"Aaarkkhhh!! Sial! Ini semua gara-gara Oliv!"
Ethan pun segera pulang dengan d**a yang bergemuruh. Semua menjadi berantakan semenjak kehadiran Olivia. Ethan merasa tertipu dan juga terjebak. Dan kini, saat puncak gairah sudah berada di ujung rudalnya, dia terpaksa harus menahannya karena pengakuan yang telah diberikan oleh Olivia kepada Maya.
Sebuah pengakuan yang akhirnya menghancurkan hubungannya dengan Maya. Kali ini dia sudah tidak bisa tinggal diam lagi. Dia harus segera menyelesaikan semuanya.
Ethan melajukan kendaraannya dengan cukup kencang, hingga dia bisa lebih cepat sampai di rumah. Tanpa mengetuk pintu, dan juga tanpa mengucap salam terlebih dahulu, Ethan masuk ke dalam rumah begitu saja.
"Olivia!" serunya saat sudah memasuki ruangan.
"Eh, Mas. Sudah pulang?" Oliv tetap menyambut kedatangan Ethan dengan senyum manis yang terlukis di bibirnya.
"Kamu --,"
"Darimana saja kamu, Ethan? Bukankah aku sudah bilang ke kamu kalau aku akan datang untuk makan malam?" Suara Arya terdengar tiba-tiba. Menghentikan jari telunjuk yang tadinya sudah Ethan layangkan di hadapan Oliv.
Memang benar jika pada pertemuannya siang tadi dengan Arya seusai rapat besar pelelangan sebuah resort, Arya sempat mengatakan jika malam ini ia akan datang untuk makan malam bersama. Tentu saja itu hanyalah semua alasan bagi Arya untuk dapat melihat anaknya. Sialnya, kenapa bisa Ethan melupakan hal itu.
"Iya, Mas. Papa udah nungguin Ma Ethan dari tadi," ucap Oliv seolah tidak terjadi apapun di antara mereka sebelum ini. Ethan pun mencoba untuk mengendalikan diri dan juga amarahnya kepada Oliv di depan Arya.
"Kamu habis lembur? Wajahmu terlihat lelah sekali, Ethan?" tanya Arya kemudian.
"Hanya ada sedikit pekerjaan harus segera diselesaikan, Ar," jawabnya sekenanya.
"Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Arya di sela acara bincang-bincang yang sedang mereka lakukan saat ini. Matanya menatap tajam padam putrinya dan juga pada Ethan secara bergantian.
"Kenapa, Pa. Kami baik-baik saja, kok. Iya kan, Mas?" Olivia menoleh pada Ethan.
'Baik hanya buatmu, tapi bukan buatku,' batin Ethan.
"Bukan apa, tapi dengan jarak dan rentang usia kalian yang terlalu jauh, Papa harap hubungan kalian akan tetap baik-baik saja. Keributan kecil seringkali datang, tapi jangan biarkan hal itu menjadi keributan yang lebih besar." Sebagai seorang ayah, Arya mencoba untuk memberi wejangan. Sedang sebagai seorang sahabat, di mencoba untuk memberi nasihat kepada Ethan.
"Aku sudah mempercayakan Oliv padamu, Ethan. Aku harap, kamu bisa menjaganya dengan baik," ucap Arya kemudian.
Setelah cukup berbincang-bincang, Arya pun segera pulang ke rumahnya. Arya memang selama ini tinggal bersama dengan Olivia. Dia merasa begitu sepi setelah Olivia tinggal bersama Ethan. Rasa rindunya sebagai seorang ayah pastinya ada, karena memang saat ini Arya jarang melihat tingkah manja Olivia.
Setelah mendengar deru mobil Arya yang melaju pergi, Ethan langsung berdiri dan menghardik Olivia. "Apa yang kamu lakukan tadi, Liv?"
Olivia sendiri masih mengunyah kue coklat yang masih memenuhi mulutnya dengan santai.
"Yang mana, Mas?" tanyanya tidak jelas dengan mulut yang penuh.
"Apa maksudmu mengatakan semua hal ini sama Maya? Bukannya kamu juga tau kalau pernikahan ini terjadi karena kamu yang menjebakku?" ucap Ethan.
"Lagipula aku ada di kantor, bagaimana bisa kamu mengatakan kalau aku nge-mall sama Maya?" lanjut Ethan bersungut-sungut.
