Bab 1

1047 Words
Dari lantai atas, Annisa menjadi saksi atas pernikahan kedua suaminya, di balik cadarnya dia tersenyum meskipun hatinya tengah terluka. Wardah Kaera adalah wanita pilihan Ibu mertuanya dan tak lain adalah teman dekat Annisa, Wanita pilihan yang katanya memiliki kesuburan dan bisa memberikan keturunan. Dua tahun menikah bukannya mendapatkan kado istimewa dari sang suami, Annisa justru mendapatkan pernikahan kedua Rayyan. Yang membuat Annisa sakit bukan karena pernikahannya, melainkan pengkhianatan nya, ternyata wanita itu sudah hamil. Cinta dan kesetiaan itu hanyalah omong kosong. Annisa rela mengorbankan segalanya, dia meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen dan fokus pada rumah tangganya. Selain itu Annisa juga mendapatkan caci maki dari sang Ibu mertua, dia tidak pernah mengeluh tentang semau itu, selama Rayyan tidak mengkhianatinya. Di bawah sana, Wardah sudah mencium punggung tangan Rayyan, keduanya terlihat sangat bahagia. Annisa tidak sanggup lagi menyaksikannya dan membuatnya merasa mual, terlebih ketika dia membayangkan suaminya bermadu kasih dengan perempuan lain sebelum adanya ikatan pernikahan. Annisa memejamkan matanya untuk sesaat, sampai butiran bening menetes begitu saja, dadanya terasa sesak, entah sajak kapan suaminya mengkhianati dirinya. Dering ponsel terdengar, Annisa melihat kearah ponselnya. Sebelum mengangkat panggilan dari sang Ayah, dia beranjak pergi dan masuk kedalam kamarnya. Annisa: Assalamualaikum. Papa: Waalaikumsalam, kok lama? Begitulah Tuan George selalu merajuk jika sang putri terlalu lama mengangkat panggilannya. Pria tua itu terlalu posesif. Annisa: Nissa lagi honeymoon, Pa, bukannya Papa ingin cucu? Annisa merasa tercekik tenggorokannya, dia memberikan alasan yang mungkin dipercayai, karena saat ini Annisa tengah berada di luar negeri. Papa: Kamu menangis? Annisa memejamkan matanya, dia menggelengkan kepala seakan sang Ayah bisa melihatnya. Air matanya kembali terjatuh. Annisa: Iya pa, Nisa habis nangis, tangis bahagia. Papa: Benarkah? Dimana suamimu? Annisa menjawab dengan memberikan berbagai alasan, sampai akhirnya sang Ayah menutup panggilan teleponnya. Selang beberapa menit suara ketukan pintu terdengar, Annisa menghapus air matanya dan membenarkan cadarnya, dia sangat yakin jika yang mengetuk pintu itu suami dan adik madunya. Perlahan wanita cantik itu bangkit dan membuka pintu, benar saja tebakannya, Rayyan dan Warda ada di depan pintu, keduanya tersenyum tanpa rasa bersalah. Dalam hati Annisa tersenyum miris, inikah yang katanya menikah karena terpaksa? Nyatanya suaminya terlihat sangat bahagia dan lagi sudah menjamahnya sebelum ada ikatan pernikahan. “Ada apa?" Tanya Annisa suaranya terdengar dingin dan datar. Tatapan matanya yang biasa penuh cinta kini sama sekali tidak terlihat oleh Rayyan. Pria itu cukup tertegun, lalu dia menggelengkan kepalanya. kembali tersenyum. “Sayang, ini Warda... " “Mas tidak perlu mengenalkannya, kita sudah cukup saling mengenal, iyakan Warda?" Sela Annisa menaikan sebelah alisnya. Warda mengangguk pelan, dia merasakan hal yang sama seperti Rayyan, Annisa yang dia kenal sangat lembut, tidak pernah bicara ketus seperti saat ini. Rayyan hendak meraih tangan Annisa, tetapi dengan cepat wanita cantik itu penepisnya. “Kamar kalian sebelah sana." Annisa menunjukkan kamar sebelah. Rayyan menggeleng. “Sayang, malam ini Mas.. " “Malam ini aku ingin tidur sendiri, kau temani saja Warda yang lebih membutuhkanmu Mas." Lagi Annisa menyela kalimat suaminya. Rayyan kembali tertegun, apakah istrinya mengetahui sesuatu tentang dirinya dan Warda? Annisa benar-benar berbeda. “Mbak, Mas Rayyan sudah membagi jatah untuk kita, malam ini bagian Mbak Nisa." Timpal