Ingin teriak tapi Zea tahan melihat tempat dia berada saat ini. Wajah Zea panas. Merasa kelopaknya sudah penuh dengan air mata yang siap terjun bebas membasahi pipinya. Menumpahkan kopi dan mengenai skripsi kakak seniornya bukanlah tujuannya. "Ze, kamu kenapa?" tanya Dirga yang kembali ke ruang kerjanya karena ada sesuatu yang tertinggal dan dia hendak mengambilnya. Dia menemui Zea tengah menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ze," panggil Dirga dan dia memaksa menarik tangan gadis itu. Wajah Zea sudah basah dengan air matanya, dia menangis. "Hei, kenapa? Ada apa? Kenapa nangis?" tanya Dirga panik sembari mencari tisu dan memberikannya pada Zea. Zea masih terisak. "Kamu tenang dulu yah, nih minum dulu." Bukan hanya memberikan tisu, dia juga memberikan segelas air mineral dari dispen