
Sumpah, demi apa pun perangai Damar kali ini sukses membuat Kalila kesal. Di awal tadi ia sudah aman tenteram memasak seorang diri. Eh, tiba-tiba Damar datang mengacaukan semuanya. Ya persis seperti kehidupannya saat ini sejak Damar datang tiba-tiba dan menjadi suaminya. Sepertinya peran Damar di hidupnya selalu terkait dengan ketiba-tibaan.
Tak ingin berdebat lagi, Kalila pada akhirnya memerintahkan sebuah pekerjaan mulia untuk Damar. Yakni mencuci semua peralatan kotor yang sudah menumpuk di wastafel. Seperti yang sudah dikatakan, Damar benar-benar melakukan apa yang diperintahkan Kalila dengan senang hati.
Kalila menoleh ke samping beberapa saat. Terlihat seorang CEO ternama yang banting setir mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pemandangan itu tentu merupakan pemandangan yang langka. Kapan lagi bisa lihat seorang CEO terkenal mencuci peralatan kotor? Memikirkan itu membuat Kalila tanpa sadar tersenyum tipis. Dan tanpa sadar pula, gadis itu tertangkap basah oleh Damar. Tertangkap basah telah memperhatikan Damar seraya tersenyum.
Iseng, Damar pun mencolek busa sabun piring ke hidung Kalila. Tak ayal membuat gadis itu tersentak kaget dengan kedua matanya yang memelotot.
"Mas, ih!" seru Kalila kesal. Busa di hidungnya mulai ia sapu menggunakan punggung tangan. "Jangan iseng!"
"Salahmu sendiri yang natap aku nggak kedip. Aku terlalu tampan, heh?" Damar menyeringai ketika mendapati reaksi Kalila yang salah tingkah. "Kamu banyak berubah. Aku suka," timpalnya kembali melanjutkan pekerjaannya mencuci piring.
Kalila mengedipkan matanya berkali-kali. Gadis itu menggeleng cepat, kemudian melanjutkan acara memasaknya yang sempat tertunda. Tanpa bisa dicegah, jantungnya berdetak begitu cepat di dalam sana.
Waktu berlalu sebagaimana mestinya. Tak terasa, Kalila sudah berhasil mencipta tiga jenis masakan yang ia buat sepenuh hati. Ya meski masih terpaku pada buku resep—tak bisa berimprovisasi sendiri—tidak apa-apa lah. Berhasil mencipta tanpa kendala dan cacat pun sudah merupakan kerja yang cukup memuaskan. Puncaknya adalah penilaian Damar terhadap masakannya.
"Ternyata capek juga lakuin pekerjaan rumah tangga." Damar mengusap rambutnya yang sedikit basah itu. Faktor dari tangannya yang tidak bisa diam ketika mencuci tadi. "Aku salut sama perempuan."
Kalila hanya menyungging senyum. Ia mulai menghidangkan tiga jenis masakan di atas meja. Ada ayam tepung goreng, sup daging, dan bihun oseng. Ketiga masakan itu memang sederhana dan sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di restoran. Mungkin juga berbeda dari apa yang sehari-harinya Damar makan. Ibaratnya seperti membandingkan antara loyang dan emas. Sangat jauh berbeda levelnya.
"Maaf. Cuma itu yang bisa aku buat," ucap Kalila sedih. "Aku harap kamu suka."
"Apa pun yang chef cantikku buat, pasti aku suka."
Kalila tidak bisa bersikap apa lagi selain diam menunduk menyembunyikan rona merah di kedua pipi. Pencapaian terbesar seorang perempuan adalah ketika berjaya di dapur. Mencipta cita rasa yang disukai suami dan mencipta senyum serta pujian tulus sang suami.
"Sempurna," ucap Damar tatkala mencoba masakan Kalila. "Sangat pas dengan lidahku," timpalnya tulus. Kembali, pria itu menikmati semua masakan yang terhidang. Tanpa menyadari bahwa Kalila hanya diam memperhatikan. Tak sedikitpun andil menikmati masakan yang terhidang.
Damar menatap ke depan. Mendapati Kalila yang hanya diam memperhatikan. "Nggak makan?" tanyanya heran.
"Ah, iya." Kalila tersenyum kikuk dan mulai menikmati hidangan di atas meja.
***
Kain kerudung yang melingkupi kepalanya melambai-lambai saat diterpa angin malam. Nyaris akan terbang kain itu jika saja tidak ada sebuah tangan yang menahan. Ketika menoleh, matanya langsung terpaku oleh mata sehitam jelaga itu. Terkesan tajam, tetapi begitu teduh terasa.
"Jangan sampai lepas," ucap Damar mulai membenarkan letak kerudung di kepala Kalila. "Nggak akan aku biarin seseorang bisa liat rambutmu, kecuali aku sendiri." Damar menempelkan hidungnya yang mancung pada puncak kepala Kalila. Dihirupnya perlahan aroma wangi yang menguar itu. Begitu candu sampai rasanya ingin berlama-lama di sana.