Olivia masih diam, mengambil dan kemudian menyerahkan ponselnya pada Ethan. Beberapa tombol ia tekan, dan saat ini, layar ponselnya tengah menampilkan rekaman kemesraan saat Ethan berjalan di pusat perbelanjaan sembari merangkul pundak Maya.
Setelah kue yang dimakannya habis, Olivia lantas mengambil gelas berisi air putih yang sudah tersedia di atas meja. Ia meneguknya dan lantas berkata, "Di kantor nggak ada yang jual underwear kan, Mas?" tanya Olivia yang lantas merapatkan kedua matanya, senada dengan lengkungan garis yang tercetak di bibirnya.
Ethan pun hanya bisa meneguk saliva karena ternyata Olivia bahkan mempunyai bukti yang nyata. Video itu ia dapatkan dari Cyril yang memang sedang berada di tempat yang sama.
"Oliv," desis Ethan.
"Apa, Mas?"
"Kamu itu ..., Argh!" Ethan hanya bisa menahan emosinya dan melampiaskannya dengan sebuah pukulan yang ia daratkan di meja. Seandainya saja ia tidak melihat Arya sebagai ayah dari gadis yang baru beberapa hari menjadi istrinya itu, entah apa yang akan dilakukannya pada Oliv.
"Sudahlah, Mas. Sekarang istrirahatlah, dan jangan diulangi lagi. Atau Mas Ethan akan menyesal." Olivia pun segera berlalu begitu saja dari hadapan Ethan.
Olivia sendiri sebenarnya sangat menyayangkan perbuatan Ethan yang tega pergi bersama dengan Maya tanpa sepengetahuannya. Namun seperti apa yang telah di sarankan oleh Cyril di sekolah tadi, maka ia masih berusaha untuk diam.
Ya, dia akan mencoba melakukannya. Oliv akan berusaha untuk bisa menaklukkan hati Ethan. Biar bagaimanapun kini dia telah resmi menyandang status sebagai istri Ethan.
--
Berbeda dengan apa yang Olivia pikirkan saat ini, Maya justru sedang merasa lemah. Dia benar-benar merasa di titik terendah dalam hidupnya. Bagaimana bisa lelaki yang selama dua tahun terakhir ini telah mengisi hatinya, dan telah menghabiskan waktu bersamanya, tiba-tiba saja telah menikah dengan wanita lain.
Mungkin jika wanita itu bukan Olivia, Maya akan berusaha untuk bisa memakluminya. Tapi ini benar-benar sesuatu hal yang tak terduga. Ethan, kekasihnya, telah menikahi seorang gadis yang baru saja lulus SMA, ya meskipun sekaranfmg dia sudah kuliah. Sungguh tak masuk diakal bagi Maya. Meskipun dirinya sendiri belum tahu apa alasannya.
Maya benar-benar hancur dan juga terpukul dengan kenyataan ini. Hatinya terasa remuk, remuk yang tak lagi bisa dijelaskan. Tubuhnya luruh, bersandar pada tepian sofa. Isak tangisnya masih terus terdengar meskipun Ethan sudah tak lagi berada di sana.
"Mampukah aku hidup terpisah darimu, Ethan?" lirih Maya di sela isak tangisnya.
Sejenak, dia membenamkan wajahnya di sofa itu. Melepaskan derai air mata yang seolah tak ingin berhenti. Dia sama sekali tak bisa membayangkan, bagaimana bisa Ethan meninggalkannya untuk seorang gadis yang baru beranjak dewasa seperti Olivia.
Maya mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah meja makan. Di sana terdapat piring besar yang berisi buah-buahan di atasnya. Dengan langkah yang terlihat gontai, Maya beranjak untuk mengambil pisau buah yang ada di atasnya. Senyum mengerikan tercetak jelas di wajahnya, dan kemudian ia mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, jal*ng. Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya memang menjadi milikku. Aku akan membuat hidupmu menderita, bahkan sangat menderita. Ha ha ha ...!!!"
Maya berucap dengan mata yang memerah, memerah karena menahan amarah yang dalam terhadap Olivia.
Jruk!
Setelahnya dia menancapkan pisau itu di meja makan. Maya berteriak histeris karena rasa sakitnya di dadanya. Dia merasa jika seharusnya dirinyalah yang merasakan segala kenikmatan serta kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang sebenarnya sudah ia rancang bersama Ethan. Kini semua angan itu harus kandas dan hilang selamanya setelah kehadiran Olivia di antara mereka.