Warda, wanita itu sebenarnya merasa tidak enak hati, dia sadar sudah mengkhianati sahabatnya. Annisa tersenyum tipis di balik cadarnya. “Jatah?" Ulanganya, Warda dan Rayyan mengangguk kompak. Namun detik kemudian Nisa tertawa merasa geli mendengar kalimat JATAH. tawanya membuat sepasang pengantin baru itu kebingungan. Annisa tidak akan sudi dijamah lagi oleh pria itu, dia merasa jijik. “Gak Ah.. Buat kamu aja." Jawabnya lalu berbalik badan dan kembali masuk kekamarnya, menutup pintu cukup keras sampai membuat kedua orang itu tersentak. Warda melihat kearah Rayyan yang masih menatap pintu kamar Nisa. “Mas.. " Rayyan menoleh. “Hmm, gak apa-apa, Nisa butuh waktu untuk menerimamu, sekarang kamu istirahat dulu." Titahnya. Dengan patuh wanita itu masuk kedalam kamar yang bersebelahan dengan Annisa. Sementara Rayyan masih berdiri di depan pintu, tatapannya berubah sendu. “Annisa, maaf.. Maaf aku telah menyakitimu." Gumamnya pelan. “Rayyan, sedang apa kamu?" Tiba-tiba suara Fatimah yang tak lain adalah ibu Rayyan mengagetkannya. Rayyan menoleh. “Annisa, Ummi." Lirihnya. Fatimah menghela nafas panjang, lalu berdecak kesal. “Kenapa? Wanita mandul itu merajuk?" Sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Nisa. “Ummi!! Annisa gak mandul, hanya... " “Hanya apa? dua tahun kalian menikah belum juga ada hasilnya, apa namanya kalau bukan mandul?" Fatimah sejak awal memang tidak menyukai Nisa, maka wanita tua itu selalu menjadikan cucu sebagai alat untuk melampiaskan ketidaksukaannya. “Astaghfirullah, Ummi, istigfar, jangan bicara seperti itu, aku sudah cukup menyakitinya dengan menikahi Warda." Ujar Rayyan, dia sangat mencintai Nisa yang menjadi cinta pertamanya. Fatimah tidak perduli. “Warda memang pantas menjadi istrimu, sudah sana masuk jangan membuat Warda menunggu." Sementara itu di dalam kamar, Annisa hanya diam meskipun ucapan Ibu mertuanya sangat menyakitkan. Wanita itu tidak akan menangis lagi, sudah cukup air matanya keluar untuk hal yang tidak penting. Annisa hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu keluarganya, dia akan bertahan sampai benar-benar muak. Banyak hal yang sedang Annisa pertimbangkan, Ayah mertuanya begitu baik padanya, jika sampai Ayahnya mengetahui sekarang, sudah pasti Tuan George akan membuat keluarga Rayyan membayar dengan kehancuran. Perusahaan dan Pesantren milik Ayah Rayyan bisa bertahan sampai detik ini karena bantuan dari Tuan George, Annisa tidak mau memperngaruhi itu semau, dia akan mencari waktu yang tepat tanpa melibatkan perusahaan ataupun pesantren. Dilain kamar Warda duduk disofa panjang, senang akhirnya Rayyan menikahinya meskipun menjadi yang kedua tidak masalah, tetapi dia juga merasa sedih sebab sudah bisa dipastikan jika Nisa tidak akan lagi sama seperti dulu. Warda mengusap perutnya yang sedikit membuncit, beruntung ada calon bayi dalam perutnya, sehingga Rayyan tidak mengulur waktu lagi untuk menikahinya, terlebih Fatimah begitu menyukai dan mendukungnya. Wanita itu melihat sekeliling, kamarnya tidak seluas kamar milik Nisa, perlengkapannya juga tidak lengkap seperti di kamar Nisa, semua memiliki perbedaan. Wanita itu berjalan ke arah lemari pakaian, dia melihat apa yang di kenakan oleh Nisa sebuah memiliki brand ternama, tas mahal dan sepatu mahal. Jika Nisa bisa memiliki itu semua, sudah pasti Rayyan juga akan memberikannya juga. Dengan semangat membukanya, tetapi semua tidak sesuai dengan keinginannya. Pakaian tidak ada yang berubah, semua masih sama seperti miliknya. Lalu membuka laci dan kotak perhiasan. Matanya melebar. “Tidak mungkin." Tidak ada barang seperti yang dia harapankan. Tentu saja Warda merasa semua ini tidak adil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD