Turun dari mobil, Damar kecil mengembangkan senyumnya begitu lebar. Bersama mata memancar cerah tatkala mendapati eksistensi sekolah yang sudah sedari dulu ia idamkan. Sampai, pancaran mata cerah itu berangsur ubah menjadi muram. Senyum pun tak lagi tersimpul. Sebab, didapatinya sekumpulan anak-anak sebaya dengannya yang rata-rata diantar oleh kedua orang tua. Mungkin, bisa dikatakan bahwa Damar lah seorang diri yang hanya diantar oleh sang bibi. Genggaman tangannya mengerat di tangan sang bibi. Bibi menyadari hal tersebut. Wanita itu mengusap puncak kepala Damar dengan lembut. "Yuk, masuk. Pasti udah ditunggu sama guru di kelas." Ucapan itu sekaligus mengalihkan Damar kecil dari perasaan sedihnya. "Mau Bibi gendong nggak? Hehe." "Ih nggak mau, Damar udah gede tau. Ntar malu sama temen-t