"Wangi. Aku suka," gumam Damar dengan kedua tangan yang mulai melingkar erat pada pinggang Kalila. "Nggak akan aku biarin seseorang bisa menyesap wangimu, kecuali aku sendiri," ucapnya mengulang kalimat yang serupa dengan yang di awal tadi. Hanya ada perbedaan di satu frasa saja, yakni menyesap wangi.
"You're mine." Damar menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kalila. "Nggak akan aku biarin seseorang bisa milikin kamu, kecuali aku. Hanya aku. Nggak ada yang lain. Hanya aku." Lagi dan lagi.
Kalila hanya bisa diam memaku. Kedua tangannya berdiam diri pada sisi kiri dan kanan tubuhnya. Tak ada niatan untuk balas memeluk Damar. Gadis itu hanya terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang dipenuhi oleh Damar yang perangainya itu terlalu sulit ia tebak.
Setelah resmi menjadi istri Damar, secara perlahan sifat pria itu mulai terlihat. Yang bisa Kalila nilai pada Damar adalah sifat posesif, protektif, keras kepala, dan egosentris. Semua sifat itu bak melekat erat pada seorang Damar. Bak saudara kandung pria itu sendiri. Dan semua sifat itu ditonjolkan Damar secara over. Berlebihan. Membuat Kalila heran dan rasanya tidak habis pikir.
Selain itu, yang membuat kalila semakin heran lagi adalah kegemaran Damar dalam mengulang ucapannya sendiri. Seolah penekanan, seolah penegasan, dan seolah peringatan. Entah alasan yang pasti apa, Kalila tidak tahu. Damar masih terlalu abu-abu. Sangat sulit untuk ditebak. Seperti kehidupannya yang akan datang bersama pria itu.
"Nggak ngantuk?" tanya Damar berbisik lirih. Dagunya ia tumpukan di bahu Kalila. Kedua tangannya masih melingkar erat di pinggang gadis itu.
"Jam berapa ini?" Bukannya menjawab, Kalila malah balas bertanya.
"Terakhir yang kulihat sebelum menyusulmu ke balkon itu sudah jam sembilan malam. Kemungkinan sekarang sudah dekat sepuluh malam."
"Hm, begitu. Yaudah, mending tidur aja. Kamu 'kan besok harus pergi ke bandara pagi-pagi." Kalila akan melepaskan diri dari pelukan Damar. Namun, sampai kapan pun tidak akan bisa selama Damar masih terlalu betah memeluk dirinya. Begitu eratnya.
"Mas, tolonglah," ucap Kalila memelas.
"Sebentar."
Kalila mendengus. Ia biarkan Damar dalam beberapa saat memeluk erat dirinya. Tak berapa lama, pelukan itu pun secara mandiri diurai. "Ayo tidur," ucap Damar menarik Kalila memasuki kamar. Pintu balkon kaca itu ia kunci, kemudian ditutupi dengan tirai berwarna abu-abu tua.
"Matikan semua lampu kecuali lampu hias," ucap Damar kepala Kalila. Pria itu sudah siap berbaring di ranjang.
Kalila melakukan semua yang Damar perintahkan. Setelah selesai, gadis itu pun mulai membaringkan diri di samping Damar. Dan seperti biasa, pria itu langsung mengungkung Kalila dengan dekapan erat.
"Selamat tidur. Mimpi indah," bisik Damar kemudian menghadiahi kecupan ringan di pelipis Kalila. Matanya mulai memejam. Namun, tidak benar-benar tertidur seperti hari-hari sebelumnya. Demi memastikan bahwa Kalila selalu berada di sisinya.
Dan Kalila, tidak menyadari hal itu sejak awal.
***
"Aku akan sangat merindukanmu," ucap Damar kepada Kalila yang tengah sibuk menyiapkan tas kerja dan sepatunya. "Haruskah aku pergi?" Mendengar itu, membuat Kalila menoleh dan mengembuskan napas perlahan.
"Harus," ucap Kalila penuh penegasan. Ia mendekat dan membantu Damar mengenakan jas sewarna arang itu. Ditepuknya perlahan pada beberapa bagian jas, sekadar untuk merapikannya. "Cuma sehari. Bukan waktu yang lama," timpalnya.
Damar tak bisa lagi mengelak. Pria itu hanya bisa diam menatap sang istri yang kali ini sibuk merapikan rambutnya. Tampak serius dan begitu telaten.
"Setelah aku kembali, jangan lupa sambut aku sama makanan terbaik ya, chef-ku yang cantik," ucap Damar menempelkan keningnya pada kening Kalila. "Oh ya, aku dapat kabar kalo Bunda sama Dara nggak bisa ke penthouse."
"Nggak pa-pa kali," balas Kalila santai. Lagi pula, sedari awal ia tidak berharap mereka ke penthouse. Damar saja yang meminta kehadiran mereka untuk menemani. Padahal, Kalila akan baik-baik saja di penthouse dengan keamanan terbaik itu. Damar saja yang terlalu banyak berpikir jauh tentang kesendiriannya di penthouse.
"Udah jam tujuh. Bergegaslah," ucap Kalila menjauhkan diri dari Damar. Gadis itu membuka lemari lalu meraih sebuah mantel di sana. Untuk melindungi Damar ketika berada di luar negeri nanti.
"Baik-baik di penthouse, ya?" Damar mengusap pipi Kalila dengan ibu jarinya. "Kalo sesuatu yang buruk terjadi, hubungi saja aku. Oke?"
Kalila hanya membalas dengan gumaman. Ia dan Damar kini sudah berada di depan pintu keluar penthouse mereka. Di luar sana, sudah ada Rudi yang berdiri menunggu sang atasan menampakkan batang hidungnya. Sudah terlalu lama pria itu menunggu, terlihat dari air wajahnya yang tampak jemu itu.
Kalila tahu bahwa di luar sana ada yang sudah menunggu lama seorang Damar. Gadis itu secara mandiri mulai membukakan pintu. Sebelum benar-benar terbuka, Damar tiba-tiba menahan tangannya. Membuat gadis itu menoleh dan mendapati raut memelas seorang Damar.
"Mas. Jangan berlebihan. Pak Rudi udah nunggu kamu di luar, tahu. Kasihan. Bergegaslah. Nanti kamu ketinggalan pesawat." Kalila mendengus. Lama-lama kesal juga ia menghadapi sifat over seorang Damar.
"Aku ingin minta satu permintaan," ucap Damar yang lantas membuat kerutan heran tercipta pada Kalila.
"Apa?"
Damar mengetuk bibirnya. Isyarat untuk sang istri. Namun, dasarnya Kalila yang terlalu lugu, sehingga tidak memahami isyarat itu.
"Cium aku."
Langsung saja Kalila merasakan wajahnya memanas. Bukan hanya wajah saja, tapi seluruh tubuhnya. Darah yang ada di seluruh tubuhnya itu seolah mengalir jauh dari kebiasaan. Begitu pula dengan detak jantungnya kini. Detakannya jauh lebih hebat. Menggila di dalam sana. Menggedor-gedor dadanya, seolah meminta untuk keluar dari tempat itu sekarang juga.
"Kalo kamu nggak mau, aku nggak bakal pergi."
Oh, God, demi apa pun. Damar selalu sukses membuatnya tidak bisa berkutik. Selalu saja begitu.
Mau tidak mau, Kalila harus segera melakukannya. Dengan keberanian yang mulai terkumpul, gadis itu mulai berjengket. Secara cepat ia hadiahkan Damar kecupan ringan. Setelahnya, gadis itu menunduk. Menyembunyikan wajah merah padamnya.
"Manis," ucap Damar menyeringai. Pria itu kemudian membuka pintu penthouse dan langsung mendapati aura wajah jemu empunya Rudi.
"Maaf. Ayo kita pergi," ucap Damar santai.
***
Mas Damar
[Selama aku nggak ada di Indonesia, kamu nggak boleh bepergian jauh. Cukup didekat kawasan apartemen saja. Kalo kamu ngelanggar, siap-siap menerima hukuman. Oh ya, aku bakal nelpon kamu di jam makan siang. Jadi, ingat itu dan tunggu telponku.]
Kalila cengo mendapati pesan yang baru masuk beberapa menit yang lalu. Baru saja tebersit niat untuknya pergi menuju yayasan. Bahkan ada niatan untuk menginap di sana. Namun, semua itu tidak bisa ia lakukan. Biar bagaimanapun, ia tidak bisa bergerak bebas seperti dahulu, ketika belum berganti status menjadi istri orang. Ia udah terikat perjanjian pernikahan. Kalau suami bilang A, ya harus A. Perintah suami adalah mutlak. Harus menurut kalau tidak ingin dikata durhaka.
Bibirnya melengkung lucu. Kalila bertumpu dagu di atas meja. "Ibu dulu gini juga nggak ya sama Bapak," gumamnya pelan. Membayangkan kehidupan mendiang sang ibu bersama bapak. Andai kata mereka masih hidup, mungkin Kalila ingin mendengar kisah mereka sewaktu baru-barunya menikah.
Kalila mengembuskan napas pelan. Tiba-tiba timbul keinginan besar untuknya pergi ke minimarket hanya untuk membeli cemilan. Gadis itu berpikir sejenak. "Kalo nggak salah ada minimarket deket apartemen," gumamnya. Senyum pun terbit pada bibir tipisnya. "Oke, itu nggak masalah. Aku pegen banget cokelaat!" Bergegas gadis itu menuju kamar hanya untuk berganti pakaian yang jauh lebih tertutup. Tak lupa ia ambil dompet di sana.
"Cuma ke minimarket. Mas Damar nggak bakal marah kok." Kalila mendekatkan kartu akses ke sensor dekat gagang pintu. Setelah berhasil, gadis itu pun membukanya secara perlahan.
"Mau ke mana, Nyonya?"
Tiba-tiba ada dua orang pria kekar berpakaian serba hitam yang menghadang Kalila di depan pintu.
Haruskah aku berteriak?
Bersambung ....